Boss Gila

Boss Gila
81. Dosa Besar


__ADS_3

Hasil mutilasi ayam telah tersaji di atas meja berwarna kuning, untuk dijadikan sarapan.


Satu hal yang Gamya pahami mengapa Cindekia suka makan. Pagi, siang, dan malam, keluarga Cindekia makan nasi lengkap dengan lauk pauknya.


Isman digiring Salahuddin ke ruang makan.


"Silahkan Pak Isman!" Salahuddin memindahkan bakul nasi ke dekat Isman.


Isman dengan khusyuk menyendok nasi dari bakul dan menuangkannya ke atas piring. Ia tentu harus mengisi banyak bahan bakar, mengingat nanti dirinya akan mengantarkan tuannya dengan baik kembali pulang ke rumahnya.


Di sisi lain, Cindekia menggenggam erat tangannya. Ia tidak mengerti mengapa ayahnya bersikap dingin kepadanya dan juga pria yang telah menjadi suaminya.


Di kampungnya, dan kampung sebelah, dan juga sebelahnya lagi tidak sedikit pasangan yang disambut dengan suka cita atas kelahiran bayi pertama mereka yang usia kandungannya hanya empat bulan setelah menikah.


Bahkan acara tujuh bulan yang diadakan di waktu dua bulan diadakan dengan meriah.


Sementara Ia tidak memiliki bayi di perutnya. Namun ayahnya bersikap seolah Ia akan melahirkan besok.


Gadis itu telah menguras air matanya dan meminta maaf kepada ayahnya karena telah membiarkan seorang pria menyentuhnya karena uang. Tidak, mungkin saat itu sudah karena cinta.


Tetapi ayahnya masih bergeming, seperti telah menutup pendaftaran permohonan maaf.


Suasana di meja makan sangat tenang, tiada yang berani memulai pembicaraan.


Ingin protes tidak bisa, hanya cemberut yang Ia bisa.


Cindekia memindahkan beberapa sendok nasi dari bakul ke piring Gamya. Tak cukup sampai disitu, potongan gulai Ayam yang paling besar Ia pindahkan ke piring suaminya.


Sambal kentang jeroan ayam juga tak luput dari incaran Cindekia, tidak ketinggalan rebusan pucuk daun ubi.


Dan sentuhan terakhir kerupuk udang.


"Sayang?" bisik Gamya menghentikan Cindekia yang akan mengambil mangkuk ikan tauco. Ia sudah dibuat pusing bagaimana menghabiskan semua yang diletakkan Cindekia ke atas piringnya.


Diliriknya Cindekia yang memasang wajah murung, begitu juga dengan ibu mertuanya akibat kesalahan paham yang sengaja dibuatnya.


Ia lebih memilih untuk mulai menghabis tumpukan makanan di depannya. Masalah juga akan bertambah jika dirinya mengklarifikasi perkataannya.


...π π π...

__ADS_1


Pukul 10:00 pagi, suasana ruang tamu rumah keluarga Salahuddin hanya diisi oleh empat pasang bola mata. Rinai hujan jatuh ke bumi terlihat dari balik jendela yang terbuka lebar. Saat musim hujan, rinai rinai hujan akan dengan senang hati bermain terus seharian.


Beruntung semalam mereka absen seharian. Beberapa tetangga beranggapan keluarga Cindekia menggunakan jasa pawang hujan untuk acara akad nikah putrinya. Nyatanya, ayahnya mendoakan hujan turun.


Cindekia sungkeman pamit kepada kedua orang tuanya.


Gamya yang tidak mengerti, dipaksa Cindekia untuk ikut melakukan apa yang tengah Ia lakukan.


Kedua orang tua Cindekia pun demikian. Meski tradisi itu bukan bagian dari adat mereka, terpaksa harus duduk mengikuti apa yang dilakukan putrinya.


Sementara Cindekia mengetahui tradisi sungkeman saat menghadiri pernikahan temannya.


Meskipun kecewa, Cindekia tetaplah putri semata wayang mereka. Hati orang tua mana yang tidak bisa memaafkan kesalahan putrinya.


Cindekia mencium kedua tangan ayahnya dengan takzim, "Bapak, Kia pamit pergi. Bapak sehat- sehat. Maafkan Kia yang belum bisa menjadi putri berbakti yang bisa Bapak banggakan."


Salahuddin menepuk pundak putrinya, tidak ada kata yang Ia ucapkan. Ia hanya memiliki satu putri. Jika ada satu lagi, Ia mungkin tidak segan- segan memutuskan hubungan dengan Cindekia.


Cindekia bergeser dan lanjut mengapit kedua tangan ibunya. Dengan sesenggukan diciumnya kedua tangan yang sudah mulai berkerut dan pembuluh darah yang mulai menonjol itu.


"Ibu, Kia pamit pergi. Ibu sehat- sehat. Maafkan Kia yang belum bisa menjadi putri berbakti yang bisa Ibu banggakan," ucap Cindekia mengulangi kembali perkataannya. Ia sangat tak pandai merangkai kata.


Nuraini menghapus air matanya yang keluar tanpa permisi, "Kamu sudah hamil berapa bulan Kia?"


Gamya tak jadi sungkeman.


"Hamil?" tanya Cindekia heran menatap wajah yang baru saja bertanya, derai tangisnya terhenti seketika.


"Ibu, bulan madu..." Cindekia berdiri, tak jadi melanjutkan perkataannya. "Tunggu dulu, jadi Bapak dan Ibu semarah ini dengan Kia karena mengira kami telah melakukan perbuatan dosa besar?!" matanya membuka lebar.


Gamya hanya menggaruk pelipisnya, akhirnya istrinya sadar juga.


"Pak, Bu, Pak Gamya itu hanya mencium Kia, di sini dan di sini" Ia menunjuk jidat dan sebelah pipinya sambil memelas, berharap kedua orang tuanya memaafkannya dengan kesalahan itu.


"Lalu mengapa kemarin orang itu berkata kalian telah melakukan dosa besar itu?!" Salahuddin akhirnya buka suara, nada suaranya masih memperlihatkan kemarahan.


"Itu karena putri Anda sangat menghormati Anda, dan Saya menginginkan putri Anda," Gamya yang telah berdiri di sebelah Cindekia merangkul bahu istrinya.


Jika memperpanjang dramanya, maka perjalanan mereka akan tertunda.

__ADS_1


"Terima kasih sudah memberikan putri Anda. Saya akan membawa istri saya."


Tiga pasang mata tercengang mendengar pidato Gamya yang tiba- tiba bersikap dingin memperlihatkan wajah seriusnya.


Gamya memasang senyumnya menoleh kearah Cindekia yang masih dalam rangkulannya. Kedua mata gadis itu masih tercengang mendongak menatapnya.


"Kita pergi, Sweetie." ucapnya lembut membawa Cindekia balik arah dan berjalan menuju pintu keluar yang terhubung dengan tangga teras depan rumah.


Tinggallah kedua orang tua Cindekia yang masih duduk terpegun. Apakah segera menikahkan putri mereka adalah keputusan yang salah?


"Tu-tunggu dulu Pak," Cindekia kembali menjulurkan kepalanya keluar.


Namun Gamya kembali mendorongnya masuk dan menutup pintu mobil dari luar.


"Tunggu dulu, Nak Gamya!" Salahuddin menyusul keduanya.


Gamya memasang senyum di wajahnya sebelum membalikkan badannya menghadap mertuanya.


"Kami ingin berbicara dengan putri kami secara pribadi!" tegas Salahuddin.


"Saya tidak mengizinkannya, Kami harus pergi." ucap Gamya tak kalah tegas.


Jawaban Gamya membuat Salahuddin berang, bagaimana bisa orang yang baru dua hari menjadi menantunya mampu bersikap kasar begitu kepadanya. "Kau! Dia adalah putriku, Kau tidak bisa membawanya jika Aku tidak mengijinkannya!"


"Aku bisa, putrimu sudah menjadi tanggung-jawabku sepenuhnya. Bukankah begitu, Ayah mertua?"


Salahuddin semakin meradang mendengar jawaban kasar yang menentangnya, Ia merasa menyesal memutuskan tergesa-gesa meminta Gamya untuk menikahi putrinya hanya karena pria itu mengatakan secara tidak langsung telah menghamili putrinya.


"Bapak!" terdengar suara kia yang tiba-tiba membuka kembali pintu mobil, memanggil ayahnya. Seperti anak yang terpisah 20 tahun dari orang tuanya.


"Mengapa Kau keluar lagi, Hun?" suara lembut yang keluar dari mulut Gamya ditujukan kepada istrinya. Tawa lembutnya tidak kalah lembut dengan suaranya.


"Bapak habis dimarahin sama bapak saya, ya?" Cindekia berbisik di telinga Gamya. Ia tidak mendengar pembicaraan keduanya.


"Tidak," balas Gamya.


"Tenang saja, Pak. Saya akan berbicara dengan bapak saya." Cindekia memperlihatkan wajah penuh keyakinannya.


"Sweetie, itu tidak perlu."

__ADS_1


Namun, Cindekia bersikeras menyingkirkan tangan Gamya yang menghalanginya.


Gamya yang tidak bisa menolak keinginan Cindekia, menyingkirkan tangannya. Keinginannya untuk cepat sampai ke rumahnya menjadi tidak terwujud.


__ADS_2