
Setelah makan, Cindekia mengajak Gamya untuk menelusuri kota tua di Ljubljana. Kali ini Ia harus benar-benar pergi berlibur, berbelanja dan berfoto.
Gamya mengajak Cindekia naik kereta berdinding kaca yang ditarik oleh kabel, untuk menuju Ljubljana Castle. Gerbong yang mereka tumpangi juga ramai diisi oleh wisatawan lain. Tidak masalah bagi Gamya karena bisa mencuri kesempatan berada dekat dengan Cindekia yang terpana melihat pemandangan kota Ljubljana dari ketinggian.
Sepanjang perjalan pulang ke rumah, Cindekia tersenyum-senyum melihat hasil jepretan yang Ia ambil di layar ponselnya.
"Apa Kau senang karena sudah mengkoleksi banyak fotoku?" sindir Gamya yang sedang mengendarai mobilnya.
"Hah?" Cindekia langsung menutup layar ponselnya. Apa dia melihatnya?
"Aku tahu Kau bolak-balik mengambil fotoku diam-diam,"
Seketika wajah Cindekia memerah malu, "Itu perasaan bapak saja, Saya mengambil penampakan yang ada di belakang Bapak, penampakan bapak justru membuat hasil fotonya nggak bagus nih!"
"Apa nanti diedit saja ya, dicrop gitu," gumam Cindekia kemudian, untuk lebih meyakinkan Gamya.
"Maaf, sudah merusak hasil fotomu." Gamya terpaksa harus menahan tawanya.
Setibanya mereka di kediaman keluarga Gamya, seorang pelayan membukakan pintu menyambut kepulangan Cindekia dan Gamya.
"Di mana kedua orang tua bapak? Saya harus memberi salam kan?" bisik Cindekia.
"Mereka sedang pergi berbulan madu,"
"Hah?"
"Selamat malam Nona," seorang pelayan wanita yang pernah melayani Cindekia saat pertama kali Ia menemui kedua orang tua Gamya, datang menghampiri.
"Enam akan mengantarmu ke kamar, pergilah mandi dan temui Aku setelahnya. Mengerti?" Gamya memberi instruksi kepada Cindekia.
"Baik,"
Enam mengantar Cindekia hingga ke depan pintu kamar, "Nona, silahkan masuk. Air hangatnya sudah Saya siapkan," Enam membukakan pintu untuk Cindekia.
"Oke,"
Terasa kaku sejak tadi, tetapi Cindekia malas untuk protes. Ia sangat lelah sehabis berjalan.
Ia hanya bisa patuh, dan pergi mandi untuk menghilangkan lelahnya.
Di ruangan Lain, Gamya menghubungi saudarinya.
"Apa yang Kau katakan kepadanya?" tanya Gamya begitu Ganeeta menjawab panggilannya
"Apa Kau sudah bertemu dengannya?" goda Ganeeta.
Gamya mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan saudarinya, "Jadi Kau tahu dia akan datang menemuiku?"
__ADS_1
"Umm, Ya."
"Mengapa Kau tidak memberitahuku?"
"Kejutan!" ucap Ganeeta terdengar bahagia.
Namun Gamya terlihat tidak senang dengan kejutannya, "Apa Kau tahu, itu berbahaya membiarkan anak yang selalu tersesat sepertinya pergi seorang diri?" omelnya.
Ganeeta menanggapi omelan Gamya dengan tawa, "Tenanglah, Aku meminta Mark menjemputnya, Aku tahu Kau akan membunuhku jika terjadi sesuatu kepadanya,"
"Sampai kapan Kau akan tinggal di rumahku?" tanya Gamya mengganti topik pembicaraan.
"Sampai Aku bosan," jawab Ganeeta ala kadarnya. "Hey Gamya, Kau kan sudah bertemu dengan pacarmu. Ingat, Kau harus memberiku imbalan."
"Aku tutup teleponnya." Gamya langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban saudarinya. Ia juga harus mandi membersihkan dirinya yang telah lelah seharian.
*
🐱 🐱
*
Di kamarnya, Cindekia yang telah selesai mandi melihat pantulan dirinya di cermin, Ia memoles lipstik di bibirnya dan tersenyum semringah.
"Apa Aku mau menggodanya?" protes Cindekia pada dirinya sendiri, Ia memutuskan untuk menghapus riasannya.
Ceklek
Enam telah berdiri di depan kamarnya, begitu Cindekia membuka pintu.
"Kamu menungguku?"
"Benar Nona, tuan Gamya meminta Saya untuk menjemput Nona," jawab Enam dengan sopan.
Disopanin begitu, membuat Cindekia tidak nyaman, "Apa Kau sudah lupa denganku? Aku yang kemarin lho."
Enam hanya bisa pasrah, waktu itu Ia kena tegur nyonyanya karena berbicara nonformal kepada Cindekia. "Meskipun nyonya lagi nggak ada, tetap harus ngikuti peraturan Kia," bisiknya kemudian kepada Cindekia.
"Oh begitu, Eh bentar. Aku ada bawa oleh-oleh nih." Cindekia kembali masuk ke kamarnya dan membuka kopernya yang berisi penuh dengan aneka kerupuk.
Enam mengantar Cindekia menemui Gamya dengan kedua tangannya yang dipenuhi bungkusan kerupuk dari Cindekia.
Mereka menuju ruang baca, terlihat Gamya sedang duduk di salah satu sofa panjang. Ia serius membaca sebuah buku tebal di tangannya.
Setelah tugasnya selesai, Enam pergi meninggalkan Cindekia, membiarkan Cindekia berjalan seorang diri mendekati Gamya, dan memilih duduk di sebelah pria itu.
"Mulailah untuk membayar hutangmu," kata Gamya bersikap dingin tanpa menoleh ke arah Cindekia.
__ADS_1
Tanpa melihat, Ia sudah tahu hanya Cindekia yang berani duduk di sebelahnya.
Cindekia menarik napas sebelum mulai bicara, "Pak, sepertinya Bapak harus tahu kalau tidak lama ini Saya baru saja adalah wanita yang gagal menikah."
Gamya bergeming dari kegiatan membaca bukunya, Ia membalik halaman berikutnya, "Hmm..."
"Saya memutuskan tidak jadi menikah, karena ketidakkonsistenan Saya." Cindekia melanjutkan ceritanya.
"Lalu?"
"Jika Saya mengatakan bersedia menikah dengan Bapak sekarang, Saya takut akan kembali membatalkannya lagi nanti."
Gamya menutup buku yang tengah di bacanya dan meletakkannya di atas meja yang ada di depan mereka, Ia kemudian menoleh ke arah Cindekia yang juga melihat ke arahnya, Ia mengusap lembut kepala gadis itu.
Melihat tidak ada penolakan dari yang punya kepala, Gamya meneruskan usapannya hingga ke pipi yang selembut bakpao milik gadis itu.
"Pak, tangan Bapak ni!" interupsi Cindekia memelototi punggung tangan Gamya yang mengusap pipinya sembarangan.
Gamya menarik tangannya dan tertawa ringan, "Maaf, tanganku memang suka berinisiatif."
"Jangan dibiasakan, kebiasaan buruk seperti itu, Pak!" kesal Cindekia, Ia jadi teringat tentang kebiasaan Gamya mencium wanita di kantornya.
Gamya berdehem mendengar Cindekia membentaknya dengan kuat. Jadi Begini kalau Aku sudah bukan atasannya lagi?
"Kia, bukankah sudah kukatakan bahwa Aku tidak peduli dengan hatimu?" Gamya mengingatkan lagi Cindekia, mana tahu lupa.
Gamya menatap dalam dan serius kedua bola mata milik Cindekia, "Jadi dengarkan dengan baik, kali ini Aku tidak akan mengulanginya lagi, mengerti?"
Cindekia mengangguk mencoba memahami, atau terpana dengan tatapan Gamya. Entahlah, dia memang sering dengan mudah terpana ditatap pria tampan.
"Aku mencintaimu, dan berkeinginan untuk memilikimu. Aku bersungguh-sungguh dengan hubungan yang pernah kita jalanin, dan tidak peduli Kau mencintai pria lain. Jadi, jika Kau membatalkan pernikahanmu denganku, maka Aku akan mengurungmu di penjara bawah tanah rumah ini."
Gadis itu menelan ludah mendengar kalimat terakhir Gamya dan menggeser duduknya agak sedikit menjauh. Dia masih iblis gila kah?
"Bapak serius akan mengurung Saya?"
"Menurutmu?" Gamya menyeringai.
Debaran jantung Cindekia semakin kuat karena takut, bagaimana bisa dirinya tanpa pikir panjang datang masuk ke kandang singa.
"Ha.. ha.. ha.. " Cindekia memaksa dirinya untuk tertawa, "Bapak pasti bercanda, mana bisa Bapak mengurung Saya,"
Gamya berdiri dari duduknya dan mengusap puncak kepala Cindekia dengan kasar, "Istirahatlah di kamarmu, Kau harus kembali pulang besok. Jika memerlukan sesuatu, Enam akan melayanimu," ucapnya sembari berjalan meninggalkan ruang baca.
"Dia benaran serius? siapa yang akan mau menikah dengannya?" gumam Cindekia setelah Gamya menghilang dari ruang baca. Namun tidak dipungkiri, Ia juga menginginkan pria itu. "Ah nggak tahulah, gelap!" teriaknya.
"Ma'af Nona, apakah Anda ingin menambah pencahayaan di ruang ini?" tanya Enam yang sudah hadir di ruang baca.
__ADS_1