
Cindekia hanya duduk diam di tengah suasana yang canggung, Ia masih di dalam pemikirannya. Menerka- nerka apakah suaminya marah karena dirinya pergi dulu baru kemudian ijin belakangan.
Salahuddin sedang tidak mood berbicara dengan menantu tidak sopannya. Nuraini hanya mengikuti suaminya.
Sadar akan ayahnya yang tidak biasa dengan kenderaan tertutup, Cindekia segera membuka kaca jendela mobil Gamya, termasuk membuka sunroof.
Gamya melajukan kenderaannya dengan kecepatan sedang. Padahal dirinya ingin cepat sampai di rumahnya.
"Kami harap Bapak dan Ibu merasa nyaman di rumah kami," Gamya menghidupkan tv berukuran 110 inci yang berada di tengah rumahnya begitu kedua mertuanya masuk ke rumahnya.
Sengaja Ia langsung memilih Channel berita. Ia ingat betul ketika di rumah Cindekia, Salahuddin tidak bisa beranjak dari berita.
Ia selalu menonton acara berita, meskipun hal itu membuat darah tingginya naik. Sebagai rakyat kecil Ia hanya bisa menyampaikan pendapatnya di depan layar tv.
Cindekia membawakan air minum dan camilan untuk kedua orang tuanya yang tengah duduk di ruang tv.
Sementara di sudut lain, Tina yang sedang mengelap pintu kaca dapur, akhirnya bisa melihat wujud majikannya. Ia menggelengkan kepala melihat betapa kampungannya mertua majikannya.
"Pak, Bu, Kia tinggal sebentar untuk siapkan makan siang ya,"
"Ibu ikut," Nuraini hendak berdiri. Namun Gamya menahannya.
"Ibu duduk saja, biarkan Kami berdua yang menyiapkannya." Gamya merangkul pinggang istrinya, membuat Nuraini tersenyum maklum
"Ya sudah, Ibu di sini saja." Nuraini kembali duduk menemani suaminya yang sebentar lagi akan marah- marah dan memaki tidak jelas pada layar tv.
Gamya segera membawa Cindekia pergi dari ruang tv. Bukan menuju dapur, tetapi menuju kamar.
Begitu masuk, Gamya langsung menutup pintu kamar, dan mendorong Cindekia hingga bersandar ke dinding. Kedua tangannya dikunci di atas kepala oleh Gamya.
Merasa diperlakukan kasar oleh suaminya, Cindekia ingin protes, namun mulutnya keburu dibungkam oleh suaminya.
Pria itu melampiaskan kemarahannya saat tadi melihat istrinya tersenyum manis kepada pria lain.
Cindekia ingin menendang organ r3produksi pria itu dengan lututnya, namun Ia urungkan mengingat pria itu adalah suaminya. Dia sendiri yang juga akan ikut dirugikan nantinya.
Ia sama sekali tidak menikmati permainan suaminya saat sedang dalam mode marah.
Gamya berhasil memperdalam ciumannya saat tangannya yang sebelah lagi bergerilya di badan istrinya.
Ia merasakan kedua tangan Cindekia gemetar di dalam cengkramannya. Namun Ia tidak berniat untuk menyudahi ciumannya.
__ADS_1
Gamya menghentikan permainan mulut dan tangan nakalnya saat bagian terdalam dirinya menginginkan lebih.
Ia tersenyum melihat bibir yang pewarna merahnya sudah meluber kemana-mana. Namun menjadi was- was saat melihat sepasang mata tajam yang menatapnya.
Segera Ia melepaskan tangan Cindekia, karena istrinya itu mendengus kesal seperti banteng yang marah saat dilambai- lambaikan kain.
"Sweetie, maaf." Gamya mundur beberapa langkah hingga mentok ke tempat tidur.
"Bapak gila! sosiopat!" amuk Cindekia dengan napas yang memburu.
Gamya menangkap kembali istrinya yang ternyata belum berhasil Ia jinakan.
Ia membawa istri labilnya duduk dipangkuannya, "Jangan mengumpatku, Baby. Semakin Kau melakukannya Kau semakin terlihat manis." Gamya memperlihatkan wajah seriusnya.
Cindekia terdiam menatap suaminya, "Lalu Saya akan dipangku begini? seperti naik angkot nggak dapat tempat duduk."
Angkot?
Tiba-tiba Cindekia dihempaskan ke atas tempat tidur. Gamya mengurungnya agar tidak kabur.
"Bagaimana kalau seperti ini?" tanya Gamya yang berada di atas Cindekia. Ia tersenyum menyeringai.
Cindekia tidak mengerti ada apa dengan suaminya. Ia memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat suami yang menurutnya tiba-tiba bersikap kasar.
Si4l! melihat leher jenjang istrinya, membuat keinginan dalam dirinya muncul kembali. Niat hatinya ingin menggoda istrinya, malah dirinya yang terpancing.
Gamya segera menyingkir karena tidak ingin menyentuh Cindekia saat emosinya tidak stabil. Takut akan menyakiti istrinya.
Cindekia sontak terkejut saat seluruh badannya tiba-tiba ditutup selimut seperti mayat korban kecelakaan.
Perlahan Ia menurunkan selimut yang menutup kepalanya. Sudah tidak dilihatnya lagi sosok suaminya di kamar yang sepetak itu.
Gamya kabur sebentar ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan soal teka teki matematika. Pikiran kotornya harus dihilangkan demi kelangsungan hidup bersama.
...π π π...
.
Endra, petugas hotel berwajah adem memakirkan sepeda motor box yang dibawanya di depan sebuah gedung bertuliskan Rancak wedding house. Salah satu vendor gaun pengantin tradisional.
Ia mengambil dua buah bungkusan plastik besar yang isinya harum hingga membuat lapar, dibawanya bungkusan itu masuk ke dalam.
__ADS_1
Langkahnya terhenti saat melihat sosok Cindekia yang duduk manis di ruang tunggu. Niatnya ingin langsung masuk ke kantor Rancak wedding house terhenti.
"Sendiri Kak? orang tua kakak mana?" sapanya sok kenal sok dekat.
Cindekia manatap bingung pria yang baru saja menatapnya, Ia merasa tidak asing. "Abang hotel?" senyum mengembang di wajahnya.
Endra balas tersenyum, "Iya, temanin temannya atau Kakak yang mau nikah?"
"Bukan, Saya bukan mau nikah tapi..." Cindekia mengendus wangi yang membuatnya lapar.
Matanya menuju bungkusan yang dibawa Endra, "Abang ojek online juga? nggak diantar dulu makanannya? entar kelamaan nunggu diomelin lho."
Endra ikutan menatap tentengannya, "Oh ini,...iya pekerjaan sampingan. Sebentar ya Kak," pria itu pamit, bergegas menuju kantor yang berada di lantai dua, mengantarkan bungkusan yang dibawanya.
"Nona Cindekia," ujar seorang wanita yang baru tiba, napasnya sedikit terengah- engah. Ia berjalan menghampiri Cindekia. "Maafkan Saya, karena terlambat."
Cindekia tersenyum menenangkan, "Tidak apa- apa,"
"Saya Tyas Haira, Mari silahkan," Wanita itu menuntun Cindekia ke sebuah ruangan.
Bersamaan dengan itu, Endra yang sudah menuruni tangga secepat yang Ia bisa, kehilangan sosok Cindekia. Ia hanya bisa menghela napas kecewa, dan balik ke motornya.
Di sebuah ruangan yang dipenuhi berberbagai macam gaun pengantin tersusun cantik, Cindekia terlihat kagum. Sayangnya tubuh kecilnya pasti akan tenggelam memakainya.
"Anda datang sendiri?" tanya Tyas membuyarkan lamunan Cindekia.
"Mungkin suami saya akan menyusul," tawa Cindekia.
Mertuanya memintanya untuk datang sendiri. Agak mencurigakan bagi Cindekia, tetapi Ia sudah memilih mendiamkan Gamya yang tiba- tiba melemparnya seperti karung beras. Dirinya menjadi istri durhaka karena pergi meninggalkan rumah suaminya semalam dan ikut menginap di hotel bersama kedua orang tuanya.
Bagaimana bisa Ia meninggalkan kedua orangtuanya di hotel sendirian saja? Bisa- bisa tidak buang- buang air, atau bisa- bisa tidak sarapan pagi karena mereka sudah paruh baya dan baru pertama kali berada dalam situasi seperti itu. Begitulah pikiran Cindekia.
"Ini semua adalah koleksi terbaik kami, Nyonya Wening ingin Anda mencoba memakai semuanya." ucap Tyas sebagai pemilik vendor melayani langsung Cindekia.
Cindekia yang tadinya menatap kagum jejeran pakaian adat pengantin kini jadi menatap ngeri.
Hah? yang benar aja mbak! emang Aku manekin?
"Semuanya bagus, Aku akan memilih satu saja untuk dicoba," bujuk Cindekia.
"Tidak bisa, Anda harus mencoba semuanya."
__ADS_1