
Gamya tersenyum puas mengambil kertas kontrak nikah yang telah diberi tanda tangan dan cap jempol Cindekia.
"Ini adalah salah satu tabunganku, Kau bebas menggunakannya." Gamya menyerahkan sebuah kartu ATM kepada Cindekia.
Cindekia memegang kartu itu dan menatapnya bingung.
"167262, Kau harus mengingat pin nya."
"Bentar, Pak! Saya catat dulu. Apa tadi?" Cindekia mengambil ponselnya dan bersiap akan mencatat.
Gamya mengambil ponsel Cindekia dan mengetiknya sendiri, "Kau harus menggunakannya seboros yang Kau bisa, Sayang, karena saldonya akan bertambah setiap bulan. Mengenai gajimu sebagai asisten pribadiku, akan dikirim ke rekening pribadimu." terangnya.
"Apakah Kau memiliki pertanyaan, Sayang?" tanya Gamya sembari menyerahkan ponsel Cindekia.
"Mengapa Bapak menyukai Saya? kok saya jadi curiga Bapak memiliki motif tersembunyi."
Gamya terkekeh mendengar pertanyaan serta kecurigaan Cindekia. Ia berdiri dan mendekati gadis itu.
"Kau benar, Aku Ingin Kau selamanya bersamaku," katanya, kemudian mendaratkan bibirnya di pipi Cindekia.
"Itu motif tersembunyi bapak?"
Gamya mengangguk membenarkan, Ia kembali mendekatkan wajahnya hingga membuat Cindekia menahan napas, "Baby, Aku ingin menciummu, katakan ya jika Kau juga menginginkannya."
Alih-alih menjawab, Cindekia seakan terhipnotis mengecup bibir suaminya. Ia ingin mengikis rasa malunya.
"It means yes," gumam Gamya.
Lampu hijau dari Cindekia membuat hatinya bergelora. Tanpa banyak bacot lagi Ia memberikan ciuman ekstrakurikuler kepada istrinya. Ciuman yang berbeda dari yang pertama.
Tangannya menyelinap masuk ke dalam baju kaos Cindekia dan memberikan sentuhan lembut untuk memenangkan keterkejutan Cindekia. Namun yang disentuh malah semakin terkejut dan sontak menjauhkan tubuhnya.
Gamya tersenyum menyeringai karena ciumannya terlepas, "Tenanglah..., " bisiknya di telinga istrinya. "Kulitmu sangat lembut dan halus, I want to kiss you all over."
"Hah? apa?" Cindekia semakin panik, jantungnya berdebar tidak karuan mendengar suara suaminya yang sedikit berbeda.
Ia gila karena jatuh cinta pada saat melihat Cindekia yang berlari sambil makan menerobos lampu merah.
"Aku tidak akan menyakitimu, Sweetie.. I will give you pleasure, tenang Oke? ini tidak akan sakit," katanya dan kembali mendaratkan bibirnya mengecup setiap inci mulai dari daun telinga hingga tulang selangka istrinya.
"Sakit kenapa? Bapak mau hisap darah Saya?" tawa Cindekia. Dia mau main drakula drakulaan?atau memang drakula?
Gamya kembali mengecup bibir istrinya, dan disambut amatiran oleh istrinya.
Cindekia mengulangi apa yang dilakukan kedua bibir dan indra pengecap suaminya. Entahlah akal sehatnya kabur kemana, Ia membiarkan nalurinya yang bekerja.
"I want more," racau Gamya di sela kegiatan cium mencium mereka.
"Hah? apa?"
"Aku menginginkankanmu sekarang," bisik Gamya menahan debaran jantungnya.
"Hah itu, tidak!" protes Cindekia yang belum siap menerima pembelajaran inti.
"Ingat point ketiga kontrak nikah kita, Sayang." Gamya mengecup kening Cindekia dan menggendongnya masuk ke kamarnya.
hah? kirain hanya ingin ciuman, keluh Cindekia dalam hati.
__ADS_1
"Tunggu dulu, Pak! setidaknya harus ritual dulu!" teriak Cindekia merangkul leher Gamya karena takut jatuh.
Namun Gamya mengartikan rangkulan Cindekia berbeda. Artinya Iya.
...π π π...
Duduk di atas tempat tidur dengan separuh badan tertutup selimut, Cindekia memakan dengan lahap pizza dan sate yang mereka pesan. Ia sangat lapar setelah beberapa menit lalu dibedah oleh Gamya. Tenaganya habis terkuras seperti habis menjadi kuli bangunan.
"Makanlah pelan- pelan, Sayang."
"Tidak apa- apa kita makan di atas tempat tidur?" tanya Cindekia dengan mulut yang masih berisi potongan roti.
"Tidak ada yang akan melarang,"
"Nanti bersemut lho." Cindekia mencomot tusuk sate terakhir setelah meneguk jus peach orange-nya.
"Dan Kau mempermasalahkannya setelah makanannya habis?"
Cindekia tertawa menatap nampan yang telah kosong di atas tempat tidur. "Lapar, mulai berpikirnya setelah kenyang."
Gamya menyingkirkan nampan yang berada di antara mereka. "Sayang, apa Kau ingin lagi?" tanyanya kemudian.
Pertanyaan yang memiliki dua makna bagi Cindekia. Pesan makanan lagi, atau kegiatan menghabiskan energi.
"Hah?" mulut Cindekia berhenti menjangkau potong daging sate terakhir di tangannya.
Gamya mengigit dan memakan potong terakhir itu.
Cindekia meneguk air liurnya melihat Gamya yang menatapnya dari dekat. Tubuhnya bergetar menginginkan sentuhan lembut lagi, seperti seorang hamba yang bertemu dengan tuan pemiliknya dan siap mengabdikan diri sepenuhnya.
"Baiklah,"
"Pak, Saya benaran mau buang air." cicit Cindekia karena Gamya tiba- tiba menggendongnya.
"Jangan khawatir, Aku hanya akan mengantarkan mu saja. Baby."
...π π π...
Berbalut bathrobe, Cindekia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi.
Suara berisik hair dryer yang mengeringkan rambutnya, tidak mengganggu konsentrasi Cindekia untuk berpikir.
Gamya memperlakukannya dengan lembut. Meski hal itu adalah baru pertama kali bagi mereka berdua, rasa sakit yang Ia alami tidak seperti apa yang dibayangkannya.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di benak Cindekia dengan apa yang dilakukan Gamya. Ia ingin bertanya mengapa pria yang berstatus sebagai suaminya itu memasang alat pencegah kehamilan di saat proses pembedahan, namun takut untuk mendengar jawaban yang tidak Ia inginkan.
Cindekia memutuskan untuk melanjutkan pemikirannya di ruang ganti baju. Mungkin dia hanya ingin menunda untuk memiliki anak dalam waktu dekat.
Gamya yang telah selesai mandi berdiri di depannya begitu Cindekia membuka pintu ruangan ganti baju, dengan rambutnya yang masih meneteskan air.
Lah punya hair dryer tidak dipakai. Protes Cindekia dalam hati.
"Lho Bapak, ngapain berdiri di sini?" ucap Cindekia sembari berjalan keluar.
"Aku ingin masuk, tapi Kau mengunci pintunya. Mengapa Kau terlalu lama? Kau tidak perlu berdandan untukku, Sayang." tanpa segan dan permisi Gamya mengecup kening Cindekia sebelum masuk ke ruangan yang dipergunakan Cindekia sebelumnya.
Yang dikecup hanya diam, karena masih memiliki pemikiran yang belum selesai.
__ADS_1
"Apa Kau ingin melihat tubuhku sekali lagi?" goda Gamya dengan gerakan hendak membuka bathrobe nya.
"Bapak gila!" seru Cindekia dan segera menutup pintu.
Perkataan Gamya membuat Cindekia jadi salah tingkah, Ia menepuk-nepuk kedua pipinya untuk menghilangkan bayangan kejadian yang baru terjadi di tempat kejadian pekara.
Segera Cindekia pergi membereskan barang bukti kejadian. Namun saat hampir seluruh barang bukti diamankan, Gamya keburu memergokinya.
"Sayang, membersihkan rumah, cuci mencuci bukan bagian dari job desc mu. Akan ada orang lain yang melakukannya."
"Hah?" Cindekia masih melanjutkan kegiatan menggulung seprai dan selimutnya. "Tidak, ini menjijikkan!"
Gamya menarik Cindekia hingga membuat barang bukti lepas dari tangannya.
Gamya duduk diatas tempat tidur yang sudah tak beralas dan mendudukan Cindekia di pangkuannya.
"Bapak mau apa?"
Gamya lebih dulu menyentil jidat Cindekia sebelum menjawab.
"Aduh! Bapak mau KDRT?!" Cindekia memberontak, namun badan besar Gamya menahan badannya yang kecil.
"Mengapa akhir- akhir ini Kau sering berkata kasar?" Gamya bertanya serius.
Cindekia berhenti memberontak, nyalinya menciut. Dia marah dan tidak terima?
Gamya mengecup bibir Cindekia sekilas, niat hatinya untuk mengurangi rasa takut wanita yang tengah menatapnya.
Namun yang dikecup semakin memperlihatkan ketakutan di wajahnya.
"Aku suka Kau yang seperti itu," Gamya tertawa kecil menatap wajah Cindekia.
Merasa pelukan Gamya mengendor, Cindekia segera meloloskan diri turun dari pangkuan Gamya.
"Saya mau mencuci, jangan ganggu!" Cindekia kembali mengambil barang buktinya dan keluar dari kamar.
"Sweetheart! Apakah Kau tahu dimana kamar binatu?! Kau butuh bantuan?!" teriak Gamya.
Kepala Cindekia kembali menongol di ambang pintu kamar hanya untuk mengatakan, "Bisa cari sendiri!"
Tidak sulit mencari kamar binatu di rumah Gamya yang tidak begitu besar dengan konsep terbuka.
Sikap Cindekia yang membereskan barang bukti tanpa menunggu pagi, membuat Gamya harus menelpon pengurus rumahnya. Ia tidak tahu di mana tempat penyimpanan seprai dan selimut.
Mereka tidak mungkin tidur di atas tempat tidur yang tak beralas dan tak berselimut.
...π π π...
Lampu temaram menghiasi kamar yang suhu ruangannya diatur 16 derajat Celsius.
Suhu dingin membuat Cindekia masih mencari kehangatan dengan saling tidur berdekatan dengan kawanannya meski sudah tebungkus selimut tebal.
Gadis yang sudah tidak lagi gadis itu bermimpi sedang berada di kutub utara. Ia berlari kabur karena bertemu dengan beruang kutub, lalu tercebur masuk ke dalam air yang dingin.
Cindekia tersentak membuka mata. Ia menarik tangannya begitu sadar di mana tangannya berada. Ia segera duduk dan melotot begitu melihat angka 16 pada AC di depannya.
"Siapa yang merubahnya?" Gumamnya kesal menatap Gamya yang entah tidur atau tidak di sebelahnya.
__ADS_1