Boss Gila

Boss Gila
Cepat jemput anaknya Om


__ADS_3

Gamya manatap ponselnya yang telah berhenti berdering. Nomor asing baru saja mencoba menghubunginya.


Ia tidak ingin berurusan dengan orang yang tidak dikenal.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif..." terdengar suara wanita berbicara saat Gamya mencoba menghubungi Cindekia yang belum membalas pesannya.


Ia pun kembali menatap nomor yang baru saja menghubunginya, dan segera menghubunginya kembali.


"Hallo," terdengar suara anak perempuan menjawab panggilan telepon Gamya.


anak-anak?


"Hey anak kecil, apa Kau yang menelponku dari tadi tadi?"


"Bukan Om, tadi kakak cantik yang nelpon, cepat jemput anaknya Om, kasian nangis tuh, nggak tahu jalan pulang,"


Anak? kawin juga belum.


"Ma'af Anak kecil, sepertinya salah sambung..."


"Siapa yang menelepon?" Suara Ibu- ibu membuat Gamya menghentikan jarinya menekan tombol akhiri panggilan.


"Oh ini Ma, nomor yang dihubungi kakak tadi." Gamya masih mendengar percakapan ibu dan anak tersebut


"Hallo?" kali ini sang Ibu telah mengambil alih ponsel anaknya.

__ADS_1


"Hallo,"


"Kamu saudaranya Cindekia? tadi saudara kamu kecopetan tas dan hpnya hilang. Cepat kamu jemput, mungkin dia masih nunggu di depan supermarket 3M,"


"Terima kasih Bu." Gamya segera mematikan sambungan teleponnya dan mengambil kunci mobilnya.


Dengan sesal Ia mengendarai mobilnya, karena tidak mengangkat panggilan telepon itu sejak tadi.


Gamya tiba di depan halte yang dimaksud sejam kemudian. Namun Ia sudah tidak mendapati sosok Cindekia di sana.


Apa dia sudah pulang ke rumahnya?


Gamya menelepon Ganeeta, "Apa Kau melihat pacarku pulang ke rumahnya?" tanyanya begitu panggilannya terhubung.


"Hey, mengapa Kau bertanya kepadaku?"


"Haha mengapa? apa pacarmu kabur?"


"Gane Aku tidak bercanda,"


"Baiklah, baik.." Sambungan teleponnya dimatikan oleh Ganeeta.


Sembari Ganeeta memeriksa CCTV-nya, Gamya menjalan mobilnya pelan menelusuri jalan menuju rumah kontrakan Cindekia.


Tampaknya nasib baik masih berpihak kepada Gamya, tiba-tiba saja di depannya terlihat Cindekia baru keluar dari warung sate padang dan berjalan di trotoar.

__ADS_1


Gamya tersenyum lega karena telah menemukan kekasih hatinya. Ia kembali menghubungi saudarinya untuk berhenti memeriksa CCTV-nya dan kemudian memainkan layar ponselnya.


Gamya menghentikan mobilnya tepat di depan Cindekia, dan segera turun menghampiri.


"Sweetie, Apa kau baik-baik saja? Maaf, Aku tidak segera menjawab telepon darimu," Gamya mengambil alih barang belanjaan Cindekia dan menuntun gadis itu masuk ke mobilnya.


Ingin rasanya Ia memeluk Gadis yang terlihat kebingungan itu, namun Ia harus menjaga batasannya.


Gamya yang telah duduk di bangku kemudi, meletakan barang belanjaan Cindekia di kursi belakang.


"Sayang.., Kau pasti sangat terkejut seseorang merampas tasmu," katanya bernada khawatir karena Cindekia hanya diam saja.


Gamya memasangkan sabuk pengaman Cindekia, karena melihat gadis itu sepertinya masih terguncang.


"Pak, harusnya Saya tidak menyetujui kontrak kerjasama dengan Bapak," Cindekia mulai buka suara.


Gamya menjalan mobilnya, "Baby, apa yang Kau bicarakan?"


"Tidak, harusnya waktu itu Saya bersikeras tidak mau jadi sekretaris bapak...Tidak, harusnya waktu itu saya membiarkan saja bapak kecelakaan jadi Saya tidak terlambat dan pak Damar tidak akan memecat Saya," ucap Cindekia sekali lagi ada getaran pada suaranya.


Gamya mencari tempat yang aman untuk memberhentikan mobilnya. Ia ingin melihat dengan baik apa yang terjadi dengan Cindekia.


"My Sweetie? Apa penjambret itu melukaimu?" Gamya memeriksa apakah ada yang luka dengan tangannya Cindekia.


"Dengan begitu, hati Saya tidak akan menjadi sakit seperti ini," lirih Cindekia dengan mata berkaca-kaca dan penyesalan yang mendalam.

__ADS_1


"Kia..?" Gamya melepaskan tangan Cindekia, Ia mulai menyadari gadis itu tidak sedang membicarakan penjambret.


"Benar, panggil Saya dengan nama Saya, mengingat Bapak yang terus memanggil Saya Sweetie, itu sangat memuakkan dan menjijikan di telinga Saya," Cindekia benar-benar membiarkan hatinya berbicara, Ia pasti gila karena telah berbicara yang tidak sopan kepada bosnya.


__ADS_2