Boss Gila

Boss Gila
BAB 47 Operator keluhan pelanggan


__ADS_3

Cindekia yang memposisikan dirinya sebagai operator keluhan pelanggan hanya menerima semua keluhan teman-temannya.


"Sudah beberapa kali revisi tampilan, tetap ditolak. Selera estetis Pakdir sulit dipahami, atau mungkin dia tidak punya," Nawir juga ikut mengungkapkan kekesalannya.


"Iya,"


"Kia, mengapa responmu hanya 'iya' saja?" tanya Rendi yang juga bagian dari barisan sakit hati itu heran.


"Eh, anu...dari tadi Aku tidak begitu dengerin apa yang dibilang pak Direktur," aku Cindekia.


"Apa karena begitu muaknya Kau sampai malas mendengarkan pakdir bicara?" tanya Gina


Bukan begitu...


Cindekia bingung harus berbuat apa. Ia tidak bisa secara jelas menunjukkan dirinya telah membelot ke pihak pak Gamya, saat ini Ia berada di tengah anti fans-nya Gamya.


"I-iya," aku Cindekia pada akhirnya bersamaan dengan dirinya yang menyadari Gamya telah berdiri di depan pintu ruang rapat, menatap tajam ke arahnya.


Tamatlah riwayatku....


"Benar juga, biasanya dirimu yang paling semangat untuk mengutuk_" ucapan Heri terpotong karena Cindekia segera menutup mulutnya dengan map.


"ha.. ha.. ha, Kau ini bicara apa? teman-teman, pakdir ingin mentraktir kita semua makan malam. Ya kan, Pak?" kata Cindekia memberikan kode kepada rekannya untuk melihat ke arah pintu keluar.

__ADS_1


Objek pembicaraan telah berdiri disana, entah sejak kapan.


Gamya memberikan senyum palsunya, "sepertinya kalian semua sangat bersemangat untuk bekerja, jadi Aku ingin mengajak kalian makan bersama."


"Terima Kasih Pak," ucap mereka semua serentak dan mendadak seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.


Gamya kembali pergi setelah mengeluarkan pidato singkatnya. Diikuti Cindekia yang sudah pasrah bakal dimarahin.


Sepandai-pandainya Ia membicarakan bosnya dibelakang, akhirnya ketahuan juga.


Diruangannya, Gamya yang masih berdiri di depan mejanya, membaca hasil pekerjaan sekretarisnya. "Kau benar-benar tidak mengikuti jalannya rapat tadi? Apa Kau meninggalkan lagi telingamu di suatu tempat?"


"Maaf, Pak." Cindekia mengakui kesalahannya.


"Baby, Aku sudah katakan 'jangan melalaikan pekerjaanmu', mengerti?" Gamya tiba-tiba melembutkan suaranya.


"Iya,"


"Iya Pak,"Cindekia mengaku tanpa sadar, "eh..?"


"Mendekatlah kemari," perintah Gamya. "Kerja bagus," pujinya kemudian.


Melihat Gamya yang tersenyum hangat kepadanya, membuat Cindekia otomatis tersenyum manja.

__ADS_1


Gamya membelai kepala gadis yang berdiri tersenyum manis di depannya, "Jadi ternyata, pacarku ini juga sering mengumpat di belakangku, ya?" sindirnya kemudian.


"Itu...Bapak salah dengar."


"Begitu, Aku mendengar jelas Kau mengatakan muak kepadaku," Gamya menajamkan matanya, membuat Cindekia seperti menelan pil pahit di kerongkongannya.


Mengetahui bosnya mendengar dengan jelas pembicaraan dengan teman-temannya, membuat Cindekia hanya bisa menyengir. Meskipun Gamya bersikap dingin atau hangat, Ia tetap menyukai keduanya.


Cindekia mengambil tangan Gamya yang mengelus rambutnya, lalu Ia menggenggamnya dengan erat, membuat pria itu jadi salah tingkah. Setiap sentuhan Cindekia selalu saja membuatnya menjadi serba salah, mau dilanjutkan maju ke depan takut kenapa-kenapa.


"Pak, karena Saya sudah melakukan kerja bagus, tidak perlu mengulangi notulennya kan?" bujuk Cindekia.


Perangai Cindekia yang semakin berani kepadanya membuat Gamya mundur selangkah, "tentu saja.., harus. Tulis dengan benar," katanya dengan senyum manis semanis gula merah yang gosong. Manis ada pahit-pahitnya.


"Kak Gamya," terdengar suara seorang wanita dari arah pintu masuk ruangan Gamya.


Karena asyik berpacaran di kantor membuat mereka tak sadar ada yang membuka pintu.


Cindekia segera melepaskan tangan Gamya, dan menjaga jarak. Meskipun tidak suka dengan reaksi Cindekia, Gamya tetap menuruti kemauan gadis itu.


"Sukie? Apa yang membuatmu kemari?" tanya Gamya terlihat akrab dengan cucu pemilik Haniun grup itu.


"Kakak," jawab Sukie singkat dan tersenyum manis kepada Gamya.

__ADS_1


Ia berjalan masuk ke dalam, sementara Cindekia berjalan keluar tanpa suara.


Mata Gamya mengekori Cindekia hingga gadis itu menghilang di balik pintu.


__ADS_2