Boss Gila

Boss Gila
BAB 24 Ketemu Calon mertua nih


__ADS_3

"Mengapa Saya jadi menikah dengan Bapak?!" tanya Cindekia histeris.


"Duduk, dan tenanglah," ujar Gamya dengan tenang.


Cindekia menurut duduk di depan meja Gamya. Ia mengatur pernapasannya untuk menenangkan pikirannya.


"Pernikahan itu tidak akan terjadi!" tegas Gamya. "Aku tidak tahu apa yang dikatakan Ganeeta kepada mereka, Ayahku menghubungiku dan mengatakan akan merestui pernikahan kita jika Aku menemui mereka bersamamu," ucapnya kemudian.


"Kita tidak akan menikah, Saya tidak perlu menemui orang tua Bapak kan?"


"Jika kita tidak pergi menemui orang tuaku, artinya kita menjalani hubungan yang tidak serius."


".... "


"Jangan menganggap dirimu adalah korban, ini karena kesalahanmu yang membawa pria asing masuk ke rumah dan mengahabiskan malam bersama."


"Hey Pak, orang akan salah paham mendengar perkataan Bapak!" protes Cindekia tidak terima.


"Jika tidak ada hal lain lagi yang Kau ingin tanyakan, silahkan keluar."


Cindekia berpikir sejenak, "bagaimana kedua orang tua Bapak? apa ada hal yang perlu saya ketahui tentang mereka? Saya tidak ingin berbuat kesalahan."


"Dengar Nona Kia, jangan salah paham. Kita tidak pergi untuk meminta restu. Bersikaplah seperti dirimu yang biasanya. Semakin mereka tidak menyukaimu, mungkin akan semakin bagus."


"Baiklah, Saya mengerti. Kalau begitu Saya permisi Pak," ujar Cindekia pamit undur diri.


"Aku juga tidak begitu mengenal mereka," guman Gamya.


***


Keesokan harinya Gamya dan Cindekia terbang ke Slovenia. Setibanya mereka di Bandara Ljubljana, suruhan Ayahnya Gamya menjemput mereka.


Mobil yang mereka tumpangi membawa mereka menuju ke sebuah rumah yang berukuran besar dengan halaman yang luas.


Sebuah pagar otomatis terbuka mempersilahkan mereka memasuki perkarangan dan berhenti di depan pintu masuk utama rumah tersebut.


Gamya turun dari mobil dan disusul oleh Cindekia. Seorang pelayanan menyambut kedatangan mereka.


"Good afternoon Mister Gamya, and miss Cindekia. Please follow me, Sir Lenart and Madam have been waiting for you," ucap pelayanan tersebut dengan sopan.


"Siapa Dia?" bisik Cindekia


"Entahlah, ini pertama kali Aku mengunjungi orang tuaku," jawab Gamya enteng.


"Bapak bercanda ya?"


Pelayanan berperawakan tinggi itu menuntun Cindekia dan Gamya menuju ke ruang makan.


Terlihat seorang wanita yang tidak lagi muda tetapi masih kelihatan cantik sedang memberi arahan kepada para pelayanan yang meletakan hidangan di atas meja makan.


Ini pertama kalinya putranya mengunjunginya setelah bertahun-tahun, Ia harus memberikan kesan yang baik. Ia bahkan ikut turun tangan di dapur.

__ADS_1


Pelayan yang menuntun Cindekia dan Gamya mendekati wanita itu dan mengatakan sesuatu kepadanya, hingga membuat Ia berbalik dan menoleh ke arah Gamya dan Cindekia.


Pandangannya tidak lepas dari Cindekia dan Gamya, putra satu-satunya yang Ia miliki.


Gamya dan Cindekia telah berdiri tepat di depannya, tetapi Ia masih tidak tahu harus berkata apa untuk menyambut calon menantunya. Ia masih dalam proses mengingat siapa nama wanita yang berdiri di sebelah putranya.


Cindekia menduga wanita cantik di hadapannya adalah Ibunya Gamya, bosnya.


"Hello... " sapa Cindekia.


"You must be Cindekia,"


(*Ini pasti Cindekia)


Cindekia tidak begitu paham dengan apa yang dikatakan Ibunya Gamya, Ia hanya bisa tersenyum, "yes... "


"You finally visit your parents!" ujar seorang pria asing yang mirip dengan Ganeeta versi lelaki, tiba-tiba muncul di ambang pintu dan berjalan mendekati putranya.


(*masih ingat nya Kau rupanya pulang)


"Don't give me a hug!" ucap Gamya datar, Ia menarik salah satu kursi meja makan dan duduk dengan tenang. Ia tidak ingin terlalu lama berbasa basi.


(*awas kalau berani peluk!)


Gamya berpikir bahwa Cindekia yang sering lapar pasti sangat lapar sekarang, setelah perjalanan jauh. Itu adalah kali pertama Cindekia naik pesawat, Ia terlihat sangat ketakutan hingga tidak bisa makan dengan baik di pesawat.


"You are so adorable * ..." ujar Ibunya Gamya dengan suara lembut kepada Cindekia, Ia terlihat sangat ramah.


"Take a seat , dear. I hope the dishes suit your taste."


(*duduklah, nanti capek Kau, Sayang. Semoga cocok lah lidahmu itu sama makanan ni)


"No need to worry, She can eat anything," ucap Gamya.


(*tenang aja mak, macam babi dia ini)


Cindekia memilih duduk di sebelah Gamya. Tuan Lenart dan Ibunya Gamya pun duduk bersebelahan. Mereka tampak saling mencintai.


Tiba-tiba Gamya teringat akan sesuatu dan tertawa kecil, "Whatever kind of food you give her, she will eat it," katanya kemudian kepada Ibunya.


(*Apapun makanan yang mamak kasih, dimakannya nya itu)


Kedua orang tua Gamya hanya bisa saling pandang melihat putra mereka yang sepertinya sedang kasmaran akut.


"Ganeeta always talked to much about You. I expect that you can get along with each other," ucap Ibunya Gamya.


(*Ganeeta banyak kali ceritanya tentang Kau, maunya mamak kelen akur lah berdua)


"We have a harmonious relationship."


(*aman, mak)

__ADS_1


Disisi lain, Cindekia mengerti Ia harus bersikap seperti biasanya, tetapi entah mengapa berhadapan langsung dengan kedua orang tua Gamya membuat nyalinya menciut.


"Makanlah seperti biasa," kata Gamya kepada Cindekia.


"Aku tidak tahu apa yang akan kumakan Pak," bisik Cindekia.


"Apakah Kau memiliki alergi?"


Cindekia menggeleng,


"Bagus, Kau bisa mencoba semuanya, Kau tidak perlu mengahabiskannya bila tidak suka, Ibuku memang kurang pandai memasak, bukan karena lidahmu yang bermasalah," ujar Gamya.


Ibunya Gamya terlihat suram mendengar perkataannya putranya kepada calon menantunya tentang dirinya.


Tuan Lenart merangkul istrinya dan berbisik, "bagiku semua yang Kau masak adalah yang terenak."


Wanita itu kembali tersenyum mendengar pujian dari suaminya dan memeluk pinggang suaminya.


Cindikia hanya bisa tersenyum melihat pasangan mesra yang tidak lagi muda itu. Ingin berbicara, Ia tidak bisa berbahasa Inggris.


"Ternyata dugaanku benar, tidak ada yang tidak Kau suka," ucap Gamya.


Cindekia hanya tersenyum mendengar komentar Gamya, semua yang dimakannya terasa enak entah mungkin karena lapar.


"Bapak tidak makan?" tanyanya pelan.


Gamya menggelang, "Aku lebih suka melihatmu makan,"


"ck.. " Cindekia berdecak mendengar gombalan garing Gamya.


"I think you are meant to be together. You have my blessing, son!"


(*cocok pulak Ku tengok kalian berdua, ya udahlah kurestui lah kelen, nak!)


Gamya tergelitik mendengar kementar Tuan Lenart, "I don’t need anyone’s permission to marry. I'll send your daughter home."


(*Suka-sukaku lah mau kawin sama siapa, Kok ngatur. Nanti Aku paketkan lah putrimu ke sini pake JNE)


Tuan Lenart hanya memiliki dua orang anak, tetapi keduanya tidak ada yang ingin menjadi penerusnya. Segala cara Ia upayakan untuk membujuk keduanya, Namun belum membuahkan hasil.


Ia hanya menghela napas panjang melihat putranya seperti membaca pikirannya. Ia berharap putranya meminta restunya untuk menikahi wanita yang duduk di hadapannya. Dengan begitu Ia akan meminta putranya menjadi penerusnya.


Tampaknya kedua anaknya saling tolak-menolak dan saling kirim-mengirim satu sama lain.


".... " Cindekia dengan tenang makan sebanyak yang Ia bisa. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan keluarga bosnya.


Gamya melirik Cindekia yang sejak tadi diam tak bersuara, "I genuinely like her, I won't get married if it's not her," ujar Gamya dengan tempo pelan. Ia berharap Cindekia dapat mendengar bualannya dengan baik dan menunjukkan ekspresi kesalnya.


(*Aku sangat menyukainya, Aku hanya akan menikah dengannya)


Klontang!

__ADS_1


Cindekia menjatuhkan Sendoknya.


__ADS_2