Boss Gila

Boss Gila
BAB 21. Produk tidak berguna ingin makan lontong


__ADS_3

Tok... tok!


Cindekia masuk ke ruangan Gamya dengan perlahan dan meletakkan sepiring camilan di atas meja.


Setelahnya, dia berjalan pelan-pelan kembali menuju pintu keluar.


"Nona Kia," ucap Gamya menghentikan langkah Cindekia.


"Dalem, Pak. Eh...Iya Pak?"


Gamya menghentikan kegiatannya membaca laporan di layar laptopnya. "Apa kau baik-baik saja? apakah kepalamu terbentur sesuatu dalam perjalanan tadi pagi?"


"Ah... saya baik-baik saja," Cindekia memeriksa keningnya mungkin ada benjolan tanpa Ia sadari.


"Baguslah kalau kau baik-baik saja, kau sudah membuat mejanya penuh dengan cangkir dan piring yang masih berisi," ujar Gamya menunjuk meja tamu di ruangannya, "dan juga, kau memenuhi meja kerjaku dengan berkas laporan yang tidak perlu di-printout."


"Saya pikir mungkin Bapak harus sering-sering coffee break... dan terlalu lama melihat layar komputer tidak baik untuk kesehatan," ucap Cindekia memberi alasan.


Gamya memasang kacamatanya untuk melihat Cindekia lebih jelas dari kejauhan. "Kau hanya membuat alasan untuk bisa bolak-balik masuk ke ruanganku, bukan? apa jangan-jangan...." Gamya menjeda kalimatnya, "kau ingin terus melihat wajah tampanku ya?"


Cindekia sedikit terbengong mendengar kenarsisan Gamya. "Bapak bercanda ya? Saya cuman ingin mencari kesempatan untuk mensabote handphone Bapak," ucapnya dengan lancar dan kembali terdiam.


Sudahlah... yang bisa dilakukan orang lemah sepertiku hanya berdoa.


"Aku sudah menghapus fotomu," ucap Gamya mengerti apa yang diinginkan sekretarisnya yang sejak tadi terus mencuri curi pandang dengan ponsel miliknya.


"Yang bener Pak?" tanya Cindekia semringah.


"Hmm, ya aku tidak perlu menyimpannya lagi karena sudah mengirimnya kepada pacar impianmu," ucap Gamya datar.


Senyum semringah Cindekia menghilang dari wajahnya digantikan dengan ekspresi shock berat. Bersusah payah dia selama ini menunjukkan sisi bagusnya kepada Dyan, tiba-tiba bosnya datang menghancurkan citranya begitu saja.


"Pfft..." Gamya menahan tawanya, "aku hanya becanda," ucap Gamya kemudian.


"Pak, saya peringatkan, jangan macam-macam dengannya," ancam Cindekia bernada tidak senang.


Dia mengancamku?


"Kupikir kau ingin berterima kasih kepadaku," sesal Gamya, "Nona Kia, menurutmu mengapa aku mengatakan kepada 'orang itu' kalau aku menyukaimu? dan menghabiskan waktu berhargaku dengan teman-temanmu?"


".... "

__ADS_1


Di mata Cindekia, Gamya adalah orang yang semena-mena. Mungkin karena otak bapak lagi korsleting.


Gamya menghela napas berat melihat Cindekia yang kadang terlihat sebagai wanita mandiri yang cerdas dan kadang menjadi wanita yang tidak punya pemikiran.


"Apakah wanita sepertimu benar-benar telah mempermainkan banyak kaum pria? " pikir Gamya, namun segera menghapus keraguannya tentang Cindekia.


"Aku membantu percepatan proses kisah percintaanmu. Melihat caramu menatap orang itu, sepertinya kau sangat ingin segera menikah dengannya. Anggap saja bantuan kecilku ini sebagai bonus atas sikapmu yang kooperatif selama menjalankan misi kerjasama kita yang akan berakhir dalam waktu kurang dari tiga minggu lagi."


"Hmm...." Cindekia senang mendengar kata terakhir Gamya, tapi dia bingung dengan percepatan kisah cintanya. Dia tidak mengira bos nya begitu peduli dengan masalah pribadinya. Otaknya benaran korsleting.


"Produk yang berkualitas akan menarik banyak peminat. Namun produk yang terlihat tidak menarik dan bahkan tidak berguna, jika diminati oleh orang sepertiku...tentu akan memancing orang untuk ingin memilikinya, bukan?" terang Gamya.


"...maksud Bapak, produk yang tidak menarik dan tidak berguna itu saya? dan orang yang ingin Bapak pancing Dyan teman saya?" tanya Cendekia memastikan persamaan pemikiran mereka.


Panjang sekali penjelasan orang ini, bilang saja ingin membuat Dyan cemburu, sudah beres. Apa? Aku adalah produk yang nggak berguna? dia keterlaluan!


"Ya, benar. Sebagai ucapan terima kasihmu, pergilah kembali bekerja! Kau tidak boleh pulang sebelum pekerjaanmu selesai, bahkan memiliki niat saja tidak boleh!" titah Gamya mengusir Cindekia dari ruangannya. Ia tidak sabar ingin mengeluarkan tawanya setelah melihat ekspresi kesal Cindekia yang menurutnya lucu.


"Baik Pak," ucap Cindekia patuh. Pada akhirnya, atasan tetaplah atasan. Dan dirinya hanyalah bawahan.


Sementara Gamya melepaskan tawanya setelah kepergian Cindekia. "Ya ampun, dia benar benar percaya dengan apa yang kukatakan."


Setelah puas tertawa, Gamya kembali serius dengan pekerjaannya.


Meskipun tidak melihat wajah Cindekia dengan jelas saat melintas di depannya, Gamya mengingat bentuk dan warna pakaian yang dikenakan Cindekia.


Namun Gamya telah memutuskan untuk mengakhiri perasaannya kepada Cindekia, meskipun terkadang tubuhnya masih belum move on dari Cindekia.


***


Di mejanya, Cindekia mengeluh kesal melirik jam di sudut bawah layar monitor komputernya.


Pukul 4 lewat 20 sore...orang itu benaran nggak akan membiarkanku pulang kah?


Gara-gara sering diawasi, dan diberi beban kerja lebih, serta telat pulang, Cindekia menjadi tidak bisa kumpul bareng dengan teman kantornya untuk menggosip, serta jarang pulang bareng dengan teman kantornya.


"Kehidupan kantorku yang cukup dilematis dan tragis...lapaarr...." gerutu Cindekia mengambil istirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.


Setelah selesai mengerjakan pekerjaannya, Cindekia langsung mengirimkannya kepada Gamya dan mengirim pesan singkat.


[Cindekia : Pak, sudah saya kirim. Saya pamit pulang ya]

__ADS_1


Belum selesai membereskan barang-barangnya, Cindekia sudah mendapat balasan dari bosnya.


[Pak Boss: Saya periksa dulu]


"Apa? maksudnya nggak dikasih pulang nih?... ah bodo amat, pulang sajalah...," gumam Cindekia dan kembali melanjutkan membereskan barang-barangnya bersiap untuk pulang.


"Apa kau ingin kabur pulang?!" seru Gamya tiba-tiba menghentikan langkah Cindekia.


Hah! ketahuan, apa ada CCTV?


Cindekia segera berbalik mengahadapi sumber suara. "Pulang..? tidak Pak, saya cuman mau beli makanan," elak Cindekia.


"Harusnya tuh Bapak traktir saya," gumam Cindekia pelan.


Gamya berjalan mendekati Cindekia, "ayo!" katanya kemudian melewati Cindekia.


"Hah? kemana Pak? duh Pak jangan tambah kerjaan saya lagi dong, hitung jam lembur nih."


"Bukankah kau ingin ditraktir makan?" tanya Gamya tanpa menghentikan langkahnya.


Hah dia dengar?


Cindekia yang dari awal bertujuan untuk kabur pulang akhirnya mengikuti Gamya.


"Pak, sebelum saya menerima kebaikan Bapak, saya ingin memastikan dulu, setelah ini Bapak tidak menyuruh saya lembur sampai tengah malam kan?" tanya Cindekia sebelum memasang sabuk pengamannya.


"ck... Nona Kia, tidak baik memiliki pemikiran buruk terhadap atasanmu," ucap Gamya bernada lembut sembari menggeser perseneling mobilnya, dan memijak pedal gas.


"Baik Pak,"


"Kau ingin makan apa?"


"Lontong, Pak,"


"Lontong?"


"Jangan bilang Bapak tidak tahu lontong?"


"Tidak, Aku hanya heran, apa ada orang yang ingin makan lontong malam-malam begini selain dirimu."


"Tentu saja ada. Buktinya ada orang yang jual lontong malam."

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2