
Di tengah kegelapan yang ditemani berkas cahaya dari lampu teras, Cindekia membuka matanya dan menggeliat meluruskan tangannya. Ia baru saja berada di ruangan yang dipenuhi beraneka ragam makanan lezat. Namun belum sempat Ia makan, Ia sudah berada di kamarnya.
Masih tersisa hayalan rasa saus strawberry di mulutnya, Ia hanya meneguk liurnya meresapi bagaimana rasanya memakan semua makanan yang ada di dalam mimpinya barusan.
Meskipun hanya bertemankan berkas cahaya samar yang masuk melalui celah-celah tirai gorden jendela kamar, Ia dengan mudah menemukan saklar lampu yang menempel di tiang pintu kamarnya.
Seketika bola lampu berwarna putih yang tergantung di langit-langit kamar melepaskan foton setelah Cindekia menghubungkannya dengan tegangan listrik.
Gadis itu berbelok menuju jendela kamar. Ia membuka kedua daun jendela kamarnya, menampilkan pemandangan gelap. Matahari masih berada di bawah ufuk timur sekitar dua puluh derajat.
"Apakah Kau akan membiarkannya tetap terbuka?" terdengar suara kasat mata dari arah belakang Cindekia.
Gadis itu terperanjat kaget. Ia sempat lupa jika dirinya tak sendiri di kamarnya.
Senyum, Ia lukiskan di wajahnya demi melihat sosok pria yang semalam mengucapkan ijab kabul di depan penghulu. "Iya, sudah siang Pak," ucapnya sembari berjalan mendekati tempat tidurnya.
Gamya duduk termangu manatap ke luar jendela. Rumah keluarga Cindekia terletak di paling ujung sisi utara desa. Di belakang rumahnya adalah tebing yang diselimuti bekas sawah yang tersusun bertingkat, namun kini sudah ditumbuhi pohon karet. Di sebelah timur berhadapan dengan hutan rimba yang sudah terjamah, namun tidak dijadikan lahan pertanian.
Siang?
"Sayang, di luar itu masih gelap. Bagaimana kalau ada hewan yang masuk?" Gamya menyingkirkan anak rambut yang menghalangi mata Cindekia, mungkin saja rambut itu yang menyebabkan istrinya tidak bisa membedakan siang dan malam.
"Maksud Bapak, harimau atau babi hutan?" Cindekia yang telah duduk di hadapan Gamya, semakin mendekatkan dirinya. Matanya membulat lebar menatap lekat kedua bola mata yang dulu sangat dihindarinya.
"Apakah ada hewan itu di sini?" Gamya menarik selimutnya dan mengeser duduknya menjauhi Cindekia.
Cindekia mengangguk dan bergeser lagi mendekati Gamya, "Ada banyak kalau babi hutan. Kalau berjodoh bapak bisa bertemu dengan harimau di hutan,"
"Sayang,"
"Ya?"
"Kita akan kehilangan waktu subuh jika terus duduk di sini,"
"Ah iyaa," gadis itu segera beranjak dari tempat tidur, "Habisnya masih belum percaya ada idol ajusshi di kamar saya, Pak." ucapnya begitu saja dan segera keluar dari kamarnya.
Idol ajusshi? Gamya hanya menatap heran kepergian istri yang belum sepenuhnya menjadi istrinya.
Gamya menyusul Cindekia ke bilik air dengan atap terbuka yang berada di antara ruang tamu dan ruang makan. Entah siapa yang merancang bangunannya.
__ADS_1
"Ha.ha. tenang saja Pak, mana ada orang iseng mengintip. Di tengah hutan tidak ada orang," ucap Cindekia tatkala Gamya mempertanyakan bilik air yang tak memiliki atap. Jika saat bulan purnama, akan terlihat bulan dengan jelas sambil mandi. Tentu saja ada bulan yang mengintip.
Gamya juga merancang rumahnya dengan konsep terbuka, namun tidak untuk area pribadi.
...π π π...
Jarum pendek jam dinding menunjuk di antara angka enam dan tujuh. Terdengar suara canda tawa ayam-ayam yang sedang mematuk- matuk remahan jagung kering di halaman belakang rumah keluarga Salahuddin.
Lengkap seperti orkestra, cericit suara burung saling menyahut. Sesekali siamang menambahkan nadanya.
Suara senda gurau mereka terdengar masuk ke dalam rumah melalui jendela dan sela sela celah dinding rumah yang terbuat dari susunan papan kayu setebal kurang lebih dua setengah cm.
Bagian dinding dan langit- langit ruangan makan dipenuhi dengan tempelan surat kabar yang sudah menguning. Bisa dipastikan surat kabar itu adalah terbitan tahun delapan puluhan. Terlihat gambar Presiden Soeharto yang sedang melihat padi di salah satu surat kabar itu.
Gamya duduk di kursi meja makan sembari melihat ke arah luar jendela yang berada persis di sebelahnya. Ia memperhatikan ayam- ayam itu dengan seksama dari balik jendela. Berharap bisa membaca pikiran ayam.
Secangkir kopi panas masih mengepul di atas meja, dan di sampingnya ada beberapa potong ubi kayu goreng di atas piring.
"kriet.. kriet.."
Terdengar suara decit lantai kayu saat Cindekia melintas di depan Gamya. Rumah keluarga Cindekia berbentuk rumah panggung berlantai kayu. Ia menyuguhkan kopi untuk tamu yang pagi- pagi sudah mengobrol dengan ayahnya.
"Bapak ingin makan ayam kampung?" Cindekia telah duduk di hadapan Gamya dengan senyum lebarnya. Mereka terpisahkan oleh meja makan yang dicat berwarna kuning. Cindekia mencomot ubi goreng buatan ibunya yang sejak tadi dianggurin Gamya.
Suara Cindekia mengalihkan perhatian Gamya dari ayam, "Kau akan memasak untukku, Sweetie? Aku akan memakan apa saja yang Kau masak."
"Ok Pak," Cindekia berlalu.
Ia beranjak menuruni tangga yang panjangnya kurang lebih satu meter bersebelahan dengan ruang makan, menuju dapur.
"Sayang, siapa tamu yang tengah berbicara dengan ayahmu di depan?" langkah Cindekia terhenti demi menjawab pertanyaan suaminya.
"Maksud Bapak, Pak Isman?" Cindekia mengkerutkan dahinya. Tidak ada orang lain di rumahnya selain Isman dan Gamya.
"Oh, " Gamya mengangguk- anggukan kepalanya. Ia lupa dengan keberadaan supirnya.
Ayah mertuanya masih belum menerimanya sebagai menantu akibat kesalahan pahaman yang diciptakan olehnya. Nyatanya Gamya belum menyentuh putrinya meskipun telah sah menjadi suami istri.
"Tunggu sebentar ya, Pak. Saya potong dulu ayamnya." Cindekia sudah hilang dari pandangan Gamya.
__ADS_1
Potong ayam?
"khok!.. khok!!"
Gamya mengeluarkan kepalanya keluar jendela demi mencari tahu penyebab ayam yang tadi asyik bersenda gurau tiba-tiba berteriak.
Terlihat Cindekia telah berada di bawah jendela dengan parang di tangan kanannya dan seekor ayam di tangan kirinya.
"Sayang apa yang akan Kau lakukan kepadanya?" tanya Gamya histeris dari atas jendela.
"Mau disembelih, Pak. Terus di masak."
"Mengapa Kau memasak peliharaanmu?"
"Lho, buat dimakan dong Pak, dipelihara kan buat dipotong."
Dipotong? Gamya bergidik melihat sisi lain Cindekia yang dikenalnya imut tengah menyembelih ayam yang tak bersalah.
🐔
"Sayang, Kau benar- benar memasaknya," gumam Gamya sedih melihat ayam tanpa nama yang baru saja menemui ajalnya ada di dalam panci yang berisi air mendidih.
Setelah direbus, ayam malang itu siap untuk dicabuti bulunya.
Cindekia sesekali meniup bara api dengan selongsong bambu agar api tetap menyala. Meskipun memiliki kompor minyak, mayoritas penduduk masih memasak dengan kayu.
Ada juga keluarga yang memiliki kompor gas, namun lebih baik menggunakan kayu yang diperoleh secara cuma- cuma di hutan. Cara memasak tradisional yang dipertahankan demi cita rasa yang hakiki.
"Sayang, Aku saja." Gamya mengambil selongsong bambu dari tangan Cindekia, niatnya ingin meringankan beban memasak istrinya.
"Ok,"
Ini pertama kali pria itu melihat secara langsung memasak dengan menggunakan kayu, jadi Ia ingin mencoba hal yang kelihatannya mudah.
Namun, hal yang terlihat mudah belum tentu bisa Ia lakukan. Api yang tadinya hidup menjadi padam.
"ha.. ha.. ha.." Cindekia mentertawakan kegagalan suaminya membuat api menyala sempurna. "Tenang saja Pak, meski apinya padam, cintaku padamu tak akan padam." diusapnya lembut pipi Gamya dengan tangannya yang baru saja menyentuh debu sisa pembakaran di tungku sebelah tungku rebusan ayam.
"Baby, Kau membuatku berdebar," ucap Gamya tersenyum melepaskan tangan kotor Cindekia dari pipi nya.
__ADS_1
"Ehem... ehem, kalian berdua lanjut di kamar saja!" teriakan Nuraini yang tiba-tiba, menghentikan pergerakan Gamya yang akan menempelkan bibirnya di bibir Cindekia.