
Tiga minggu telah berlalu, kehidupan pernikahan Gamya semakin hambar. Istrinya masih saja bersikap menjaga jarak dengannya. Meskipun dirinya pulang saat jam makan malam, istrinya tetap enggan bermesraan dengannya.
"I love you, sampai bertemu nanti sore." Gamya tetap mengecup pipi istrinya meskipun bekas kecupannya segera dihapus.
"Kamu akan pulang cepat dari biasanya?" tanya Cindekia, tidak ada raut senang di wajahnya.
"Ya, Aku ada kejutan untukmu," jawab Gamya bernada pongah.
"Ok,"
Cindekia lagi- lagi menghindar saat Gamya hendak mengecup bibirnya.
Tidak apa- apa, selama Kau masih berada di sisiku, Batin Gamya menenangkan dirinya yang sebenarnya sudah dari kemarin habis kesabaran.
"Aku pergi!"
"Hati- hati Sayang,"
Gamya tersenyum sebelum menutup pintu, setidaknya istrinya masih memanggilnya dengan mesra.
Di sisi lain ada Norah yang telah menunggu momen yang tepat untuk bertemu dengan Gamya di depan pintu lift.
"Selamat pagi!" sapa Norah.
"Pagi,"
__ADS_1
Norah tersenyum dalam hati, meskipun pendekatan yang dilakukannya berjalan lamban. Setidaknya sudah ada komunikasi di antara dirinya dan pujaan hatinya.
"Aku sangat tertarik dengan gelombang ganda yang dikembangkan oleh perusahaanmu, hampir semua platform medis yang... "
"Aku akan memperkenalkanmu dengannya," potong Gamya.
"Ya?"
"Howard, dia adalah kepala teknologi yang memimpin penelitian dan pengembangan produk. Kau bisa berdiskusi dengannya," tegas Gamya sembari masuk ke dalam lift yang telah terbuka.
"Apakah Kau bisa memperkenalkanku dengannya?" Norah terlihat antusias mengikuti Gamya masuk ke dalam lift.
"Bukan masalah,"
Norah segera keluar begitu pintu lift terbuka di lantai yang ia tuju, "ingat! Kau harus memperkenalkan Howard denganku," tagih Norah yang telah keluar, dan menahan pintu lift agar tetap terbuka.
"Tentu," jawab Gamya singkat, dan pintu lift pun tertutup melanjutkan perjalanannya ke basement.
*****
Cindekia akhirnya memeriksakan kehamilannya setelah sahabatnya, Lindri terus mendesaknya setiap hari. Perkiraan kehamilannya 8 minggu.
Butuh kelihaian agar ia bisa pergi ke rumah sakit tanpa diikuti oleh orang yang ditugaskan suaminya untuk mengawasinya.
Setelah turun dari taksi yang mengantarnya kembali pulang, Cindekia memilih duduk sebentar di taman terbuka komplek apartemen.
__ADS_1
Dia tersenyum tipis saat ujung matanya menangkap sosok pria yang selalu mengikutinya sedang berbicara dengan ponselnya.
Siapa yang kau hubungi, temanmu yang kehilangan jejakku atau bosmu? batin Cindekia.
Ia menghela napas memandang taman yang banyak ditumbuhi pepohonan. Seharusnya kehamilannya menjadi kabar bahagia untuk semua orang. Kenyataannya, dia bahkan tidak berani memberitahu ibunya.
"Hai," sapa Norah semringah. Ia sedang mengistirahatkan diri sejenak, tidak sengaja bertemu dengan Cindekia.
"Oh...," balas Cindekia tak bersemangat.
"Kau baru pergi belanja?" tanya Norah menunjuk kantong plastik di tangan Cindekia.
Dengan segera Cindekia menutup plastiknya. Itu adalah beberapa obat- obatan yang dibawanya dari rumah sakit.
"Ya, Aku membeli beberapa bumbu dapur," jawab Cindekia sembari berdiri. "Semoga harimu menyenangkan," dia berjalan meninggalkan Norah.
"Kau juga, semoga perjalananmu menyenangkan, dan selamat sampai tujuan." perkataan Norah menghentikan langkah Cindekia.
perjalanan?
Cindekia berbalik meminta penjelasan "Maaf?"
Norah tersenyum miring, "Tidak, bukan apa- apa...," dia berjalan meninggalkan Cindekia yang kepalanya masih dipenuhi tanda tanya.
Senang membuatmu bingung, aku harap perjalanan kalian tidak berjalan dengan lancar. Batin Norah. Dia tersenyum puas.
__ADS_1