Boss Gila

Boss Gila
Hedon


__ADS_3

"Berhentilah berpikir tentang anak." Gamya mengecup pipi Cindekia. "Istirahatlah Sayang, Kau harus menyimpan banyak energimu karena besok kita akan berangkat," katanya kemudian beranjak pergi meninggalkan Cindekia.


Cindekia berpikir sejenak,


Sudahlah abaikan saja dia, bukankah nanti Aku bisa memanipulasi hasil test kehamilan? Dia tidak akan bisa macam- macam jika tiba-tiba istrinya sudah berbadan dua. Ia tertawa licik dalam hati.


Cindekia menyusul suaminya ke kamar setelah selesai membasuh semua piring kotor. Bagaimana jika dia mempekerjakan banyak wanita dalam hidupnya? Bukankah dia memperkerjakanku jadi istrinya? bisa saja dia juga memperkerjakan wanita lain untuk jadi ibu anaknya. Pikiran nyeleneh menyerang Cindekia.


"Suami!!!" hardik Cindekia begitu masuk ke ruang kerja Gamya.


Gamya yang sedang membaca laporan di layar iPadnya menjadi terkejut batin mendengarnya. Kia, Kau membentakku?


Suara bentakan itu membuatnya ingin segera menarik Cindekia ke dalam pelukannya dan memberi sedikit hukuman.


Gamya tersenyum dingin menyambut Cindekia, "Sweetheart, kenapa Kau berteriak?"


Mendapatkan sambutan dingin dari suaminya, sesaat membuat nyalinya menciut. Tetapi Ia menepis perasaan takutnya. Ia yakin Gamya tak akan KDRT.


Cindekia langsung duduk di pangkuan suaminya. Ia ingat jika marah, Gamya akan memangkunya.


Cindekia mengalungkan lengannya ke leher Gamya, karena pria itu tak kunjung merangkulnya.


Gamya menyingkirkan iPadnya dan fokus dengan Cendekia yang duduk di pangkuannya. Bukan kah Dia tidak suka duduk di pangkuanku?


"Sayang sedang bekerja?" tanya Cindekia menatap layar iPad di atas meja. "Apa Saya mengganggu?"


Ya Kau menggangguku, tapi Aku menyukainya. Batin Gamya.


Gamya melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, "Tidak. Katakan, mengapa Kau duduk di sini, umm..?"

__ADS_1


"Karena Suami akan melakukan ini saat marah, benar kan?"


Gamya tertawa melupakan ketidaksopanan Cindekia yang membentaknya. "Jadi, Kau bermaksud ingin menggodaku. Aku suka Kau menggodaku seperti ini. Lanjutkan."


hah? lanjutkan apa? apa yang mau dilanjutkan? Batin Cindekia bingung melihat suaminya yang hanya diam saja menatapnya.


Menciumnya?


Cindekia segera mendaratkan bibirnya di bibir suaminya. Ia menghentikan ciumannya setelah sadar suaminya hanya diam tidak membalas ciumannya.


Dia tidak suka?


"Umm, lumayan." ucap Gamya memberi penilaiannya. "Lalu apa yang Kau inginkan, Hun ? umm..Benar, Aku baru sadar sejak menikah Kau tidak pernah lagi membeli sesuatu yang baru." Gamya mengecup pipi Cindekia yang masih terbengong memikirkan ciumannya yang bertepuk sebelah tangan.


Tangan kiri Gamya mengelus rambut Cindekia, "Ketika menjadi pacarku, Kau sering menghabiskan uangku di Mall."


"Ah soal itu..."


"Aku menyukainya," potong Gamya. "Aku juga suka Kau duduk di sini saat Aku sedang bekerja," Gamya mengambil kembali iPadnya dan melanjutkan kerjaannya.


Apa ada hal yang tidak dia suka? ciuman tadi? Cindekia hanya diam tidak mengerti membaca tulisan asing yang tertera di layar iPad suaminya. Ia jadi lupa dengan tujuan awalnya.


"Maafkan Aku Sayang, sejak menikah Kau jadi tidak punya waktu untuk menghabiskan uangku, kedepannya Aku akan lebih memperhatikannya lagi," ujar Gamya tanpa mengalihkan pandangannya dari kerjaannya.


Menghabiskan uang? Dia benar-benar mengira Aku ini hedonis? Waktu itu aku melakukannya karena tidak menyukaimu!!. Batin Cindekia. (*hedonis: menganggap materi sebagai tujuan utama hidup)


Tunggu... Aku jadi melupakan sesuatu.


"Suamiku sayang, kedatanganku ke ruangan ini karena ingin berbicara." ucap Cindekia lembut, selembut bolu gulung.

__ADS_1


"Hmm.. bicaralah Sweetie, Aku mendengarkan."


"Mengapa Suami tidak ingin membina sebuah keluarga? Apakah karena tidak percaya dengan Saya yang bisa menjadi ibu yang baik? Saya janji akan belajar memasak yang sesuai dengan selera Suami, akan menjadi orang tua yang mampu mengurus anak dengan baik, kalau perlu ikut kelas parenting." kata Cindekia panjang lebar tanpa jeda.


"Atau apakah ada wanita lain yang Suami pekerjakan untuk itu? jika ada, Sayang bisa memperkenalkan kami berdua. Mungkin Kami akan cocok." katanya lagi sembari tersenyum menatap tajam ke arah suami yang masih setia dengan kerjaannya.


Gamya meletakkan iPadnya kembali di atas meja, "Bisakah Kau membuang pikiranmu tentang wanita lain?" tanyanya lembut dan menarik tengkuk istrinya, lanjut memberikan ciuman lembut pula di bibir istrinya.


Gamya mengakhiri ciuman mesra mereka begitu indra pengecapnya merasakan rasa asin, "Sweetheart, Kau menangis? Aku sudah bahagia hanya denganmu," Gamya menghapus air mata istrinya.


"Ini air mata jatuh, bukan tangisan." elak Cindekia.


Gamya membuang napas kasar, Ia lelah jika harus selalu berdebat tentang hal- hal yang tidak penting menurutnya, "Percayalah, itu tidak akan menyenangkan Hun, Kau hanya akan membuang waktu berhargamu." bujuk Gamya sembari mengelus elus kepala istrinya seperti anak kucing.


"Maksud Bapak apa?"


Gamya tersenyum menyeringai mendengar Cindekia kembali memanggilnya bapak, "Kau memanggilku kembali seperti itu lagi, Sweetie."


"Ya, Saya lebih nyaman,"


Jawaban terus terang Cindekia membuat perasaan Gamya tergelitik, Kau akan bersikap manis jika ada sesuatu yang Kau inginkan?


"Sayang," kata Gamya menginterupsi.


"Ya?"


"Sampai kapan Kau akan duduk di sini? Aku harus bekerja untuk menghidupimu dan membayar gajimu."


"Ah!! Maaf."

__ADS_1


__ADS_2