
"Aku boleh Kau gunakan untuk membantumu," samar ingatan akan ucapan Gamya kepadanya, berputar kembali dipikiran Cindekia.
Tapi waktu itu mungkin saja dia hanya berbasa-basi, bisik pikiran keraguan Cindekia.
Cindekia menekan nomor Gamya di layar ponselnya. Sebenarnya Ia ingat nomor telepon bosnya, jadi tidak ada gunanya juga dihapus. Tetapi biar mendramatisir ya dihapus sajalah.
Jarinya terhenti saat akan menekan tombol telepon. Ia kembali ragu.
dicoba sajalah, tidak ada ruginya.
"tut... tut... tut.. " cukup lama Cindekia menunggu panggilannya dijawab. Sudah hampir tiga bulan Ia tidak pernah lagi berkomunikasi dengan bosnya.
Mungkin dia juga dia sudah lupa.
Cindekia berniat memutuskan panggilannya, namun ternyata panggilan telah tersambung beberapa detik yang lalu, "Hallo," ucapnya sedikit gugup.
Ponselnya tetap hening meskipun panggilannya telah terhubung, "Apa teleponnya rusak?" ucap cindekia melihat layar ponselnya yang memperlihatkan waktu panggilannya yang terus berjalan.
Terdengar suara tawa di ponselnya, "Teleponmu tidak rusak... Babe," Gamya menanggapi gumaman Cindekia.
"Ha__"
"Is there any problem?" suara Gamya membuat Cindekia menghentikan ucapannya.
dia bersama seseorang?
__ADS_1
"Mr Darren is waiting in meeting room," terdengar suara seorang wanita yang sepertinya sedang berbicara dengan Gamya
Semua anak orang dia panggil baby?
"hmm..Let him wait for a minute," ucap Gamya. "Hallo, ada apa menghubungiku?" tanya Gamya kemudian kepada Cindekia yang masih memasang telinga di layar ponselnya.
"Oh itu, Pak... anu, tidak jadi deh," Cindekia memutuskan panggilannya dengan cepat.
Jadi aneh, mengapa tiba-tiba Aku kepikiran menghubunginya? pikir Cindekia. Ia bisa pergi ke kantor konsultan hukum sendiri.
drrrt.
ponsel Cindekia berdering, Gamya memanggilnya kembali.
"Kau tahu Aku sangat sibuk, jadi jangan menghubungiku jika tidak ada yang ingin Kau sampaikan," cerocos Gamya tanpa jedah.
Yang direpetin jadi nyesal sudah coba-coba menghubungi bos yang kadang ada kumat-kumatnya, "Ma_af Pak..."
"Jadi bicaralah!" Gamya memberi perintah.
"Itu, anu... teman saya mau dipenjara, eh.. bukannya Bapak sibuk? itu mbak tadi bilang ada yang waiting," Cindekia tiba-tiba merasa tidak enak mengganggu orang sibuk.
"Benar, Kau menghubungiku di saat Aku sedang sibuk, jadi Kau harus terus bicara!"
"Baik Pak," ucap Cindekia cepat menanggapi perintah atasan.
__ADS_1
Eh maksudnya gimana ini? dia sibuk tapi tetap menyuruhku mengganggunya? ya nurut sajalah.
"Jadi begini Pak, teman saya dipekarakan di pengadilan oleh calon suaminya karena membatalkan pernikahannya. Jadi dia kasian Pak,"
"Hmm... teruskan ceritamu," ucap Gamya terdengar tertarik dengan cerita Cindekia.
"Dia minta tolong kepada Saya, lalu saya minta tolong kepada bapak."
"Ok,"
Mendengar kata 'Ok', Cindekia sangat bergembira hati. "Jadi Bapak bisa tolong teman saya?" tanyanya antusias.
"Tidak mau, Aku sangat sibuk dan tidak peduli dengan temanmu." ucap Gamya terdengar tidak enak didengar.
"Jika Bapak sibuk, kenapa Bapak tadi menyuruh Saya melanjutkan cerita teman saya?" protes Cindekia.
Dilain pihak, Gamya melirik jam tangannya, Ia sedang ditunggu oleh calon mitra bisnisnya, "Karena Aku harus mendengar pembicaraanmu. Kau baru 5 menit berbicara, jadi Kau masih ada hutang bicara 10 jam lagi," kata Gamya kemudian memutuskan sebelah pihak, Ia tidak bisa juga mengabaikan perusahaan ayahnya.
"Hah? kenapa saya jadi punya hutang?" tanya Cindekia penuh keheranan.
"Sudah ya, Aku akan menghubungimu lagi untuk menagih hutangmu." Gamya memutuskan sambungan teleponnya dan bergegas pergi menemui tamunya.
Sementara Cindekia di rumahnya, kepusingannya jadi bertambah. Niatnya minta tolong, bukannya mendapat pertolongan malah jadi punya hutang.
Ia pun pergi ke kulkas dan mengambil ice cream untuk meredakan sakit kepalanya.
__ADS_1