
[Cindekia: Apa Saya perlu membangunkan Bapak besok pagi agar tidak telat ke bandara?"]
[Gamya: Tidak perlu, Aku punya alarm.]
[Cindekia: Baik Pak. ]
Tepat setelah Cindekia menekan tombol kirim di layar, ponselnya langsung berdering memperlihatkan Gamya melakukan panggilan video.
Dengan panik Cindekia segera membersihkan masker yang baru saja selesai Ia lumuri di wajahnya. Setelahnya, Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena tidur-tiduran. Naluri wanitanya muncul ke permukaan.
Ponselnya berhenti berdering setelah Cindekia telah siap mengangkat penggilan video Gamya.
Hingga lima menit kemudian Ia menunggu Gamya menghubunginya sekali lagi, ponselnya tidak juga berbunyi. Seperti ponsel mati.
Dengan kesal Ia mengusap layar ponselnya dan ingin mengetik pesan ke Gamya, Bapak maksudnya apa video call mau ngerjain saya yang udah susah susah hapus masker tahu!
Tapi Ia mengurung niatnya untuk ngomel-ngomel tidak elegan seperti itu.
[Cindekia: Bapak tadi vc? Maaf Pak, dalam mode silent jadi tidak kedengaran.]
Cindekia berharap Gamya menghubunginya kembali setelah membaca pesan darinya.
Tunggu, ini bukan karena Aku yang ingin melihatnya, ini karena Aku sudah hapus masker, benar karena sudah hapus masker. Cindekia menjawab tatapan mencurigai yang tak tampak yang ditujukan kepadanya.
[Gamya: Ya baby, Aku ingin melihatmu sekarang. Aku sangat iri dengan orang orang yang bisa bertemu denganmu besok. Goodnight]
__ADS_1
Matanya membulat maksimal membaca pesan dari bosnya, "gu.. good night dia bilang? hey ya!" gumam Cindekia emosi.
Bentar bentar...kenapa juga Aku jadi emosi orang ini tidak jadi video call, ini karena Aku sudah susah susah hapus makser, ya ini membuatku kesal. Cindekia bermonolog
Cindekia meletakkan ponselnya sembarangan dengan kesal. Ia kembali berbaring di tempat tidurnya, dan memutuskan untuk tidur berselimut dongkol.
Sementara Gamya senyum-semyum tidak jelas duduk berselonjor di atas kasurnya sembari menatap layar ponsel.
Ini bukan kali pertamanya Gamya menjalin hubungan serius dengan seorang wanita. Namun ini kali pertama Ia malah senang membuat wanitanya kesal. Sayangnya Ia tidak bisa melihat langsung wajah kesal Cindekia yang penuh kedongkolan.
"Aku akan menghubungimu besok pagi," Gumamnya sembari meletakkan ponselnya di nakas.
Malam ini Gamya tidur dengan nyenyak karena balasan pesan Cindekia mengisyaratkan permintaan menghubungi kembali. Artinya pendekatannya mengalami kemajuan.
***
Hingga dua kali melakukan pangggilan ulang, Cindekia tidak juga mengangkat panggilan videonya.
"Dia tidak mengangkatnya?" gumamnya kemudian, dan membuatnya mengetik pesan bernada khawatir untuk Cindekia.
[Gamya: Baby, Kau baik-baik saja?]
[Cindekia : Ya Sob]
Tak butuh lama, Gamya segera mendapat balasan dari Cindekia. Dua buah kata yang bermakna.
__ADS_1
Sob?
[Gamya: Kau sengaja tidak menjawab panggilanku karena marah kita tidak jadi vc semalam, baby?]
Ponsel Gamya langsung berbunyi begitu terlihat tanda Cindekia telah membaca pesannya.
emosimu benar-benar bisa ditebak,
"Jangan salah paham, Pak. Saya tadi sedang dikamar mandi!" seru Cindekia begitu melihat Gamya di layar ponselnya.
"Oh," Gamya terlihat acuh dengan keterangan Cindekia. Ia lebih fokus memperhatikan wajah gadis itu.
"Bapak sudah sampai dengan selamat?"
"Hmm berkat do'amu baby,"
"Ah Saya lupa mendoakan keselamatan Bapak." Cindekia ingin membuat wajah sok polos tak berdosa bosnya menjadi mati kutu.
"Tidak apa-apa, memikirkanku semalaman juga bagian dari do'a." Gamya tidak kehabisan kata-kata.
Cindekia terdiam mendengar perkataan Gamya, apa benar orang ini Pak Gamya yang selama ini Aku kenal?
"Pak, sudah dulu ya. Sudah jam 7 nih," kata Cindekia. Meskipun bosnya tidak ada, Ia tetap tidak boleh terlambat.
"Hmm... ingat jangan berkeliaran di kantor, kau mengerti?" ancam Gamya sebelum memutuskan sambungan videonya.
__ADS_1
Cindekia segera matikan panggilannya tanpa menjawab perintah Gamya.
Fiuh..!