
Baru tiga hari berada di kediaman keluarga Lenart, sudah serasa setahun bagi Cindekia. Waktu sangat lama berjalan. Otaknya ingin meledak karena harus menjalani hidup yang penuh keteraturan.
Cindekia meletakkan buku tebal berbahasa asing yang harus dibacanya, dan bersandar di sandaran kursi. "Lapar...," gumamnya.
Ia sengaja beralasan ingin belajar sebelum kedatangan Lara, agar tidak bertemu dengan mertuanya di ruang makan. Tetapi tak disangka, Erlin tidak membawakan sarapan untuknya.
Apa mereka memberiku hukuman? Batinnya. Ia menatap langit- langit mengkhayalkan enaknya makan apa.
Jika berhadapan dengan mertua, Ia tidak bisa meminta bantuan suaminya. Karena Ia takut, bisa- bisa ibu mertuanya semakin tidak menyukainya. Poinnya akan semakin berkurang.
Apa sebaiknya urus SIM internasional saja? benar! Jika bisa membawa kenderaan sendiri, Aku tidak akan terjebak seperti ini. Cindekia bermonolog dalam hati.
"Nyonya!" Terdengar suara Erlin memanggilnya.
Kedua mata Cindekia menoleh ke arah pintu masuk ruangan, seorang wanita asing berjalan di sebelah Erlin.
"Nyonya, dia akan mengambil darah nyonya atas perintah pak Gamya," ucap Erlin memperkenalkan wanita yang dibawanya. Wanita itu adalah petugas laboratorium.
"Good morning Madam, I would like to take your blood sample," ucapnya bernada sopan.
(*Misih, mau ngambil sempel darah)
"Hah? ambil darah?" gumam Cindekia menegakkan punggungnya. "What is this blood for?" tanya kemudian.
(*buat apaan?)
"Your blood sample will be used for a routine complete blood count check, Madam."
(*buat dicek darah rutin lah, mak!)
"Iya, what check?"
"It is.. "
(*Umm itu...)
"Wait! I will ask google." Cindekia memotong penjelasan wanita itu. "Percuma saja menanyainya, Aku juga tidak akan mengerti bahasanya," gumamnya kemudian.
(*Nggak jadi! Aku tanya google aja)
Ia mengeluarkan ponselnya dan siap mengetik layarnya. "Say again, complete what?"
(*Apa tadi kau bilang?)
"CBC, you can google that word."
(*cari aja CBC di google)
Cindekia mengetik CBC sesuai arahan wanita tersebut. "Oh... tes darah untuk mengevaluasi kesehatan secara keseluruhan dan mendeteksi berbagai gangguan," gumam Cindekia sembari mengangguk, membaca layar ponselnya.
__ADS_1
Dia sangat memperhatikan kesehatan istrinya, jadi semakin cinta. Batinnya sedikit senang.
Wanita petugas lab mengartikan anggukan Cindekia sebagai tanda siap untuk diambil darah.
"Madam, Can I have your arms?"
(*Sini tangannya!)
"Oh Okay," Cindekia mengulurkan tangannya dan meletakkannya di sandaran kursi.
"May i help you to roll up your left sleeve because I want to apply this tourniquet on your arm to make the vein easier to find."
(*Gulung lengannya, mau diikat peke ini biar gampang)
(*tourniquet : pengikat berbentuk pita atau tali elastis yang umum digunakan untuk menghentikan perdarahan/atau mau ambil darah)
"Oh Okay."
Wanita tersebut mulai membersihkan area lengan Cindekia yang akan ditusuk jarum dengan alcohol swab. Setelahnya Ia mengambil jarum suntik bersiap untuk mengambil darah Cindekia. "I will insert this needle on your vein. Don't worry, it will be little bit hurt, but it’s okay."
(*Kucucuk ini ya, nggak apanya ini)
Cindekia menarik napas dalam dan mengernyitkan matanya, sedikit sakit. Tetapi tidak akan terasa sakit setelah pasrah dengan keadaan.
"Ok, I have your blood." Wanita itu memindahkan darah yang diambilnya ke dalam sebuah tabung kecil.
(*Udah)
"Thank you."
"Happy to be of service," balas wanita itu tersenyum ramah sembari membereskan peralatannya.
(*Ya )
Cindekia membiarkan Erlin mengantarkan wanita itu. Akhir- akhir ini entah mengapa Ia malas gerak karena merasa sering kelelahan.
Lapar..., habis ambil darah jadi semakin lapar lemah tak berdaya, pikirnya seolah-olah baru donor darah dua kantong saja.
Eh sebentar! seru batin Cindekia. Ia bangkit dari duduknya dan bergegas mengejar petugas lab yang tadi mengambil darahnya.
Namun sayangnya petugas lab itu sudah terlanjur pergi meninggalkan kediaman Lenart.
Lapar membuatku tidak bisa berpikir jernih, batin Cindekia menyadari darahnya bisa saja untuk test kehamilan. Ia bertekad akan lebih berhati- hati untuk seterusnya.
"Nyonya?" sapa Erlin yang sedikit agak bingung karena melihat Cindekia yang terlihat frustasi berdiri di teras rumah.
Pasti dia sangat lapar sekali, batin Erlin.
"Kia, maaf sudah membuatmu menahan lapar. Yuk kita makan," bisik Erlin. Ia hanya melaksanakan perintah tuannya agar Cindekia berpuasa sebelum diambil darahnya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, sebenarnya siapa yang Kau patuhi?" tanya Cindekia dengan volume pelan. Takut ada yang mendengar pembicaraan rahasia mereka. Rencananya untuk memanipulasi hasil test kehamilan gagal total.
Erlin terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Cindekia, Ia adalah double agent yang harus mematuhi Wening dan Gamya demi kelangsungan hidupnya.
"Baiklah kalau Kau tidak mau menjawab, Aku tetap menjadikanmu teman," tegas Cindekia. Saat ini, hanya Erlin yang bisa diajaknya bergosip. Dia bisa apa?
****
Di ruangannya, Gamya tersenyum membaca layar ponselnya. Hasil lab test kehamilan Cindekia telah dikirim kepadanya.
Dengan perasaan senang Ia mencoba menghubungi Cindekia. Ia ingin mendengar suara istrinya di waktu luangnya.
"Ya...," terdengar suara Cindekia bernada kesal begitu panggilan videonya terhubung. Namun, layar ponselnya menunjukkan gambar langit langit rumah.
Dia membentakku? Gamya mengernyitkan dahinya.
"Kau sedang apa, Hun?"
"Masak."
"Apa Kau akan memasak makan malam untuk ibuku?" tawa Gamya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kedua orang tuanya memakan masakan istrinya.
"Ya." Suara Cindekia masih terdengar ketus.
"Sweetie, Apa Kau baik- baik saja?" tanya Gamya bernada khawatir. "Kau ingin Aku menemuimu sekarang?"
Jika Cindekia memintanya, Ia akan langsung mengambil penerbangan sore ini, dan kembali lagi ke Turki besok pagi karena jadwalnya sangat padat.
".... " Hanya terdengar suara seperti mengiris- iris sesuatu di atas talenan.
"Baby, Aku sudah mengatakannya kepadamu, jangan menganggap serius keluargaku. Kau tidak perlu mengikuti perintah mereka." Ia terlihat bingung.
Gamya tidak mengerti mengapa Cindekia bersikeras ingin tetap tinggal di rumah orang tuanya. Padahal Ia sudah mengirim seseorang untuk membawa istrinya kembali ke rumah mereka.
"Saya baik- baik saja." Layar ponselnya menunjukkan wajah Cindekia yang sedang tersenyum manis berada di dapur.
"Hai Honey," sapa Gamya lega, akhirnya Ia bisa melihat wajah istrinya. "Aku ingin mendengar laporanmu hari ini."
"Wahai Suamiku sayang, tidakkah Engkau melihat istrimu ini sedang sibuk memasak?" Cindekia berbicara seperti tokoh dalam opera sabun membaca naskah, Ia memperlihatkan senyum terbaiknya.
"Baiklah, Aku tidak akan mengganggumu. Love you."
"Ya sama- sama."
"Kau bisa meletakkan_,"
Panggilan videonya langsung diputus oleh Cindekia.
Sepertinya dia sangat marah, batin Gamya yang ingin melihat istrinya lebih lama lagi.
__ADS_1
"Dia harusnya meletakan ponselnya tanpa harus mematikannya," gumamnya melanjutkan perkataannya yang terpotong. Telunjuk kirinya mengusap pelipis, sementara jempol kanannya lanjut memainkan layar ponselnya. Ia menghubungi Erlin untuk menanyakan apa yang terjadi di sana. Ia mengira ibunya sangat mempersulit Cindekia, tanpa Ia sadari dirinya sendiri yang menjadi sumber masalahnya.
"Nona sedang marah karena tadi pagi disuruh puasa, sepertinya berbahaya membiarkan nona kelaparan." Keterangan yang diberikan Erlin, yang juga salah paham mengenai mengapa menantu majikannya uring-uringan.