Boss Gila

Boss Gila
Gladi Resik


__ADS_3

Salah satu cara meredakan kemarahan adalah menghabiskan uang.


Hari ini, ponsel Cindekia tak henti- hentinya berdering. Mulai dari orang tua, hingga teman- teman dekatnya menghubunginya untuk mengucapkan terima kasih atas hadiah yang dikirimkannya.


Entah setan apa yang merasukinya, begitulah pikir Lindri, dan Gina setelah mengetahui berapa harga tas yang mereka terima. Begitu juga Rendi dan Damar setelah menerima jam tangan pemberian Cindekia.


Selama seminggu Cindekia mendekam di apartemennya, yang bisa dilakukannya hanya pergi ke supermarket dan mall yang masih dalam satu kawasan lingkungan tempat tinggalnya.


Kekesalannya karena disebut kungkang berganti menjadi perasaan merasa bersalah setelah mendapati dirinya kedatangan bulan.


"Jika Aku tidak hamil, berarti ini benaran vitamin biasa?" gumam Cindekia melirik botol vitamin yang dipegangnya.


Botol kemasannya memang tertulis suplemen tetapi bisa saja isinya penipuan. Namun dugaannya hanyalah prasangka buruk.


Apakah Aku harus minta maaf kepadanya karena telah berburuk sangka? tidak- tidak, itu tidak perlu. Bersikap berlebihan saja, itu sudah bagian dari meminta maaf. Batinnya bermonolog.


Sudah seminggu mereka tidak bertemu secara langsung. Dengan semangat Ia merias diri untuk menyambut kepulangan suaminya dari Turki. Cindekia mengenakan gaun selutut tanpa lengan berwarna merah yang baru saja di belinya.


Tidak lupa Ia mengenakan kalung berlian berwarna pink yang membuat leher jenjangnya semakin tampak bersinar cantik.


Cindekia mengecup bayangan tak kasat mata. "Welcome back Honey!" ucapnya sembari tersenyum genit di depan cermin. Ia melakukan gladi resik sebelum menyambut suaminya pulang.


"Welcome home Darling!" serunya sekali lagi sembari berusaha mengedipkan sebelah matanya namun tidak bisa.


Tidak- tidak, bukan begitu, kurang menggoda. Cindekia menggelengkan kepalanya,


"Kau sedang apa, Sweetie?" suara Gamya tiba-tiba mengejutkan Cindekia. Sangking seriusnya Ia latihan gladi resik hingga tidak mendengar suaminya membuka pintu.


"Astganaga!" pekik Cindekia kaget karena sesaat mengira ada hantu yang mengajaknya bicara.


Gamya menatap heran istrinya, "Kau ingin pergi ke mana dengan pakaian seperti itu?!"


"Mengapa sudah masuk saja?"


"Aku membuka pintu terlebih dulu," jawab Gamya yang merasa Ia melewati tahap membuka pintu.


"Tidak, maksudnya..., ya sudahlah," keluh Cindekia .


"Kau belum menjawab pertanyaanku!" tegas Gamya sekali lagi.


Cindekia mengabaikan protes yang dilayangkan Gamya. Ia mendorong kembali Gamya keluar kamar hingga menuju pintu keluar. "Sayang, sebentar," ucap Cindekia setelah Gamya berada di luar, kemudian ia menutup pintu rumah mereka.


Tak lama kemudian, Ia kembali membuka pintunya. "Welcome home Honey!" Cindekia mempersilahkan Gamya masuk, memeluk dan mengecup bibir suaminya.


Gamya menutup pintu dan menatap heran istrinya yang tengah tersenyum manis kepadanya.

__ADS_1


Apa yang terjadi kepadanya selama Aku tidak ada, perlukah membawanya ke psikiater?


"Sayang, Kamu tidak mengatakan apapun?"


Apa yang bisa kukatakan jika Kau berpakaian seperti ini keluar rumah?! perang batin Gamya.


Apakah istrinya baru pulang dari berbelanja atau ingin pergi berbelanja, adalah pertanyaan yang muncul di kepala Gamya. Biasanya Cindekia tidak pernah berias diri saat di rumah saja.


Mengapa dia diam saja? dia tidak suka? bagaimana sih ini saran di internet? pikir Cindekia bingung.


Ia memutar- mutarkan badannya, memperlihatkan gaun barunya. "Kupikir Kamu akan senang, Saya berdandan seperti ini untuk menyambut Kamu," gerutu Cindekia bernada kecewa.


"Kau tidak keluar dengan pakaian itu, kan?"


"Hah?! No way?!" pekik Cindekia menyilangkan kedua tangannya didada, gaunnya begitu terbuka baik di belakang dan di depan.


Gamya tersenyum dan bernapas lega, perang batinnya telah usai. "Perlukah Aku ulang sekali lagi masuk ke rumah?" tawa Gamya dan menarik Istrinya ke dalam pelukannya. "Aku sangat merindukanmu."


"Ayo berkencan!" seru Cindekia melepaskan pelukan dan menuntun suaminya menuju meja makan.


"Ini yang Kau maksud dengan kencan?" tanya Gamya melihat meja makan yang telah tertata rapi dengan set peralatan makan.


"Iya, candle light dinner," jawab Cindekia sembari menekan remote menutup tirai jendela.


"Makanya Saya tutup tirai biar gelap," Cindekia menghidangkan pasta buatannya yang masih hangat.


Terserah Kau saja, Kia.


Cindekia duduk menatap suaminya dengan senyum lebarnya. "Saya memasaknya sendiri," ucapnya yakin kalau kali ini Ia tidak khilaf lagi.


"Kau membuat pasta?"


"hmmm..."


Gamya mulai memakan hidangan di depannya dengan sedikit ragu. Namun saat pasta itu menyentuh lidahnya, batinnya terkejut. Rasanya sedikit agak lumayan bisa dimakan.


Gamya memberikan jempolnya kepada Cindekia, dan lanjut menghabiskan pastanya.


"Setelah ini, selanjutnya apa yang akan Kau tunjukkan?"


"Saya hanya masak ini,"


Gamya berdiri dari duduknya dan menghampiri Cindekia. "Kencan selanjutnya Sweetie," bisik Gamya melirik bagian tubuh istrinya yang terbuka.


"Nonton, film!!" teriak Cindekia di ujung kalimatnya karena Gamya sudah menggendongnya dan membawanya ke kamar mereka.

__ADS_1


"Eh, Sayang tunggu, tunggu!" Cindekia sedikit panik karena tubuhnya dijatuhkan di atas tempat tidur.


Gamya yang sudah menindih Cindekia langsung menutup mulut Cindekia yang masih ingin bicara.


"Ada apa?" tanya Gamya menghentikan ciumannya karena Cindekia mencubit tangan nakalnya yang sedang merayap di bawah.


"Saya sedang datang bulan," ucap Cindekia tenang.


"Apa?" Gamya ingin tertawa, tetapi tidak bisa. Ia pikir istrinya sedang melakukan pemanasan dengan berpenampilan menggoda menyambut kepulangannya.


"Jika Kau sedang datang bulan, mengapa Kau berpenampilan seperti ini menyambutku?"


"Biar Kamu senang,"


"Kepalaku jadi sakit,"


"Hah? Sayang biar Saya pijat."


Ini kesempatan untuk berbuat baik, sebagai permintaan maaf berburuk sangka.


"Tidak perlu!" Gamya beranjak turun dari tempat tidur. Namun lengannya ditarik dan dipaksa untuk duduk kembali oleh Cindekia.


"Jangan ngeyel! Kamu pasti jetlag terus sakit kepala. Dengan pijatan Cindekia Putri binti Salahuddin pasti pusingnya akan hilang!" seru Cindekia yakin sembari memijat paksa kepala suaminya.


(* jetlag \= rasa lelah akibat menempuh perjalanan cepat ke tempat yang waktunya berbeda dengan tempat yang ditinggalkan)


Gamya duduk dengan pasrah di atas tempat tidur, sementara Cindekia setengah berdiri di belakangnya.


"... Baby, waktu di sana dan di sini sama sama siang hari," ralat Gamya hati- hati.


"Oh.," Cindekia tetap memijat kepala suaminya. "Apakah Kamu sakit kepala karena makan pasta buatan Saya? tapi benaran Saya tidak ada kasih micin lho!"


Gamya menarik tangan Cindekia yang memijat kepalanya, karena sepertinya sakit kepalanya tidak semakin membaik.


Gamya membawa istrinya ke dalam pangkuannya. "Kepalaku sakit karena harus menahan rinduku lebih lama lagi," bisiknya.


"Maaf," ucapnya setelah mengecup bibir suaminya.


Gamya tersenyum menatap mata bulat Cindekia. "Mengapa Kau meminta maaf?"


"Karena telah berbuat salah."


"Oh ya?"


"Saya tidak memakan vitamin yang Kamu perintahkan untuk dimakan, karena Saya pikir Kamu mau meracuni Saya," aku Cindekia pada akhirnya. Ia siap jika Gamya marah dan mungkin memberinya hukuman.

__ADS_1


__ADS_2