Boss Gila

Boss Gila
Ganti Istri


__ADS_3

"Hei, awas saja kalau Kau membiarkan Lily di balkon semalaman!" ancam Ganeeta yang khawatir dengan nasib kucingnya. Mengingat kembarannya adalah orang yang tegaan.


Gamya yang masih memegang sapu juga menyapu Ganeeta keluar dari rumahnya, Ia tidak peduli dengan ancaman saudarinya. "Kau juga keluar!"


"Hei, Hei tunggu, tunggu!"


Cklak! pintu telah ditutup oleh Gamya.


Ganeeta telah berada di koridor. Tidak ada gunanya juga dirinya berteriak minta dibukakan pintu oleh Gamya, yang ada dirinya malah membuat kebisingan karena teriakannya akan menggema ke mana- mana mengganggu tetangga. Ia memutuskan untuk pulang karena yakin Cendekia tidak akan membiarkan kucingnya teraniaya.


Nging.!! suara mesin penyedot debu menggema di ruang tamu. Gamya membersihkan ruang tamu dan sekitarnya.


Setelah mensterilkan rumahnya yang telah terkontaminasi bulu Lily, Gamya duduk di sofa bermain game di ponselnya.


Sementara Cindekia yang cemberut, masih dikurung di teras balkon, namun masih menyempatkan diri berfoto-foto berdua dengan Lily untuk di posting di Instagram.


Cindekia dan Lily dilepas dari balkon setelah asisten kepercayaan Gamya datang untuk membawa Lily.


"Apakah dia bisa dipercaya untuk menjaga Lily?" tanya Cindekia kurang yakin.


"Tenang saja, Babe. Jika makhluk itu mati, dia juga akan mati."


Perkataan Gamya membuat asistennya merinding. "Pak, Anda serius dengan perkataan anda?" Adi yang sedang menjinjing pet cargo berisi Lily jadi ragu apakah akan membawa kucing itu ke rumahnya, atau tidak.

__ADS_1


"Ya. Jika Kau tidak mau merawatnya, Kau juga akan mati." jawab Gamya dingin.


"... " Adi tidak tahu harus berkata apa. Mati segan hidup tak mau.


Cindekia berjalan mendekati Gamya dengan maksud hati untuk merayu suaminya itu, namun Gamya menghalangnya dengan ujung sapu. "Tetaplah berdiri di sana, Hun!" katanya membuat Cindekia jadi berkecil hati.


Gamya beralih ke Adi dan berseru, "Kau cepat bawa pergi makhluk berbulu itu!"


Adi hanya bisa pasrah dengan nasibnya. Ia membawa Lily pergi dengan hati- hati. Nyawanya dipertaruhkan.


Setelah kepergian Adi, Gamya mendorong Cindekia ke kamar mandi umum yang berada di ujung ruang tamu. "Segera mandi bersihkan dirimu, Sayang!"


"Mengapa? Apakah saya berbau dan kotor?!"


Cindekia berbalik hendak berjalan keluar. "Tinggal tukar baju saja! tidak perlu mandi!"


Gamya melemparkan handuk kepada Cindekia dan menutup pintu menghentikan perdebatan.


"Kau tidak boleh keluar sebelum mandi Sayang!" titah Gamya di depan pintu kamar mandi.


Begini lebih baik.


"Ada apa dengannya? memangnya kenapa dengan bulu kucing? memangnya penuh kuman?" gerutu Cindekia di dalam kamar mandi. Ia baru saja mandi, malah disuruh mandi lagi. Tetapi Ia tetap mandi.

__ADS_1


Sementara Gamya mengawasi istrinya di ruang tamu sembari melanjutkan permainan gamenya.


"Sayang!" seru Cindekia yang telah selesai mandi dari balik pintu kamar mandi.


"Ya Sweetie?" sahut Gamya tanpa menoleh ke arah Cindekia.


"Itu.. bisa tolong ambilkan_"


"Tidak pakai baju, juga tidak apa-apa Baby," potong Gamya yang masih asyik dengan gamenya. Ia menebak Cindekia minta tolong diambilkan baju ganti.


"Oh jadi suamiku ingin istrinya tidak pakai baju, terus masuk angin dan mati. Bilang saja terus terang kalau mau ganti istri!" seru Cendekia dari kamar mandi.


glek! Gamya tersedak mendengar celotehan yang merembet entah kemana itu. "Bukan begitu Sayang, maksudku Kau pakai handuk ke kamar..." Gamya menoleh ke arah pintu kamar mandi, dan segera meletakkan ponselnya.


"Hiks.. hiks..."


"Baiklah, baik. Tunggu sebentar! Aku akan mengambilkan bajumu." Gamya segera beranjak ke kamar mereka.


Ada apa dengannya? mood datang bulannya tidak seperti biasanya.


Selepas kepergian Gamya, Cendekia menghentikan akting menangisnya.


Apakah aktingku sudah cukup meyakinkan? Cindekia tertawa kecil penuh kemenangan.

__ADS_1


__ADS_2