Boss Gila

Boss Gila
Fever


__ADS_3

Sore itu, Cindekia berdiri di depan jendela kamarnya. Menatap halaman samping rumahnya yang hampir sepenuhnya tertutup salju.


"Hachuu!!"


Meskipun pemanas ruangan berfungsi. Dirinya masih saja terkena flu.


Dia bilang menungguku? mengapa sepertinya dia menelantarkanku? gerutunya kesal kepada suaminya.


Sudah dua bulan lebih Gamya tidak menemuinya. Salama itu pula Cindekia kehilangan kontak dengan dunia sosialnya, karena ponselnya masih disita.


Ia tidak bisa keluar dari rumahnya yang hangat.


Tok! tok! terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya. Seorang pelayan wanita masuk membawa makanan untuknya.


"Aku bahkan tidak bisa mengobrol dengan mereka, apa mereka semua bisu?" kata Cindekia kesal sembari melirik pelayan yang sedang meletakkan makanannya di atas meja.


Dia pergi menghadapi makanannya setelah pelayan itu meninggalkannya. Dan memutuskan untuk menghabiskan makanannya. ia harus makan yang banyak agar tidak jatuh sakit karena flu nya sudah tidak bisa diajak kompromi.


Usahanya untuk tidak jatuh sakit tidak membuahkan hasil, malamnya ia menggigil meskipun telah membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.


"39,3? bagus, hidupku tidak lagi membosankan sekarang," gumamnya sembari menatap termometer di tangannya.


Cindekia kembali berbaring di tempat tidurnya. "Apa Aku akan mati? ibu bapak, Aku merindukan kalian.. " gumamnya mulai mengigau, kepalanya terasa pusing. Ingin tidur tetapi pikiran belum juga tertidur.


Setelah cukup lama bernegosiasi dengan pikirannya, akhirnya ia jatuh tertidur.


Tepat dirinya jatuh tertidur, seseorang membuka pintu kamarnya. Orang itu adalah Gamya yang terlihat menahan kesal.


Dia masuk dan berjalan mendekati Cindekia. "Hobimu membungkus dirimu, kali ini benar- benar tidak baik," gumamnya sembari menarik selimut yang dikenakan istrinya itu.

__ADS_1


"Astaga Kau juga memakai baju hangat," Gamya kehabisan kata-kata melihat istrinya juga mengenakan sweater.


Segera ia juga melepaskan sweater yang dikenakan istrinya, maksud hatinya ingin membiarkan istrinya itu mengenakan pakaian tipis.


Namun Cindekia membuka matanya saat Gamya meloloskan sweater itu dari kepala Cindekia,


"Eh? Kau ada di sini?" ucap Cindekia tanpa membuka lebar matanya.


dia tersenyum, berbeda dengan Gamya yang menahan napasnya karena takut dituduh yang tidak- tidak meskipun dengan istri sendiri. Ia bukan sekali dua kali kena gampar.


Dengan tersenyum lebar Cindekia menarik leher Gamya, dan mencium suaminya itu.


Meskipun Gamya tahu istrinya menciumnya dalam keadaan tidak sadar, ia tetap membalas mencium istrinya. Ia tidak peduli setelahnya akan digampar atau bagaimana.


Ciuman mereka berakhir ketika Cindekia kembali tertidur di tengah-tengah ciuman mesra mereka.


Gamya hanya bisa tersenyum melihat istri nakal yang sering tidak bertanggung- jawab terhadapnya. "Aku merindukanmu," Gumamnya.


Gamya mengompres dahi Cindekia dengan itu, dan terjaga menjaga istrinya sepanjang malam yang terus mengigau tidak jelas.


Keesokan paginya Cindekia terbangun dan mencari sosok suaminya. Namun dirinya hanya seorang diri.


"Benar, tadi malam hanyalah mimpi," gumamnya menggigit bibir bawah.


Dia merasa lebih baik karena suhu tubuhnya sudah kembali normal, setelah pagi- pagi sekali sudah datang seorang dokter menginjeksikan obat kepadanya.


Namun dirinya kembali merasa tidak baik karena kedatangan ibu mertuanya.


Wening tidak bisa menunda-nunda lagi untuk segera mengusir menantunya, setelah mendengar informasi dari salah satu pelayan yang bekerja di rumah putranya, pelayan yang juga sekaligus menjadi informannya, bahwa putranya sudah dua bulan lebih tidak menemui istrinya.

__ADS_1


"Mami ingin melihatmu sebelum pulang, karena mengkhawatirkan keadaanmu. Kudengar Kau sedang sakit," ucap Wening lembut.


"Terima Kasih, Mami."


Wening tidak sendiri, putrinya ikut dengannya.


"Aku kasihan kepadamu. Bukannya bersamamu, tapi anak itu sudah bersama dengan wanita lain," kata Ganeeta sembari menunjukkan foto Gamya bersama Norah, yang di upload Norah di akun instagram pribadinya.


"Apakah Kau kesal? Aku juga kesal, anak itu... Sebaiknya Kau tinggalkan saja dia, dan tuntutlah yang banyak. Kau ingin Aku membantumu membuat tuntutan?" imbuhnya bersemangat.


"Gane!" hardik Wening. Kau ingin menuntut saudaramu?


Jadi dia benar-benar sudah menyukai wanita lain? Tidak, itu Aku yang lebih dulu menginginkan perpisahan. Pikir Cindekia menenangkan emosinya.


Entah mengapa hatinya terasa sakit, ia akui dirinya bodoh karena masih mencintai suaminya, dan berharap pria itu berubah menjadi sosok ayah yang baik.


"Karena Kau kelihatannya baik- baik saja, Mami pergi." Wening beranjak berdiri dari duduknya.


Cindekia ikut berdiri mengantar kepergian Wening hingga depan pintu rumah.


Wening mengambil tangan Cindekia dan menggenggamnya, "Sebagai orang tua, Mami menginginkan kebahagiaan untuk Gamya," katanya bernada tulus, dan mendekat. "Jika Kau tidak bisa membuatnya bahagia, menyerahlah. Aku yakin Kau sudah melihatnya tertawa dengan wanita lain," bisik Wening.


deg.


Mami yang mengirimkan video itu?


"Mami.. "


"Kami pergi, jaga kesehatanmu," ucap Wening, dan masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


"Hati- hati Mami,"


Geneeta menepuk pundak Cindekia sebelum menyusul ibunya masuk ke dalam mobil, "Aku tidak suka mencampuri rumah tangga Kalian, tetapi Aku suka jika Kau membuat anak itu bangkrut, hahaha," tawa Ganeeta dan menyusul ibunya.


__ADS_2