
"Apa Bapak berharap Saya tanpa sengaja menceritakan apa yang terjadi di kantor?" tebakan Cindekia membuat Gamya tertawa ringan.
"Sudah Saya duga seperti itu, tenang saja Pak. Saya akan melaporkan kepada Bapak jika melihat pergerakan yang mencurigakan di kantor." Cindekia terdengar siap menjadi informan setia untuk Gamya.
"Ya, Kau harus memberikan laporan secara lisan setiap harinya." Ia menjatuhkan dirinya dikursi kebesarannya.
Ingin rasanya Ia langsung terbang mendatangi gadis yang tengah berbicara dengannya di telepon. Ia sangat merindukan gadis itu. Gadis yang saat ini belum bisa Ia peluk sepuas hati.
Cindekia pun mulai mencicil hutangnya, namun bukan tentang kondisi lingkungan kantor yang Ia ceritakan. Ia menceritakan kondisi terkini tentang kampung halamannya, salah satunya tentang kambingnya yang telah melahirkan dua anak.
"Jadi begitu ceritanya, Pak." Cindekia mengakhiri ceritanya.
"Kelihatannya Kau sangat senang?" Gamya mengira Cindekia akan menangis tujuh hari tujuh malam karena rencana pernikahan dengan orang yang dicintainya berakhir tidak sesuai dengan keinginan.
"Ya tentu saja, Pak. Sekarang jumlah kambing saya ada sepuluh. Eh sudah malam, Bapak mungkin ingin istirahat."
Gamya melihat matahari yang masih nongkrong di langit dari balik jendela ruangannya. "Hmm... tidurlah yang nyenyak."
"Iya, Pak. Bapak juga." Cindekia memutuskan sambungan teleponnya.
Gamya kembali melanjutkan rutinitasnya, di hadapannya telah berdiri beberapa staff menunggu untuk menyerahkan berkas progress kepada bos mereka yang sedari tadi asyik teleponan tidak jelas.
*
🐱 🐱
*
Meski sedang terjerat kasus hukum, Cindekia kini dengan tenang bekerja. Ia percayakan semuanya kepada Jasson yang terlihat meyakinkan akan menyelesaikan kasus yang menimpanya dengan baik sesuai janji.
Namun sekali lagi ekspektasi berhasil mencetak kekecewaan. Realita tidak sesuai ekspektasi.
Cindekia menggenggam erat surat putusan pengadilan, Ia tidak terima dirinya harus membayar ganti rugi sebesar 600 juta kepada Dyan yang kini sudah bukan lagi temannya.
Apanya yang tenang dan jangan khawatir?
"Pak Jasson, ini serius Saya harus membayar kepada orang ini?" tanya Cindekia kepada Jasson yang duduk di depannya dengan tenang.
Jasson mengangguk mengiyakan, "Iya benar,"
Dirinya memang menerima begitu saja tuntutan penggugat yakni Dyan. Karena Ia juga menuntut Dyan untuk tidak menemui dan menghubungi Cindekia lagi tanpa batas waktu. Ia bisa melaporkan balik Dyan atas tuduhan pemerasan dan pengancaman.
Cindekia menatap tajam Jasson, "Bapak sebenarnya kuasa hukum siapa? Saya atau orang ini?"
__ADS_1
"Saya Kuasa hukum Anda, jika Anda membutuhkan bantuan hukum. Silahkan menghubungi Saya."
"Apanya? ini sama juga menguntungkan orang itu. 600 juta itu sudah bisa Saya pakai beli rumah atau mobil," ratap Cindekia yang harus rela kehilangan sebahagian besar uang simpanannya yang sebesar 1M.
"Kalau begitu, Saya permisi." Ia dilarang lama lama berbicara dengan Cindekia.
Cindekia dengan lesu mengantar Jasson hingga depan rumahnya. Meski kuasa hukumnya mengecewakannya, Cindekia harus tetap berterima kasih kepada Gamya karena mengirim serta membayar jasa kuasa hukumnya.
Sementara di sisi lain, Dyan juga tidak bisa menerima putusan pengadilan. Bukan hanya rencana pernikahannya yang kandas, tetapi Ia telah resmi putus hubungan dengan Cindekia.
Ia tidak ingin kehilangan gadis itu. Cindekia telah lama selalu ada di sisinya setiap kali Ia membutuhkan seseorang teman.
Ia tidak menyangka temannya itu bisa membayar pengacara mahal seperti Jasson. Dilihat dari pakaian serta kenderaan yang digunakannya sudah bisa dinilai Ia adalah pengacara yang cukup sukses dibidangnya. Bahkan dengan gampang menyetujui tuntutannya seolah tidak begitu peduli dengan uang sebesar itu yang secara langsung ingin menjatuhkan harga dirinya.
Di benua lain, Gamya tersenyum senang menerima laporan Jasson. Sudah dua kali Ia melepaskan Cindekia. Dan sekali lagi gadis itu datang kepadanya.
*
🐱 🐱
*
Pagi-pagi buta Cindekia sudah berkutat di dapur. Ia mencurahkan segala kemampuannya menganalisis resep yang dipelajarinya. Kali ini Ia harus berhasil membuat croissant.
Ia tidak berniat memberikannya langsung kepada Gamya, Ia hanya akan menitipkannya kepada sekretaris bosnya itu begitu tiba di kantor. Bukan apa, takut nanti disangka perebut pacar orang pula.
"Bu Rida?" kata Fauzi, pria yang sebelumnya adalah sekretaris Gamya.
"Pak Direktur, " jelas Cindekia sekali lagi.
Dengan sabar Fauzi menjelaskan sekali lagi, "Bu Rida adalah Direktur kita sekarang..., sudah sebulan lebih,"
"Hah yang benar?" Cindekia masih tidak percaya. Mau langsung masuk ke ruangan direktur tidak berani juga. Akhirnya Ia memutuskan mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Gamya.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif," seorang wanita menjawab panggilan Cindekia.
tidak aktif? semalam masih aktif.
"Ya sudah terima kasih, Pak Fauzi." Cindekia kembali membawa croissantnya menuju ruangan kerjanya.
*
__ADS_1
🐅
*
3 tahun kemudian,
Seorang anak lelaki berusia sekitar empat tahun sedang mengejar bola yang mengelinding di sebuah hamparan rumput manila.
Bola itu berhenti di kaki Cindekia, "Dek, ini bola basket bukan bola sepak," ucap gadis itu lembut sembari menyerahkan bola itu kepada si empunya bola.
Namun tak dinyana anak kecil itu malah menangis, "Huahkk huakhh!" dan memanggil mamanya.
Tak lama kemudian datanglah ibu- ibu bergaya sosialita menghampiri Cindekia dan anak kecil yang tengah menangis.
"Kamu apakan anak saya?"
Terang saja Cindekia menjadi panik, "Anaknya nangis sendiri Bu." elaknya.
"Mama! mama!" Dua orang anak kecil berteriak, teriakannya ditujukan kepada si Ibu sosialita, entah darimana datangnya muncul lagi tiga orang anak kecil yang berumur sekitar 2 hingga 3 tahun.
"Di mana papa kalian?" tanya si Ibu sosialita.
Tiba-tiba Gamya hadir di antara mereka, "Lho Bapak?" tanya Cindekia bingung melihat mantan bosnya terlihat sangat kurusan dan mengenakan celemek.
"Jadi ini semua anak bapak?"
"Benar, " jawab Gamya singkat.
"Berarti sibuk yang Bapak maksud itu sibuk ngurus anak?" tanya Cindekia tidak percaya ada berapa jumlah anak yang dimiliki mantan bosnya.
"Cindekia!" suara pak Damar mengejutkan Cindekia dan membuatnya tersentak.
Gadis itu membuka matanya, terlihat di depannya roti croissant buatannya tiga tahun lalu.
"Cindekia! masih pagi Kau sudah tidur? Tidak ada kerjaan kah?" hardik Damar yang berdiri di sebelah kubikel Cindekia.
Cindekia segera duduk tegak menatap pak Damar, "Iya Pak, siap." ucapnya kemudian.
Damar menggelengkan kepalanya dan berjalan pergi meninggalkan Cindekia.
"Ternyata cuman mimpi, mimpi yang sangat buruk tentang tiga tahun yang akan datang," gumamnya.
Apa yang terjadi dengan pak Gamya?
__ADS_1
Cindekia segera berdiri, "tidak bisa, Aku harus memastikan apa yang terjadi." bisiknya dan segera meninggalkan mejanya.
"Pak Damar, Saya ijin keluar sebentar ya! ada hal urgent!" teriaknya tanpa peduli Damar memberinya ijin atau tidak, Ia telah meninggalkan ruangannya.