Boss Gila

Boss Gila
BAB 40 Tak seberat cintaku padamu.


__ADS_3

Gamya ingin menjemput Cindekia berangkat kerja. Namun Ia tidak ingin gadis itu mengomel dihari pertama mereka resmi menjalin hubungan serius karena terlambat datang ke kantor.


Pak Isman yang sedang duduk mengemudi dibuat heran dengan tuannya yang sedari tadi senyum-senyum tidak jelas duduk di bangku belakang. Ia bimbang apakah akan melaporkan hal ini kepada nyonya Lenart atau tidak.


Akhirnya pak Isman tidak memberitahukan nyonya Lenart. Ia akan melihat dulu perkembangannya. Jika masih berlanjut, mungkin Ia akan melaporkannya. Agar tuannya lekas ditanganin oleh psikiater.


Setelah mengetahui dirinya adalah pria pertama yang menyentuh Cindekia, Gamya memutuskan untuk memiliki gadis itu karena rasa tanggung jawabnya yang tinggi. Ia tidak peduli dengan Cindekia yang mencintai lelaki lain.


Setelah kontrak kerjasama mereka berakhir dua minggu lagi, Ia masih memiliki banyak cara untuk memaksa Cindekia tetap bersamanya.


Aku bisa mengurungnya bila perlu, bisikan jahat tiba-tiba muncul di kepala Gamya.


Tidak, Aku bukan orang yang sekejam itu, batin Gamya.


Harapannya ingin langsung melihat Cindekia sirna. Gadis itu tidak ada di mejanya, saat Gamya telah sampai di ruangannya.


Dia tidak pernah terlambat,


Gamya segera menghubungi Cindekia.


"Iya, Pak?" terdengar suara berat Cindekia setelah sambungan teleponnya terhubung.


"Kau di mana?"

__ADS_1


"Oh, Bapak sudah datang? bentar Pak."


"Kau di mana?"


"Ah sudah di depan unit penjualan, bentar lagi sampai kok Pak," jawab Cindekia.


Gamya segera mematikan sambungan teleponnya dan segera menyusul Cindekia.


Cindekia yang melihat Gamya sudah sampai di lantai yang sama dengannya, segera meletakan barang bawaannya di lantai.


"Loh Bapak ke sini, apa ada pekerjaan mendesak yang harus Saya lakukan?" tanya Cindekia panik karena pagi-pagi harus ada tugas tambahan segala.


"Apa itu?" Gamya melirik kotak yang tergeletak di depan Cindekia.


"Oh ini kertas hvs Pak,"


"Iya Pak, lebih efisien langsung bawa satu kotak daripada harus bolak balik bawa sedikit sedikit." Cindekia tersenyum bangga dengan pemikirannya yang cermelang.


Gamya tidak mengerti jalan pemikiran Cindekia.


"Bagaimana bisa Kau berpikir untuk membawa barang yang berat begitu__"


"Selamat Pagi Pak Gamya," salah seorang pegawai lelaki memotong perkataan Gamya. Dia memang tidak memiliki etika meskipun Ia menundukkan kepala menghormati bosnya.

__ADS_1


"hmm.."


"Kia, biar Aku bantu membawakannya," sapa pegawai itu dan segera mengangkat kotak kertas yang menjadi bahan pembicaraan itu.


Cindekia tersenyum semringah, "Oh iya, terima kasih banget Ren," ucapnya kepada Rendi. "Yok, Pak." ucapnya kepada Gamya.


Luar biasa, Kau memang gadis yang cerdas, memanfaatkan kelemahan lelaki. Akhirnya Gamya paham jalan pemikiran Cindekia tentang efisien.


"Mari Pak," sapa Rendi dengan sopan.


Gamya segera mengambil alih kotak yang dibawa Rendi ketika lelaki itu hendak melewatinya, "biar Aku membawanya,"


"Jangan Pak, Saya saja," tolak rendi tidak enak hati, bagaimana bisa membiarkan Pak bos jadi tukang angkat barang.


Gamya menatap Rendi dengan dingin, membuat nyalinya menciut dan menyerahkan kotak yang beratnya sekitar 12 kg itu kepada Gamya.


Pasti isinya adalah berkas penting dan bersifat rahasia, pikir Rendi.


Sementara Cindekia hanya terbengong bingung, mengapa jadi Pak bos yang angkat? duh.


"Ren duluan ya," Cindekia segera menyusul Gamya.


"Pak, duh maaf Pak, itu kotak nya Saya yang bawa," katanya kemudian.

__ADS_1


Gamya mengabaikan Cindekia, Ia fokus menunggu pintu lift terbuka. Dan langsung masuk begitu pintu itu terbuka lebar.


"Pak? Bapak bisa memberikan kotak itu kepada Saya," ucap Cindekia sekali lagi setelah pintu lift tertutup.


__ADS_2