Boss Gila

Boss Gila
Bermesraan di dapur umum itu tidak boleh


__ADS_3

Ganggang sapu terlepas dari tangan Cindekia karena kaget.


"Sayang, apa yang sedang Kau lakukan di sini?" terdengar suara Gamya berbisik di belakang telinganya.


Kedua tangannya dilipat kedepan oleh sosok suami yang berdiri dibelakangnya. Gamya yang merangkulnya dari belakang membuatnya sedikit merinding setelah melihat sosok dingin suaminya kepada Tina.


Gamya mengecup tengkuk leher istrinya, "Kemarilah, jangan membuat dirimu terluka nantinya,"


Mau tidak mau, Cindekia mengikuti Gamya ke dapur. Ia hanya berdiri memperhatikan suaminya memasak.


Cindekia telah mengikuti kelas memasak selama seminggu, tapi kemampuan memasaknya masih ala kadarnya.


Dilihatnya Tina yang telah mengobati lukanya, tengah membersihkan pecahan vas, "apakah Bapak serius memecatnya?" tanya Cindekia ingin tahu.


Bagaimana bisa dia memecat pekerja yang baru saja mengalami kecelakaan kerja?


"Kau mendengarnya?" Gamya hanya melemparkan senyum lembutnya, tanpa menghentikan aktivitas memasaknya.


"Sebagai majikan, Bapak seharusnya bertanggung jawab terhadap kecelakaan kerja yang dialami pekerja? Bapak tidak bisa memutuskan hubungan kerja seperti itu," Cindekia memberanikan diri melayangkan protesnya setelah melihat senyum lembut Gamya.


"Baby, menghabiskan waktu memikirkan orang lain akan menguras banyak energimu. Bukankah Kau hampir mati kelaparan?"


"Saya tidak ingin berdebat dengan Bapak,"


"Maka jangan melakukannya," ucap Gamya sembari meletakkan steak sapi dengan tingkat kematangan medium di atas piring keramik.

__ADS_1


"Saya hanya tidak ingin Bapak menjadi kejam tidak memiliki nurani." kata Cindekia, Ia tidak ingin percaya jika pria yang sedang menuangkan


brown sauce di atas steak dengan kehati- hatian adalah pria tak berhati.


"Sweetie, bisakah Kau membantuku meletakkannya di atas meja makan?" Gamya menyerahkan dua piring berisi Steak sapi kepada Cindekia.


Dengan patuh Cindekia menuruti perintah Gamya, "Baik,"


Lagi- lagi suaminya hobi membuatnya melupakan topik pembicaraan.


"Terima Kasih," Gamya mengusap mesra pinggang belakang dan mengecup pipi Cindekia, begitu piring di kedua tangannya berpindah ke tangan istrinya itu.


Setelahnya Ia pergi mengambil lemon tea di kulkas.


Kedua tangan Gamya yang menganggur membuatnya leluasa memeluk dari belakang dan mengecup pundak belakang istrinya.


"Mengapa Kau memikirkannya, Hun?" bisiknya, tak lupa memberikan gigitan kecil di daun telinga Cindekia.


"Pak, tidak boleh bermesraan di depan umum," kesal Cindekia melepaskan rangkulan tangan Gamya dan mendorongnya menjauh. Meskipun sekujur tubuhnya meremang menyukai setiap sentuhan suaminya, Ia harus bisa mengontrol dirinya di depan umum.


"Tempat umum?" Gamya memasang wajah bingung. Bagaimana bisa rumah pribadinya menjadi tempat umum?


"hmm... boleh juga candaanmu, Baby." Gamya kembali berbuat nakal dengan menarik pinggang Cindekia hingga menghadap kepadanya lebih rapat dengan celah yang sempit.


Namun Cindekia menangkup kedua pipi Gamya dan memutarnya ke samping, untuk melihat ada seseorang yang tengah memangkas pohon di halaman rumah. "Kalau ada orang lain di sekitar yang bisa melihat, namanya tempat umum."

__ADS_1


Gamya melepaskan Cindekia dan memperlihatkan wajah patah semangat, "lekaslah makan, Sayang." perintahnya sembari duduk manis seperti anak baik di kursinya.


Tanpa bicara lagi Gamya mulai memotong daging steak miliknya dan memakannya. Ia tidak mengira setelah menjadikan Cindekia istri, tetap tidak bisa menyentuhnya sesuka hati.


"Pak, "


"Jangan berbicara saat makan, Sweetheart." potong Gamya. Ia tidak ingin berdebat, yang diinginkannya hanyalah bermesraan dengan istrinya.


"Lho sekarang sudah tidak boleh? semalam- malam boleh." gumam Cindekia tidak terima dengan peraturan yang baru.


Hening, keduanya makan tanpa suara. Dibenak Cindekia masih mengharapkan Gamya tidak jadi memecat Tina. Bukan karena Ia adalah nyonya yang baik hati dan tidak sombong, tetapi Ia ingin suaminya berubah menjadi makhluk sosial.


Cindekia bermaksud mencuci piring bekas makan meraka, namun Gamya menghentikannya.


"Kau tidak perlu mencucinya." Gamya menarik lengan Cindekia dan menggendongnya seperti kuola. Takut jatuh, Cindekia segera merangkul erat leher suaminya. Ia tidak berani untuk memberontak minta diturunkan, karena melihat wajah serius suaminya.


"Lho kenapa Pak? biasanya kan Saya yang membereskannya." Cindekia perlahan mencoba turun dari gendongan suaminya. Namun Gamya menahannya untuk tetap berada dalam gendongannya, dan berjalan menuju kamar mereka.


"Itu karena Aku ingin mengganggumu, tetapi karena sekarang dapurku sudah menjadi tempat umum, Kau tidak perlu lagi mencuci piring." jawab Gamya enteng.


Gamya membawa Cindekia ke ruang kerjanya, dan mendudukan Cindekia di atas meja kerjanya yang lumayan besar dan luas.


"Tetaplah duduk di sini!" perintahnya kemudian.


"Oke," Cindekia dengan patuh tetap duduk dan mengayun- ayunkan kakinya. Ia tersenyum malu membayangkan mereka akan bermesraan di ruang kerja.

__ADS_1


__ADS_2