Boss Gila

Boss Gila
Pesta


__ADS_3

Di sebuah Ballroom Hotel dengan nuansa putih, yang melambangkan awal menjalankan kehidupan baru.


Dekorasi ballroom dimana resepsi pernikahan Gamya dan Cindekia diadakan, menggunakan perpaduan ribuan bunga mawar, angrek, antirinum, gypsophila, yang didominasi warna putih membuat suasana ruangan terasa bersih, dan damai.


Satu persatu tamu undangan menempati meja yang tersedia. Di salah satu rombongan, ada 4 orang tamu undangan tampak tengah melakukan perdebatan kecil. Mereka adalah Gina, Rendi, Nawir, Heri.


Saat menerima undangan dari Cindekia, mereka mentertawakan nama mempelai pria yang sama dengan nama bos mereka. Tidak disangka yang menjadi mempelai pria memang benar adalah bos yang paling mereka hindari.


"Aku sudah menduga ada sesuatu di antara Kia dan pak Gamya," Gina mengemukaan apa yang selama ini ada dibenaknya.


"Kia kecilku yang malang..." celetuk Rendi iba dengan temannya. "Pak Gamya pasti memaksanya, tidakkah kalian berpikir begitu?" imbuhnya kemudian.


Dua orang yang lain menggeleng tidak setuju dengan pemikiran Rendi. Sementara Nawir dengan matanya yang masih mawas, mencari tempat untuk mereka berempat.


"Hoi, Kau tidak peka ya? belakangan ini, Kia yang antifans aliran keras tiba-tiba jadi silent reader di forum ghibah." tutur Gina mencoba menyadarkan Rendi.


"Benar, Dia adalah pengkhianat bangsa." cetus Heri menambahkan penuturan Gina.


"Boi! di sana Boi!" Pekik Heri dengan jarinya menunjuk arah timur, menghentikan ghibah temannya.


Penglihatan Heri sangat lihai memilih meja yang diisi oleh para wanita.


Meja bundar yang memiliki delapan kursi, menyisakan empat kursi untuk mereka.


Keempatnya duduk dengan baik dan benar. Ternyata penglihatan Heri tidak selamanya akurat, karena keempat wanita yang duduk di hadapan mereka adalah ibu- ibu paruh baya.


Harapan ketiga pria jomblo itu pupus sudah. Berbeda dengan Gina yang senyam- senyum melihat ekspresi kecewa ketiga temannya.


Mereka ingin melanjutkan ghibah, tapi tidak enak dengan empat orang tamu undangan yang juga duduk di kursi meja yang sama dengan mereka.


Akhirnya mereka memilih Damar sebagai bahan ghibah mereka.


"Apakah kalian temannya mempelai pria?" tanya salah satu dari keempat wanita itu.


"Bukan, Kami..."


"Kami adalah rekan kerja mempelai pria," sela Gina, memotong perkataan Nawir. "Dan mereka bertiga ini masih jomblo." katanya kemudian dengan tenang, membuatnya menjadi perhatian ketiga temannya.


"Mungkin Ibu- ibu berminat menjadikan mereka bertiga ini menantu, mereka bisa diandalkan lho." promo Gina disambut tawa oleh semuanya.


"Iklan yang bagus Gina," bisik Nawir bernada sindiran.

__ADS_1


"Apa kalian juga bos seperti mempelai pria?" celetuk salah seorang Ibu yang mengenakan dress kebaya merah.


"Bu Tiwi ingin punya menantu yang begitu? harus dihamilin dulu anaknya." cibir Ibu berbaju kuning tanpa melihat situasi dan kondisi.


"Maksud Ibu apa ya?" tanya Gina, ingin tahu dari mana si Ibu berasal.


Ibu- ibu itu adalah saudara jauh Cindekia yang maksa ingin ikut pergi menghadiri resepsi.


Ibu berbaju kuning, menyunggingkan senyum menelaah Gina. "Dia pasti menyerahkan tubuhnya, dan menjebak pria kaya untuk menikahinya. Kamu jangan seperti itu." cibirnya yang diakhiri saran kepada Gina.


"Ck.. Bibi apakah Kau sedang membicarakan pengantin wanita?" sembur Gina membulatkan bola matanya menahan geram.


Sementara ketiga temannya memilih mengambil botol air mineral yang tersedia di depan meraka untuk diminum.


"Tentu saja," aku si ibu mantap.


Gina juga mengikuti temannya meminum air mineral, "Bibi, Apakah Kau tidak gosok gigi dulu sebelum pergi ke sini? mulutmu begitu bau hingga tercium ke sini." sindir Gina.


Si Ibu berbaju kuning terang saja memerah, bagaimana bisa dirinya dihina oleh seorang wanita muda di depan khalayak ramai. "Apakah orang tuamu tidak mendidikmu menjadi anak yang santun?!" tegurnya.


"Bibi bisa menyusul orang tua saya ke liang lahat untuk bertanya bagaimana Saya dididik." tangkas Gina tidak ingin kalah.


"Jika kalian ingin mencari keributan, jangan duduk di sini." hardik salah seorang ibu yang sedari tadi diam.


"Bagaimana ya, kami sudah duduk nih" tantang Gina.


Heri menghela napas, Ia merutuki matanya yang salah pilih meja.


Perdebatan mereka terhenti ketika mendengar MC yang sedari tadi berbicara tidak didengar, tiba- tiba menyebutkan kedua pengantin akan memasuki aula.


Tabuhan gendang dan alat musik lain, serta tarian dari para penari tradisional mengiringi kedatangan kedua pengantin.


Dengan balutan pakaian adat pengantin, Cindekia tampak cantik berjalan anggun menggandeng tangan pria di sebelahnya yang tak kalah berkarisma.


"Cantik banget," gumam Gina menatap kagum baju pengantin yang dikenakan Cindekia.


"Kamu juga cantik," puji Nawir yang duduk di sebelah Gina.


"Aku tahu Aku cantik, Maksudku itu bajunya cantik banget." aku Gina tanpa mengalihkan pandangannya dari iring- iringan pengantin yang berjalan menuju pelaminan.


"Kamu suka bajunya?"

__ADS_1


"he eh"


"Kalau begitu kita nikah yuk, biar Kamu bisa pakai baju yang seperti itu."


Gina menoleh ke arah Nawir yang berbicara sembarangan, "Ide bagus, yuk nikah."


"Apakah pembicaraan kalian ini serius?" Heri yang mendengar bisik bisik kedua temannya, ikut nimbrung.


"Tentu saja!" serentak Gina dan Nawir menanggapi.


"Nanti amplop kalian harus tebal ya," lanjut Gina.


Sementara itu, tak jauh dari mereka ada Lindri yang tengah menatap Ganeeta dengan tatapan penuh kebencian.


"Apakah Anda mengenal Saya? mengapa Anda mengikuti Saya?" tanya Ganeeta bingung dengan orang asing yang sepertinya tidak menyukai keberadaannya. Sementara Ia sendiri merasa tidak pernah menyinggung sesiapa pun.


"Anda bisa berbicara bahasa Indonesia?" cemooh Lindri.


"Ya, tentu."


"Saya membenci wanita asing seperti Kamu! Apa yang Kamu lakukan disini," hardik Lindri dengan sorot mata yang penuh kebencian, seakan Ganeeta adalah penjahat kelas dunia.


Ganeeta semakin bingung dengan orang yang tidak dikenal, tiba- tiba menghardik dirinya dengan kasar.


"Apakah Saya mengganggu Anda?" tanyanya masih dengan nada lembut. Ia tidak boleh membuat pertengkaran di acara saudaranya.


"Ma'afkan istri saya," pinta Suami Lindri yang baru datang dari mengajak anak pertamanya bermain diluar aula.


"Mama!" anak kecil yang ditenteng pria itu langsung menenggelamkan kepalanya di pangkuan lindri.


"Sayang, duduk dengan papa ya," bujuk Lindri kepada putrinya yang berusia 2 tahun.


Sementara suaminya kembali lagi meminta maaf kepada Ganeeta, "Ma'af mbak, istri saya sedang hamil." ucapnya sembari mendudukan putrinya di atas kursi.


"Your pregnant wife has nothing to do with me," Gumam Ganeeta.


(*Apa hubungannya denganku.)


"Saya mau anak saya nanti mirip bule, putih mancung, cantik kayak Mbak. Nggak apa- apa ya kalau saya benci mbaknya," terang Lindri sembari mengusap perut besarnya.


".... Ya silakan membenci saya sebanyak yang Anda mau," jawab Ganeeta yang masih tidak mengerti tentang orang tak dikenal yang duduk satu meja dengannya.

__ADS_1


__ADS_2