
"Sweetie, Kau membuat larangan bermesraan di depan umum. Ingat," ucap Gamya mengingatkan Cindekia. Ia berusaha bersikap tenang sembari berjalan keluar menuju pintu keluar pakiran. Adi telah berdiri di depan mobil, menunggunya di depan pintu keluar.
Jika Kau menggemaskan begini, Aku jadi ingin menyerah dan memelukmu. Kau berani berbohong kepadaku Kia, seharusnya Aku menghukummu. Batin Gamya.
"Kalau bergandengan tangan begini bukan bermesraan, tetapi keakraban," ucap Cindekia sembari mengayunkan genggaman tangan mereka.
"Oh," ucap Gamya singkat dan datar.
"Oh?" Cindekia kesal sendiri dengan suaminya yang tiba-tiba menjadi dingin. Apa ada hal yang membuatnya marah kepadaku? atau...
"Terima Kasih sudah mengantarku sampai pakiran. Baby lain kali Kau tidak perlu melakukannya," Gamya menghentikan langkahnya ketika mereka telah tiba di depan pintu.
"Tunggu, Kamu mencium Saya di depan Mami. Tetapi di depan wanita tadi Kamu bersikap dingin, dan lagi... apa? tidak perlu mengikuti Kamu. Jika tidak ada saya, bukankah kamu hanya akan berdua saja dengannya.... "
Gamya mencium mulut istrinya yang terlalu banyak mengoceh. "Sayang, pikiranmu terlalu jauh. Itu tidak baik untuk perkembangan otak kecilmu."
"Otakku kecil?!"
"Honey, apakah Kau ingin pergi ke suatu tempat? Aku akan mengantarmu," ucap Gamya mengabaikan protes Cindekia.
__ADS_1
"Saya mengikuti Kamu, karena otak saya yang kecil ini ingin tahu, apakah ada yang membuat kamu marah kepada saya?"
Ya ada, tetapi Aku tidak ingin bertengkar denganmu.
"Tidak ada." Gamya menarik Cindekia kedalam dekapannya.
"Jika tidak ada, artinya sikap dingin kamu tadi pagi karena bosan dengan saya sebab sudah kepincut wanita tetangga."
Gamya mempererat pelukannya, "Aku sudah memilikimu, di mataku hanya ada Kau." Gamya melepas tawanya.
Ah.. Aku harusnya marah kepadamu! Batin Gamya memberontak, harusnya tetap dalam mode dingin.
Gamya membenturkan keningnya ke kening Cindekia. "Sweetheart, pemikiran terlalu jauhmu membuatku terlambat pergi ke kantor. Suamimu bisa dipecat."
Rencana apa yang ada di dalam kepalamu? Memintaku mematikan cctv agar Aku tidak bisa mengawasimu, dan Kau berbohong mengenai tamu bulanmu.
"Jangan melawak, Saya sudah tahu Kamu bekerja di perusahaan papa."
Gamya menyeringai, "lalu? Apakah Kau berpikir Aku tidak bisa memecat diriku sendiri? Sayang, sebagai mantan karyawanku Kau tahu Aku bagaimana."
__ADS_1
"Ya ya, dan Kamu mencintai Saya yang ambrul adul," balas Cindekia mengatai diri sendiri sebelum Gamya kembali mengejeknya dengan kata baru lagi. Sudah cukup Aku dikatai kungkang yang otaknya dibilang kecil.
Gamya melepaskan tangannya yang melingkari Cindekia, "Sebaiknya Aku memberitahumu hal ini, Aku sedang bekerja untuk membenahi perusahaan yang mengalami collapse. Jadi Aku benar- benar sibuk untuk itu, bukan seperti yang mungkin ada di dalam sini." Ia mengacak kepala Cindekia.
"Mengapa membuat rambutku berantakan? kan nanti jadi jelek!"
"Tidak, Kau jadi semakin lucu.., Sweetie Aku harus pergi. Sampai ketemu nanti malam, love you." Gamya mengecup bibir istrinya sekali lagi dan bergegas masuk ke dalam mobilnya.
Adi menutup pintu mobil bosnya dan memberi salam hormat kepada istri bosnya sebelum masuk dan duduk ke kursi kemudi.
Tatapan mata Cindekia tetap mengikuti kepergian mobil yang mengangkut suaminya hingga hilang di balik mobil lain yang terpakir. Tetap saja Aku harus waspada.
Sementara itu, Norah sudah sampai di kliniknya. Ia menyewa salah satu gedung di area pertokoan yang berada dalam kawasan apartemen.
Keinginannya menerima tawaran Wening semakin besar.
"Hot duda, tidak buruk," gumam Norah yang duduk di kursi mejanya.
Meski telah seminggu kliniknya dibuka, namun tetap belum mulai bberoperasi secara penuh karena masih belum tersedia dokter spesialis kulit. Ia membuka klinik kecantikan yang melayani perawatan kulit dan operasi plastik. Sebagai dokter spesialis bedah
__ADS_1
plastik rekonstruksi dan estetik, Norah sudah berpengalaman melakukan operasi plastik selama setahun di salah satu rumah sakit diusianya yang terbilang masih muda.