Boss Gila

Boss Gila
Khilaf, itu semua adalah khilaf!


__ADS_3

Gamya masih memeluk erat istrinya, seolah takut istrinya itu lepas dari genggamannya.


Aku lebih suka Kau yang naif seperti ini. Aku tidak akan memberitahumu banyak hal. Jika Kau tahu banyak hal tentangku, Aku takut Kau akan meninggalkanku. Batin Gamya.


"Sayang," Suara panggilan Cindekia yang ditujukan kepada suaminya terdengar lembut ditelinga Gamya, Ia sangat menyukai panggilan itu.


"hmm.. "


"Kalau sudah lapar, itu makan malamnya kan sudah siap di meja. Jangan Saya yang dimakan! lama lama Saya bukan hanya bersuamikan drakula tapi juga kanibal!" sentak Cindekia karena suaminya terus mengigit dan menghisap area pangkal leher dan pundaknya.


Gamya segera melepaskan Cindekia, "Maaf," tawanya kemudian.


Ia menarik lengan Cindekia ke meja makan, di mana soup buatan Cindekia itu sudah hampir dingin.


Apapun rasanya, Ia sudah mempersiapkan lambungnya untuk menerima masakan istrinya.


"Kelihatannya enak, Sweetheart." Gamya mulai menyendok soup kentangnya dengan tangan gemetar.


"Tentu saja, kapan pernah masakan Saya tidak enak? yang kemarin itu Saya hanya khilaf. Khilaf memilih daging, khilaf sudah masukin garam atau belum, khilaf kalau yang saya rebus itu Sayur bukan tulang. Khilaf kalau Saya tengah masak makanya gosong," terang Cindekia memberikan pengertian kepada suaminya agar tidak salah paham.

__ADS_1


"Saya katakan sekali lagi, hanya khilaf, khilaf." tegas Cindekia sekali lagi, agar kata khilaf terpatri di benak suaminya.


"Baiklah," Gamya memasukkan cairan kental berwarna kream dengan paduan warna orange dan hijau ke dalam mulutnya.


"Bagaimana?" tanya Cindekia antusias dengan memperlihatkan wajah penuh percaya dirinya.


Gamya mencoba satu suap lagi, sebelum benar- benar yakin dengan rasa yang singgah di rongga mulutnya. "Sepertinya kali ini Kau khilaf lagi, Sweetie."


"Hah? yang benar?" lirih Cindekia, padahal Ia sudah melakukan yang terbaik.


Harus bagaimana meyakinkannya, jika Aku bisa menjadi seorang istri, dan ibu untuk anaknya?


Mereka makan dengan tenang karena aturan baru dari Gamya. Tidak boleh berbicara selama makan.


Tanpa bicara pula Cindekia membereskan bekas peralatan makan. Ia masih memikirkan bagaimana cara membuat suaminya mempercayakan kepadanya untuk mengandung anak.


"Apa yang Kau pikirkan Sayang?" tanya Gamya yang tiba-tiba melingkarkan tangannya di pinggang Cindekia.


"Hmm... " Cindekia masih diliputi kekecewaan kepada suami yang bersandar di punggungnya.

__ADS_1


"Apakah Kau memikirkan tentang tinggal bersama kedua orang tuaku hmm.?" Gamya mengecup bahu Cindekia.


"Iya," jawab Cindekia singkat.


"Jangan khawatir. Menunggu rumah kita selesai dibangun, kita tidak akan tinggal di rumah orang tuaku." bisik Gamya.


Jika kita tinggal di sana, Aku tidak akan bisa menyentuhmu seperti ini karena Kau akan mengatakan setiap sudut rumah adalah tempat umum. Batin Gamya, sekarang Ia bukan hanya penggila kerja tetapi juga gila dengan istrinya.


Aku sedang memikirkan anak!! Bagaimana jika kedua orang tuanya menuntut tentang cucu? Apakah mereka juga menilaiku tidak pantas untuk melahirkan keturunan mereka?


Tidak bisa! Batin Cendekia tidak terima.


Cindekia segera melepaskan rangkulan tangan Gamya, dan berbalik, "Suamiku sayang,"


"Umm..." Gamya menjawab panggilan Cindekia dengan kecupan di pipi.


"Saya sudah memutuskannya, Saya tetap ingin memiliki anak. Kalau suami tidak menginginkannya, ya sudah tidak apa- apa. Tidak dimasukan ke kartu keluarga suami juga tidak apa- apa, nanti saya masukan ke kartu keluarga ayah saya. Kan yang mengandung dan melahirkan itu Saya. Jangan khawatir, selama hamil Saya tidak akan mengganggu Suami, karena nanti Saya akan tinggal di negara ini, di rumah kontrakan entah dimana terserah." tutur Cindekia.


"Lalu?"

__ADS_1


"Lalu?" Cindekia balik bertanya, Apakah dia setuju dengan usulku?


__ADS_2