Boss Gila

Boss Gila
I want you to know


__ADS_3

Tuk.. tuk..


"Cindekia... Kia..," panggil seseorang sembari mengetuk meja kerja Cindekia.


Namun orang yang dipanggil tetap diam menatap layar komputernya.


"Putri Cindekia anaknya Salahuddin!" seru orang itu sekali lagi menyebut nama lengkap Cindekia.


Gadis itu tersentak mendengar nama ayahnya disebut-sebut, "Hah?" Ia menoleh ke arah sipemanggil.


"Oh iya, surat Abang ini ya," katanya kemudian melihat Rusman, staff departemen marketing.


"Aku sudah berkali kali meneleponmu, Kau tidak mengangkatnya,"


"Iya, maaf Bang Us." Cindekia mencari surat keterangan yang diminta Rusman di map surat-surat yang telah di tandatangani Gamya. Namun kemudian Ia berhenti mencari, dan segera menuju komputernya untuk mencetak ulang surat keterangan tersebut.


"Tunggu sebentar ya Bang Us," ujar Cindekia sembari melempar senyum harap maklumnya, dan bergegas masuk ke ruangan Gamya untuk meminta bosnya itu membubuhkan tandatangan di atas surat yang baru saja keluar dari mesin cetak.


Yang dilempar senyum harap maklum itu pun hanya bisa menggelengkan kepala dan tersenyum maklum, surat yang dimintanya belum dikerjakan Cindekia.


Sementara di ruangannya, Gamya yang disodorkan surat yang seingatnya sudah Ia tandatangani tidak bisa maklum.


"Sweetie, ini_" Kalimat Gamya terhenti ketika melihat Cindekia yang berdiri dengan senyum melebar di wajahnya.

__ADS_1


"Iya, Pak?" Gadis itu memasang wajah pura-pura tidak tahu.


"Tidak apa-apa," ujar Gamya dan segera membubuhkan tandatangannya. Sebaiknya tidak usah memarahinya untuk saat ini, dia sangat manis.


"Terima Kasih Pak," Cindekia mengambil surat yang telah dicoret Gamya, dan pergi meninggalkan ruangan bosnya.


Dengan senyum semringah pula Ia memberikan surat itu kepada Rusman.


"Terimakasih," ucap Rusman, Ia masih belum beranjak pergi. "Jangan banyak bengong, nanti kesambet loh," katanya mengingatkan Cindekia yang tadi Ia dapati sedang bengong.


"Tenang aja Bang, setannya ngikutin Abang tuh," canda Cindekia.


"Hahaha... ok trims ya suratnya," ujarnya sembari beranjak pergi.


"My Sweetie!" terdengar suara Gamya yang sepertinya ditujukan kepada sekretarisnya.


Cindekia yang merasa terpanggil melihat ke arah pintu ruangan bosnya, kemudian melihat ke arah Rusman yang masih berada di ruangannya dengan ekspresi terbengong, dan melihat lagi ke arah Gamya yang tampak biasa saja memanggilnya Sweetie di depan karyawan lain.


duh...!


Dengan tergesa-gesa Cindekia mengambil harta karunnya dari dalam lemari mejanya, "Iya Pak, Maaf Saya lupa!"


"Pak Bos kalau kekurangan asupan gula bakal ngamuk," bisiknya kepada Rusman dengan sekotak aneka camilan di tangannya.

__ADS_1


Rusman yang mendengarnya bergidik ngeri dan segera pamit kepada Gamya lalu segera ngacir.


"Sweetie, apa yang Kau katakan kepadanya?" Gamya melipat kedua tangannya dan menatap tajam ke arah Cindekia yang baru saja terlihat akrab dengan salah satu karyawannya.


Inilah yang dikatakan ngomongin orang di depannya langsung.


Cindekia menyodorkan kotak camilannya dan mendorong bosnya kembali masuk ke ruangannya.


"Lain kali Bapak harus hati-hati dong, jangan sembarangan panggil saya begitu," gerutunya.


"Mengapa?" Gamya melunakkan suaranya, saat ini dirinya hanya terhalang oleh sekotak camilan dengan Cindekia. Ingin rasanya Ia menyingkirkan kotak itu dan memeluk gadis di depannya.


Tidak, langsung peluk saja.


Gamya membentangkan kedua tangannya, namun Cindekia sudah keburu menjauhkan dirinya.


Alhasil Gamya menurunkan kembali tangannya yang belum menjalankan misi itu.


"Karena akan menjadi skandal. Citra Bapak akan rusak dong, jadi Bapak harus hati-hari," kata Cindekia mengingatkan bosnya.


Gamya berjalan mendekati Cindekia dengan kedua tangan yang berada di saku celana.


Melihat Gamya yang berjalan mendekatinya, Cindekia mundur menjauh, hingga terpojok di depan pintu.

__ADS_1


__ADS_2