
"Sayang," panggil Cindekia membuang sedikit rasa malunya.
Gamya berhenti tersenyum mendengar panggilan mesra istrinya, "Apakah kita sudah berbaikan? atau Kau menginginkan sesuatu?" seringai Gamya.
"Tidak, lupakan saja," lirih Cindekia bingung. Ia menjadi canggung jika tiba- tiba bersikap manis kepada suaminya. Ia ragu apakah Gamya masih mencintainya, dan tetap tidak akan menceraikannya.
Gamya mengela napas melihat istrinya yang bersikap seperti gadis perawan, padahal semalam baru saja menciumnya.
Tak ingin membuang waktu, Gamya langsung berdiri dan melakukan apa yang ingin dilakukannya sejak tadi. Kedua tangannya memegang sandaran kursi Cindekia, dan mencium istrinya.
Hanya berciuman. Namun pertahanannya runtuh karena tangan nakal istrinya. Tanpa melepas ciumannya, Gamya memindahkan tangan itu ke pundaknya dan menggendong istrinya itu seperti koala. "Katakan apa yang Kau inginkan?" bisiknya.
Bukannya menjawab, Cindekia memeluk erat bahu suaminya dan meniup telinganya. Ia sengaja ingin memprovokasi suaminya.
Gamya tersenyum dan lekas membawa istrinya itu ke atas tempat tidur, dan menindihnya. "Jangan menghentikanku."
Namun Cindekia menghentikan tangan suaminya yang menyelinap masuk ke dalam baju kaos yang dikenakannya. "Tidak bisa. Jika Kamu tetap dengan prinsipmu, Aku menyerah. Aku ingin Kamu melepaskanku," tegas Cindekia setelah yakin Gamya tidak akan melepaskannya.
"Jadi Kau tetap ingin pergi?"
"Ya, jika_"
"Baiklah," potong Gamya dengan tenang. Ia bangkit dan turun dari tempat tidur.
__ADS_1
Cindekia melotot kaget, "hah?" ia tidak menyangka suaminya akan langsung menyetujuinya.
itu tidak seperti rencananya.
"Pengacaraku akan menghubungimu, Kau bisa memberitahunya apa saja yang Kau inginkan sebagai kompensasi perceraian. Aku akan menyetujuinya. Apakah ada lagi yang ingin Kau katakan kepadaku?" tanya Gamya, ia terlihat tidak terganggu sama sekali. Ia sudah memberikan waktu dua bulan untuk istrinya memikirkan kembali keinginan untuk berpisah, tetapi tetap istrinya memberikan keputusan yang sama.
apa? berakhir begini saja? batin Cindekia terperangah. Ia bingung harus bagaimana selanjutnya karena jawaban Gamya di luar skenarionya. Ia hanya ingin membuat ancaman karena yakin suaminya tidak akan menceraikannya.
Haruskah Aku menarik kembali ucapanku? batin Cindekia.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin Kau katakan, Aku pergi." Gamya mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya, dan meletakkan ponsel itu di atas meja yang masih dipenuhi pastry, "Kau bisa menghubungiku jika ada hal lain yang ingin Kau tanyakan, selamat tinggal."
Gamya berlalu begitu saja, dan menghilang di balik pintu kamar. Meninggalkan Cindekia yang terbengong seorang diri.
Tidak, Aku masih ingin bersamanya, rengek batin Cindekia. Ia beranjak untuk menarik kembali ucapannya.
Namun langkah kakinya terhenti saat hendak membuka pintu kamarnya.
Bagaimana jika Kau memang menginginkan perpisahan ini? batin Cindekia menarik kembali tangannya.
Sementara itu, di depan pintu kamar, ada Gamya yang masih berdiri di sana. Ia menunggu istrinya membuka pintu itu dan datang kepadanya.
"Ternyata bukan gertakan," gumam Gamya setelah cukup lama menunggu.
__ADS_1
bergegas Ia ingin masuk kembali, dan memaksa kembali Cindekia untuk tetap bersamanya. Namun langkah kakinya terhenti.
Bagaimana jika dia menyiksa dirinya sendiri jika masih tetap bersamaku?
Akhrinya keduanya yang terhalang pintu kamar, saling menghela napas, mencoba menerima akhir yang sama sekali tidak mereka inginkan.
***
Setelah beberapa hari menyetujui permintaan Cindekia untuk bercerai, Gamya mengetuk- ngetuk pena diruangannya. Ia terlihat kesal. Karena Mark sedang mengantar calon mantan istrinya ke bandara.
Ia memutuskan akan benar-benar mengakhiri hubungannya jika istrinya tetap pergi kembali ke kampung halamannya.
"Tidak biasanya Anda membawa masalah pribadi ke dalam pekerjaan," ucap Adi yang lelah jika mencetak kembali data hasil eksperimen dari departemen peneliti, karena Gamya bolak balik merusaknya.
Gamya menatap tajam Adi yang mencoba memprotesnya, "Karena biasanya Aku tidak memiliki masalah pribadi," katanya datar sedatar wajahnya.
"Jika berlian, dan berhenti pulang larut malam tidak juga bisa memperbaiki hubungan Anda, mungkin Anda bisa merencanakan liburan ke luar negeri," saran Adi sembari mengambil berkas- berkas yang telah di rusak oleh Gamya.
"Aku sudah menyetujui permintaannya bercerai," ucap Gamya datar sembari menunjukkan cincin yang masih melingkar di jarinya.
Pengakuan Gamya membuat Adi terkejut dan menjatuhkan berkas yang ada di tangannya. "Mengapa Anda membuat masalah pribadi yang berat seperti itu?!" pekik Adi.
"Aku membiarkanmu tetap bekerja denganku untuk berteriak?" sindir Gamya.
__ADS_1
Adi menggeleng cepat.