
Setelah ciuman mereka terlepas, Cindekia menatap sayu Gamya, Ia menjatuhkan dirinya dan bersandar di bahu suaminya itu. Kelelahan akibat duduk terlalu lama.
Kapalanya pusing, seperti habis berputar putar. Terlalu lama otaknya tidak mendapatkan asupan oksigen yang cukup karena Ia lupa bernapas.
"Pak.." lirih Cindekia yang kepalanya masih Ia sandarkan di bahu Gamya.
"Umm...," Gamya memeluk Cindekia dengan tangan tak bisa nganggurnya tentunya. Ia mengusap mesra punggung istrinya.
"Saya sudah bisa turun?" rengek Cindekia karena bokongnya yang sudah keram efek duduk diatas meja yang kaku selama 5 jam.
"Kupikir Kau sebegitu terpesonanya melihatku bekerja hingga tetap duduk diam di sini sejak tadi," tawa Gamya sembari mengangkat Cindekia seperti koala dan membawanya keluar dari ruang kerjanya.
"Tidak tuh! Saya mematuhi perintah bapak. Saya pikir Bapak marah kepada Saya."
Dia jadi mengira Aku marah kepadanya? maaf Kia., batin Gamya.
Gamya meletakkan Cindekia di atas kasur dengan tetap tidak memberi celah antara dirinya dan Cindekia.
"Terima Kasih sudah menjadi istri yang patuh, Hun." Gamya mengecup kening istrinya.
"Iya kan ada di kontrak nikah," jawab Cindekia enteng. Sekalipun Gamya marah kepadanya, Ia masih mempercayai suaminya itu tidak akan bisa marah dan tetap mencintainya sepenuh hati.
"Begitu... Apakah Kau akan tetap patuh dan menjadi istri yang penurut jika Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu?" Gamya mengelus rambut Cindekia yang masih dibawah kurungannya.
Tak mau ketinggalan, Cindekia juga ikut mengelus rambut suaminya, "Tidak semua keinginan kita harus terwujud." katanya seperti guru yang bijaksana.
Cindekia berpikir Gamya sedang menyinggung Tina yang dipecat. Tentu saja Ia bisa menjadi bijaksana karena sebuah keinginan yang tidak begitu penting dalam hidupnya.
__ADS_1
Gamya tersenyum puas mendengar jawaban Cindekia, Ia mengecup hampir semua area wajah istrinya. "Aku mencintaimu, Kia." ungkapnya sekali lagi.
"Saya juga," Cindekia ikut mengecup hampir semua area wajah suaminya, "mencintaimu suamiku."
Gamya menutup tirai jendela dan menghidupkan lampu temaram kamarnya. Ia siap untuk memadu kasih dengan istrinya.
Cindekia yang mengerti dengan gerak gerik suaminya segera menyembunyikan dirinya di balik selimut dan dengan berdebar- debar menunggu suaminya untuk ikut masuk ke dalam selimut bersamanya.
Gamya menyusul Cindekia setelah melepaskan kaos yang melekat di badannya.
Dada bidang berotot yang dimiliki Gamya, selalu saja mampu membius saraf mata Cindekia agar tidak berkedip sedetikpun. Ia seperti dihadapkan oleh semangkuk besar es krim strawberry.
Gamya mulai mengecup bibir istrinya. Kecupannya berjalan turun setiap satu inci kulit istrinya yang mengeluarkan aroma kesenangannya, sembari melucuti pakaian Cindekia satu persatu. Indra pengecapnya pun ikut bergerilya kesana- kemari.
"Maaf Kia. Aku tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk memiliki anak dariku." racau Gamya di sela aktivitas keduanya.
Dunianya serasa dibalik, "Suami mandul?" tanya Cindekia hati- hati. Ia takut pertanyaannya akan melukai perasaan suaminya. Sama sepertinya, mungkin Gamya lebih terluka dengan ketidaksempurnaan itu.
Gamya mengangkat wajahnya dan menatap dalam istrinya, Ia kembali mendaratkan bibirnya di atas bibir istrinya dan lanjut memberikan ciuman mesra ekstrakurikuler.
Ciuman lembut yang tidak menuntut banyak dan bringas membuat Cindekia bisa bernapas dengan baik dan normal.
"Aku tidak mandul, Sweetie. Aku bahkan sangat subur." tawa Gamya, setelah menyudahi ciuman mereka.
"Ya... ya, Saya memiliki suami yang sangat sehat karena menjalankan pola hidup sehat, olahraga teratur, tidak merokok, tidak minum alkohol, diet sehat. Apa lagi?" gumam Cindekia,
Ia pikir Gamya ternyata hanya bercanda. Ia sudah hampir stress duluan memikirkan ketidaksempurnaan pernikahannya dengan Gamya.
__ADS_1
Mendengar gumaman Cindekia, Gamya tersenyum sembari mencium leher istrinya dengan tangannya yang tidak menganggur, "Umm... Kia, I love touching your body. Kau menyukainya?"
"Umm, sedikit." jawab Cindekia meniup telinga suaminya.
"Sedikit?" tawa Gamya.
Gamya kembali lagi bergerilya di tubuh istrinya, begitupun Cendikia yang tak ingin kalah. Sentuhan demi sentuhan mereka lakukan hingga mencapai kesepakatan bersama.
Gamya akhirnya memenuhi keinginan si bambang yang tidak ingin pakai baju itu untuk melepas rindu bertemu pasangannya. Mereka telah lama tidak bertemu karena menunggu masa tidak subur Cindekia.
"Kia, Aku tidak ingin Kau melakukan kb," racau Gamya dengan napas yang memburu.
Ia tidak ingin pil, suntik, atau apapun yang berbau kb ada di dalam tubuh istrinya. Karena sebagai pemerhati kesehatan, Ia tidak ingin wanitanya kenapa- kenapa.
"Oh iya..., tidak, tidak akan! dan tidak mau!"
Gamya tersenyum dan mengecup peluh di kening istrinya. "I love you,"
"Iya sama- sama."
sama- sama? jawaban Cindekia yang sering absurd selalu saja membuat Gamya tertawa.
"Setelah ini Kau harus rutin mengecek kehamilan. Jika positif, maka harus segera digugurkan," bisik Gamya sembari berbaring di sebelah Cindekia yang juga terkulai lemas sama sepertinya.
_____________
😒 Astaganaga, entah apa yang Kutulis ini, 🤒
__ADS_1
🤣🤣🤣, berusaha untuk menulis tidak sedetail mungkin 🙊