Boss Gila

Boss Gila
bersamadi


__ADS_3

"Kia, katakan apa yang terjadi?" tanya Gamya dengan lembut. Ia bingung dengan Cindekia berbicara dengan dingin kepadanya.


Sementara gadis itu pikir sikap manis Gamya hanyalah sandiwara, dan malah telah membuatnya jatuh cinta. Melihat pria itu memeluk mesra dan mencium erat wanita yang memiliki dunia yang sama dengannya, membuat gadis yang bukan apa-apa itu sadar diri. Ia memiliki dunia yang berbeda.


Ia harus bersikap normal, tidak ngamuk-ngamuk atau mewek. Ia adalah aktris berbakat.


"Kita selesaikan saja sandiwara kita yang tinggal seminggu lagi dengan baik, setelahnya jangan bertemu lagi," tegas Cindekia dan tersenyum, "benar kan, Sayang?"


Gamya masih tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi, dia hanya bisa menebaknya. "Baik, jika itu yang Kau inginkan," katanya terdengar pasrah dan kembali menjalankan mobilnya.


"Rumah Saya kelewatan, mengapa Bapak jalan terus?" tanya Cindekia yang telah kembali seperti dirinya yang biasanya. Matanya meratapi simpang masuk ke rumah kontrakannya telah terlewati.


"Jika Kau bisa masuk ke rumahmu, Kau tidak akan berkeliaran di jalanan malam-malam begini," Gamya menebak kunci rumah Cindekia juga ikut hilang bersama tasnya.


"Lalu ini Saya mau dibawa ke mana?"


Yang ditanya menjawab dengan senyum tipis. Ia membawa Cindekia ke sebuah Hotel berbintang yang tidak begitu jauh dari tempat tinggal Cindekia.


"Aku sudah memesankan sebuah kamar untukmu," Gamya mengirimkan e-voucher hotel.


Pesan dari Gamya segera masuk ke ponsel Cindekia.


Gadis itu sedikit heran menatap layar ponselnya, "Pak, Apakah ini tidak berlebihan?" tanya Cindekia membaca tipe kamar yang tertera di voucher hotelnya.

__ADS_1


Gamya menatap lembut gadis yang baru saja menolaknya beberapa menit yang lalu, "Aku memberikanmu hari libur besok, nikmatilah hari liburmu. Aku akan meminta tukang kunci memperbaiki kunci rumahmu besok," katanya kemudian.


"Tidak perlu repot Pak, Saya bisa mengurusnya sendiri,"


Gamya mengambil barang belanjaan di kursi belakang mobilnya dan menyerahkannya kepada Cindekia, "tugasmu adalah menerima apa yang kulakukan untukmu," tegasnya kembali mengingat.


"Baik," ucap Cindekia dan membuka pintu mobil. "Terima Kasih Pak," katanya kemudian segera turun dari mobil Gamya.


Dan mobil itupun segera berlalu dari hadapan Cindekia.


"Bapak yang seperti ini, membuat Saya jadi tidak bisa membenci Bapak," ucap Cindekia dalam hati sembari menatap bayangan mobil bosnya yang sudah menjauh pergi.


Dengan masih tetap berusaha tenang, Cindekia masuk ke dalam Hotel di depannya dan melakukan Check in.


****


Di halaman rumahnya, Gamya masih enggan untuk turun dari mobilnya. Ia tersenyum menggenggam erat stir mobilnya, tidak percaya pada akhirnya dirinya malah membuat wanita yang dicintainya terluka.


Ini pertama kalinya Ia mengetahui Cindekia ternyata bisa juga menangis, bahkan hingga matanya berubah menjadi bengkak.


Apa dia baru saja menangis di depan orang itu?


Gamya mengetuk-ngetuk telunjuknya pada stir, Ia harus segera memutuskan akan melepaskan Cindekia atau tidak.

__ADS_1


Ia berpikir Cindekia sangat mencintai Dyan hingga menyesal telah berkerja sama dengannya, dan menderita karena tidak bisa bertemu dengan pria yang dicintainya.


tok.. tok..


Terdengar suara ketukan di kaca jendela mobilnya. Membuatnya menurunkan kaca jendela itu.


"Mengapa Kau bersemadi di sini?" tanya Ganeeta menaikan sebelah alisnya.


"Naiklah!"


Dengan patuh Ganeeta masuk ke dalam mobil, duduk dengan nyaman di sebelah Gamya. Dan mobil yang mereka tumpangi kembali melaju meninggalkan kediaman mereka. Ia masih ingin berkeliling kota. Karena yakin malam ini Ia tidak akan bisa tidur.


"Pacarmu tidak jadi kabur?" Ganeeta memasang sabuk pengamannya, "Gamya, mengapa Kau setuju Aku menikah dengan Rudi? Kau ternyata memang tidak pernah peduli denganku!" gerutu Ganeeta.


Amukan Ganeeta membuat Gamya yang tengah patah hati sedikit tertawa, "Jangan khawatir, dia adalah pria yang baik, meskipun tidak sesempurna pria yang akan dijodohkan denganmu."


Ganeeta tersenyum malu, "Jadi Kau sudah tahu?"


"Kalian tidak bisa membohongiku."


"Begitu," Ganeeta hanya tertunduk pasrah, kini dia hanya bisa memilih menikah dengan calon suaminya atau dengan Rudi. Ia telah pasrah kalah taruhan dengan Gamya.


"Gane, ceritakan kepadaku tentang Ayahmu,"

__ADS_1


__ADS_2