
"Lihatlah siapa ini yang berbicara?" Gamya menyeringai dan mengecup pipi istrinya.
Kecupannya menjalar hingga ke rahang dan daun telinga istrinya.
"Ummm..." Cindekia yang sekarang sedang menjadi nasi gulung hanya bisa diam menggeliat.
Kecemburuan Cindekia sangat memprovokasi Gamya, terlebih sudah beberapa hari mereka tidak bertemu.
"Umm... Pak..."
Gamya sedikit menyibakkan selimut dan kerah piyama yang menutup kulit pundak istrinya.
"Pak! Stop!" teriak Cindekia yang sudah setengah terbuai tiba-tiba sadar.
Teriakan Cindekia sontak membuat Gamya berhenti dan kembali ke posisinya semula. "Kia, Kau tahu Aku merindukanmu, apakah malam ini Kau hanya ingin tidur saja?"
Cindekia menundukkan kepalanya. Bukan kah diam artinya iya? bagaimanapun juga Ia tidak bisa mengabaikan tentang suaminya yang memberinya obat tidak jelas.
Bagaimana bisa tenang bermesraan jika Kau berniat membunuh janinku?
Gamya mengecup puncak kepala Cindekia. "Baiklah Sweetie, malam ini kita hanya akan tidur saja." Gamya membetulkan kembali kemeja dan selimut Cindekia.
Ia membawa istrinya kembali ke dalam dekapannya.
"Pak,"
"Apa? Kau berubah pikiran?"
"Tidak, cuman mau tanya. Mengapa Bapak memasang CCTV di setiap ruang rumah ini? bukankah sistem keamanan apartemen ini sangat baik?"
"Dari nada bertanyamu, sepertinya Kau keberatan dengan hal itu."
"Ya, Saya seperti diawasi."
Gamya mempererat pelukannya. "Aku memang mengawasimu," ucapnya enteng.
"Mengapa? Apakah Saya ini tawanan Bapak?"
tawanan?
Gamya melonggarkan pelukannya agar bisa melihat wajah istrinya yang barusan bertanya. "Bukan tawanan, Aku hanya ingin melihat apa yang sedang Kau lakukan."
"Dan Saya seperti dikendalikan? Kebebasan saya dirampas, bukankah itu sama saja dengan tawanan?"
Rencanaku tidak akan berhasil jika dia terus mengawasiku. Maafkan Aku, suami. Aku tidak patuh jika permintaanmu melanggar hak asasi kemanusiaan.
"Sayang...?"
"Jika memang kebebasan Saya hilang karena menikah dengan Bapak, Saya tidak akan menyesalinya. Karena Saya sangat mencintai Bapak. Saya rela menanggungnya, hidup dengan tidak nyaman dan tertekan perasaan sepanjang hari setiap saat di rumah yang saya tempati." keluh Cindekia mendramatisir.
Gamya menghela napas mendengar keluhan panjang istrinya yang mungkin tidak akan selesai dalam waktu singkat, "Baiklah, baik. Aku akan mematikan semua CCTV! Kau bahagia sekarang?"
__ADS_1
Cindekia tersenyum girang di dalam hati, satu langkah rencananya berjalan mulus.
"Iya,"
"Sebagai gantinya Kau harus langsung menjawab video call dariku, dan juga...Aku memiliki permintaan."
"Apa?"
"Meskipun Kau merasa nyaman memanggilku Bapak, Aku tidak nyaman mendengarnya."
"Ah... itu,"
"Kau bisa memanggil namaku saja. Usia kita hanya berbeda 5 tahun, Kia. Dan akhir- akhir ini Kau terlalu sering berteriak di depanku. Kupikir, Kau sudah kehilangan etika dan rasa kesopanan kepadaku. Jadi Kau sudah tidak pantas lagi bersikap formal kepadaku. Sebagai istri yang_" beber Gamya yang sepertinya sedang curhat atau bagaimana.
Cup!
Cindekia mengecup pipi suaminya, agar berhenti mengoceh.
Tidak pantas? kehilangan etika?
"Deal, jadi Saya yang sudah tidak memiliki etika ini tidak perlu bersikap formal. Ok Gami, Ayo kita tidur karena besok Kamu akan ke bandara pagi buta," kata Cindekia dengan melemah lembutkan suaranya.
Ia ingin menyentuh tubuh suaminya dan berbuat tidak senonoh di sana. Namun tidak bisa, karena kedua tangan yang tebungkus selimut. Ah mengapa juga Kau membungkus dirimu Kia? ronta batinnya yang ingin bermesraan.
"Gami? hmm... ok. terserah Kau saja, Hun." Gamya kembali membawa Cindekia ke dalam dekapannya. Ketidakstabilan emosinya menjadi berkurang mendengar suara lemah lembut istrinya.
****
"Dia sudah pergi?" gumam Cindekia dengan wajah kecewa. Ia bangun terlambat dan tidak mengantar kepergian suaminya.
Dengan tidak semangat pula Ia merapikan tempat tidurnya, sebelum beranjak ke kamar mandi.
Sesuai kesepakatan mereka semalam, semua CCTV telah dimatikan. Cindekia sedikit tersenyum lega. Namun tetap harus tidak boleh lengah.
Sebuah memo menempel di pintu kulkas saat hendak membuat sarapannya.
[Kau tidur seperti kungkang, jadi Aku tidak membangunkanmu. Jangan lupa minum vitaminmu di atas meja makan setelah sarapan. I Love you.]
"Apa..., kungkang dia bilang?!" desis Cindekia tidak terima dikatakan kungkang.
Dengan perasaan dongkol, Ia memasukkan semangkuk oatmeal ke dalam microwave.
kungkang?
Saat menyantap sarapan oatmeal, Cindekia masih diliputi perasaan kesal karena dikatakan seperti kungkang.
"Bagaimana bisa dia menyebut istrinya kungkang? apa dia ingin ngajak ribut, karena Aku terlambat bangun?" gumam Cindekia sembari menjatuhkan sebutir vitamin yang diberikan Gamya ke dalam kloset dan menyiramnya.
(*Hewan yang diistilahkan pemalas karena bergerak lamban dan tidur 20jam sehari)
***
__ADS_1
Di sebuah studio lukis yang berukuran tidak begitu besar, Norah sedang mengamati beberapa kanvas yang dinodai oleh cat abstrak.
cat dan peralatan lukis lainnya tampak tidak tersusun rapi.
"Ada apa tiba-tiba Kau datang ke studioku?" terdengar suara Ganeeta di antara tumpukan kanvas. Ia sedang melukis sesuatu. Entah apa yang sedang Ia coba lukis, hanya dia dan Tuhanlah yang tahu.
"Tentu saja ingin membeli lukisanmu, temanku," jawab Norah.
Ganeeta mengernyitkan dahi nya, "Aku akan mengadakan pameran bulan depan. Kau bisa datang dan membelinya nanti."
"Mengapa tidak menjualnya sekarang? Aku butuh beberapa untuk dekorasi klinik baruku. Apa Kau yakin lukisanmu akan laku terjual nanti?"
"Jika tidak ada yang membelinya, Aku akan minta Gamya membeli semua lukisanku," tawa Ganeeta dan lanjut menorehkan cat pada kanvas di depannya. "Oh ya, di mana Kau akan memulai bisnismu?" tanyanya kemudian.
"Mamimu menawarkan gedung di TTTO city."
"...hmm anak itu tinggal di sana," gumam Ganeeta mencoba mengingat. "Lalu Kau menerima tawarannya?"
"Aku masih memikirkannya. Sepertinya Mamimu menginginkanku menjadi menantunya."
Ganeeta menghentikan tangannya dan menggeser kepalanya melihat Norah yang sedang melihat- lihat lukisannya. "Siapa? Aku?" tunjuk Ganeeta pada dirinya sendiri.
"Hahaha... Kau gila. Tentu saja saudara lelakimu."
"Itu juga sama gilanya, dia sudah menikah. Maaf tidak mengundangmu."
"Aku tahu, Aku sudah bertemu istrinya."
"Mengapa mamiku hobi mengusik anak itu?"
"Mungkin karena putranya menikah dengan wanita yang seperti itu," jawab Norah sekenanya.
"Yang seperti itu? itu mengarah negatif."
Norah berjalan ke arah Ganeeta, "Ya, Kau tahu wanita yang berasal dari golongan bawah yang ingin naik kelas dengan menikahi pria kaya."
"Lalu apa masalahnya?"
Norah menghela napas melihat Ganeeta, bagaimana bisa temannya tidak peduli dengan kembarannya. "Bagaimana jika wanita itu hanya menginginkan uangnya saja? mungkin itu yang membuat mamimu begitu khawatir."
"Bukan kah itu bagus ada yang mau menikah dengannya karena uangnya? Aku pikir anak itu tidak memiliki kelebihan lain selain memiliki uang banyak," kata Ganeeta ringan seringan beban hidupnya.
"Kau tidak berpikir, jika wanita itu tidak mencintai saudaramu, suatu saat dia akan pergi. Mungkin pergi dengan pria lain."
"Uang anak itu tidak akan habis. Jadi dia tidak akan ditinggal pergi istrinya."
Norah yang kesal mengetuk- ngetuk kanvas di hadapannya. "Apa yang ada di dalam pikiranmu? Kau sama sekali tidak mengerti tentang cinta dan tidak pernah menjalin hubungan dengan pria manapun. Bagaimana bisa Kau menulis novel ber-genre romantis?"
"Kau benar, Aku merasa seperti telah menipu masyarakat," lirih Ganeeta. "Oleh karena itu, sekarang Aku menjadi pelukis saja," tawanya kemudian.
"Dasar Kau ini,"
__ADS_1
"Aku tidak suka ikut campur, tetapi sudah lama Aku tidak mencari ribut dengannya." Ganeeta tiba- tiba teringat sesuatu. Ia meletakkan kuas dan palet catnya, lalu mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Rudi.