
"Pfft... ha... ha..." Cindekia tertawa terbahak-bahak sembari memukul-mukul meja makan. Entah setan apa yang merasukinya.
Sejak menginjakkan kakinya di rumah orang tua Bosnya, Ia seperti masuk ke dalam dunia yang berbeda. Rasa takutnya hilang ketika mendengar lelucon bosnya.
Semua mata yang ada di ruangan itu tertuju kepadanya.
Mungkin para pelayan berpikir wanita yang dibawa tuan muda mereka adalah wanita bar bar yang akan memporak-porandakan rumah. Tawanya menggema di seluruh ruangan yang cukup luas dengan pilar tinggi yang menjulang ke atas langit-langit ruang makan.
Mereka tidak akan memakanku Hidup-hidup atau memenjarakanku, kan? guman Cindekia sedikit bergidik ngeri setelah menyadari bahwa kedua orang tua Gamya menatapnya dingin.
"Bagaimana Bapak bisa mengatakan hal seperti itu? Mendengarnya saya jadi ingin makan semua makanan yang ada di meja ini, tapi perut saya nggak muat," ucapnya tidak percaya bosnya juga akan melakukan drama di depan kedua orang tuanya.
Dan Aku juga harus ber acting, pikir Cindekia.
"Benarkah? Kupikir Kau ingin langsung tidur denganku sekarang juga," ucap Gamya bernada tidak sopan. Kejahilannya kali ini bukan hanya ingin melihat Cindekia kesal, tetapi juga kedua orana tuanya.
hah? kumat deh gilanya iblis ini.
Cindekia berpikir kedua orang tua Gamya benar-benar akan menikahkan dirinya. Ia tidak boleh terjerat dalam keluarga bosnya karena takut akan menjadi rabot yang kaku seperti para pelayan mereka. Terlebih dirinya dan Gamya tidak saling menyukai, mereka hanya berpura-pura. Pernikahan bukan hal yang bisa dimainkan seperti pacaran.
Lagipula Ia ingin menikah dengan Dyan. Setelah kontrak kerjasamanya ini selesai, Ia akan menerima lamaran Dyan. Secepatnya.
"Orang tua Bapak melotot ke arah kita tuh, apa perlu saya bertingkah dengan lebih tidak beretika dan tidak beradab lagi?" tanya Cindekia setengah berbisik.
"Gamya!! Dasar anak durhaka, Kau juga ingin memberiku menantu durhaka?!" seru Ibunya Gamya dengan kemarahan yang hampir sampai pada puncaknya.
Kemarahannya mengagetkan Cindekia, hampir saja makanan yang sudah masuk ke dalam ususnya keluar lagi. Namun untungnya tidak jadi keluar.
Dengan sedikit gemetar Cindekia mendekat ke arah Gamya minta jaminan perlindungan dan keamanan, "loh, Ibunya Bapak bisa Bahasa Indonesia?" tanyanya bernada khawatir.
"Tentu saja, Ibuku orang Indonesia," jawab Gamya enteng.
Cindekia langsung berdiri dan memberi hormat membungkuk, "Saya sungguh meminta maaf Nyonya, tolong jangan penjarakan saya, usir saja Saya. Saya memang tidak pantas menjadi menantu Nyonya," ucapnya bersungguh-sungguh.
"Ha... ha.. ha..." terdengar suara tawa keluar dari arah tuan Lenart, sikap dinginnya sedikit melunak, "mengapa Kamu pikir Kami akan memasukanmu ke dalam penjara?" tanyanya kemudian.
Gamya melirik Ayahnya sedikit heran, Ia baru tahu Pria asing yang mengaku sebagai ayahnya itu ternyata juga bisa berbahasa Indonesia.
__ADS_1
"Sama sepertimu, Aku juga baru tahu pria tua itu bisa bahasa Indonesia," bisik Gamya kepada Cindekia. Agar Cindekia tidak merasa terkejut seorang diri.
"Bapak juga baru tahu sekarang?" bisik Cindekia kepada Gamya heran.
"Begitulah," ujar Gamya enteng. Bagaimana Ia bisa tahu tentang Ayahnya? Ia hampir tidak pernah berhubungan dengan kedua orang tuanya.
Cindekia menatap Gamya tidak percaya, keluarga macam apa mereka ini?
"ehem..ehm.." Ibunya Gamya mencoba menarik perhatian dua anak muda yang terlihat seperti sedang dimabuk asmara di hadapannya, "jangan memanggilku Nyonya. Aku tidak ingin putraku membenciku, jadi Aku akan menerimamu sebagai menantuku," ucap Wanita itu tegas.
Apa ini wajah aslinya? karakternya begitu kuat, ternyata kembarannya pak bos mirip dengan ibunya. Pikir Cindekia.
Cindekia menggelengkan kepalanya mengembalikan akal sehatnya, ini bukan saatnya untuk terkagum-kagum cindekia.
"Kau pasti lelah, sayang..." ucap Ibunya Gamya kembali bernada lembut. Ia melirik seorang pelayan wanita berwajah asia yang berdiri tidak jauh dari mereka. Pelayan itu datang menghampiri Cindekia. "Dia akan mengantarmu ke kamar, istirahatlah."
Cindekia melirik Gamya sebelum memutuskan untuk mengikuti pelayan wanita yang tidak dikenalnya itu.
"Pergilah, jika dia membawamu ke ruang bawah tanah segera menghubungiku," ujar Gamya tertawa lepas melihat ekspresi wajah Cindekia yang ketakutan.
"Baiklah,"
Cindekia berdiri dari duduknya, "Kalau begitu, selamat malam," ucapnya sopan kepada kedua orang tua di hadapannya.
"Buatlah dirimu nyaman," ucap Tuan Lenart ramah.
Cindekia mengangguk dan mengikuti pelayan wanita itu meninggalkan ruang makan.
Selepas kepergian Cindekia, Gamya kembali bersikap dingin menatap kedua orang tuanya.
"We are glad to have you here, Son! (Kami senang kamu di sini, Nak)"
"'I'm not your son, and I have no intention of being your son, (Aku bukan putramu, dan tidak berniat menjadi putramu)"
"Gamya!!" seru Ibunya, Ia tidak tahu bagaimana cara berdamai dengan putranya. Dirinya tidak pernah mendapat kesempatan membesarkan putranya sejak melahirkannya.
Tuan Lenart menggenggam tangan istrinya untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Aku datang ke sini bukan karena permintaan Kalian, tetapi karena ingin Gane kembali ke sini," tegas Gamya dan berdiri untuk beranjak pergi.
"Kami Akan kembali besok pagi," katanya kemudian dan berjalan pergi.
Seorang pelayan dengan cekatan menyusul Gamya untuk menuntunnya menuju kamarnya.
***
Sementara itu...,
Cindekia telah sampai di kamarnya. Ia sangat kagum dengan kamar yang ditempatinya. Koper yang dibawanya telah duduk manis di depan lemari.
Ia merasa seperti seorang putri yang tinggal di istana. Jarang jarang pergi perjalanan bisnis dapat fasilitas kamar beginian.
Ia menggulung badannya dengan selimut karena suhu udara yang lumayan dingin. Meskipun bukan musim salju, suhu di musim semi tetap terasa dingin baginya.
Pelayan wanita itu mengisi bak mandi dengan air hangat dan menambahkan minyak esensial. Setelah memastikan nona muda yang datang sebagai tamu istimewa merasa nyaman dengan kamarnya, pelayan wanita itu pamit undur diri. Ia terkejut melihat tiba-tiba Gamya sudah berdiri di depan kamar Cindekia.
Tanpa berani berbicara, Ia hanya bisa menunduk dan pergi kabur. Ternyata rumor Gamya yang berhati dingin juga sampai di lingkungan pelayan rumah orang tuanya, bukan hanya di tempatnya bekerja.
"Kau bersenang-senang?" Gamya berdiri di ambang pintu kamar Cindekia.
Cindekia segera menoleh ke arah suara, "Bapak?" Dengan berbalut selimut, Ia berjalan menghampiri Gamya, "bagaimana? Saya berhasil ditolak?"
"hmm... entahlah, sepertinya Kau gagal membuat mereka menentangmu,"
"Begitu ya? bagaimana kalau saya adalah seorang wanita mata duitan? mereka pasti akan langsung menendang Saya kan?" Cindekia memainkan jari jemarinya di hadapan Gamya seperti sedang menakut nakuti, "huuuuu saya mengincar harta keluarga ini..... " ucapnya seperti hantu yang sedang menakut-nakuti.
Gamya terbengong melihat Cindekia yang sepertinya sudah kehilangan sedikit kewarasannya, "Kau sedang apa?" tanyanya.
"Latihan buat besok,"
Gamya menarik ke atas selimut yang dikenakan Cindekia dan menutupkannya ke kepala gadis itu, "tidur sana!" bentaknya.
Blam!
Pintu kamar Cindekia kembali ditutup oleh Gamya.
__ADS_1
A**pa apaan dia, Cindekia mengeluarkan kepalanya dari balik selimut dan pergi menuju kamar mandi.
Mending berendam air hangat, menenangkan pikiran.