
Berbekal kegigihan Cindekia untuk meminta dipulangkan, akhirnya dirinya dipulangkan Gamya dari rumah sakit.
Ia benar-benar hanya keseleo biasa, terbukti Ia sudah bisa berdiri.
"Apa Kau yakin tidak apa-apa?" Gamya membantu Cindekia duduk si sofa tamu rumah kontrakkannya.
"Aman Pak, tenang saja."
"Hmm..." Ada perasaan tidak rela membiarkan Cindekia yang mengalami kesulitan dengan kakinya tinggal sendirian di rumah.
Tidak mungkin dirinya menemani Cindekia dan menginap di rumah gadis itu, walaupun sebenarnya dia tentunya dengan senang hati mau tetap tinggal menemani Cindekia.
"Bapak tidak pulang?" tanya Cindekia yang mau ngusir nggak enak, tapi dihati mau tetap ditemani dan sudah terlanjur ngusir pula.
"Baiklah, istirahat lah. Besok tetaplah di rumah, mengerti?"
Cindekia tersenyum senang mendengar Gamya memberinya hari libur, dibalik kesusahan ternyata ada kebahagiaan.
"Baik, Pak," ucapnya penuh semangat.
Gamya lega melihat Cindekia dengan semangat menuruti perkataannya. "Baiklah Baby, Aku pulang, hati-hati, jangan lupa mengunci pintu," katanya melembut sembari berjalan menunju pintu keluar.
"Iya, Pak," Cindekia mengikuti Gamya, Ia harus menutup dan mengunci pintunya.
"Mengapa Kau tidak menggunakan tongkatmu?" Gamya menunjuk tongkat penyangga yang tergeletak di tempat yang tadi diduduki Cindekia, Ia kembali bersikap dingin.
__ADS_1
Cindekia merasa tidak membutuhkan alat bantu, Ia bisa berjalan walaupun harus pelan-pelan. Tetapi Gamya tetap maksa membelikannya.
"Saya lupa, Pak."
"Kau harus menggunakannya, jangan memaksakan kakimu yang sakit untuk berjalan." Gamya kembali melanjutkan perjalanannya melewati pintu keluar.
"Terima Kasih, Sayang."
Suara yang terdengar lembut di telinganya menghentikan langkah Gamya.
Sementara, Cindekia yang berdiri di belakangnya menunggu reaksi Gamya dengan gusar. Ia sadar Gamya yang sejak tadi moodnya berubah-ubah menjadi dingin karena marah.
Jadinya, Ia ingin mencoba ikut-ikutan Gamya yang memanggilnya baby. Setidaknya di minggu terakhir sebelum putus kontrak harus bos tapi mesra. Meski di awalnya sangat berat lidahnya untuk menyebutkan sayang yang berasal dari hati, bukan berasal dari pangkal lidah.
"Kau harus banyak-banyak latihan." Gamya tetap bersikap dingin, membuat guratan senyum Cindekia langsung kabur seketika.
"eh, iya."
Cindekia langsung menutup dan mengunci pintu rumahnya setelah kepergian Gamya. Sementara Gamya masih belum memindahkan mobilnya dari depan kontrakkan Cindekia. Ia masih ingin tertawa dulu sejenak di dalam mobilnya.
***
Meskipun belum sepenuhnya sembuh, Cindekia sudah masuk kerja.
Gamya memberikan Cindekia hari libur. Gadis itu tidak menyangka Gamya juga ikutan liburan di rumahnya. Hari liburnya diisi dengan bermain game bersama, Gamya membawa PlayStation-nya. "Untuk menghilangkan kejenuhan di rumah karena sakit," katanya ketika itu. Padahal dirinya yang ingin mencoba beberapa game PS5 yang baru rilis.
__ADS_1
Hari ini Cindekia tengah mengikuti rapat dengan tim aplikasi Lapuk mobile. Pandangannya tidak lepas dari Gamya setiap kali bosnya itu mengeluarkan kata-katanya.
Bagi Cindekia setiap kata yang dikeluarkan bosnya terdengar sangat merdu dan manis. Berbeda dengan rekan kerjanya yang lain. Mereka seperti ingin memberikan racun roundup kepada Gamya.
Rapat yang menyimpulkan tim aplikasi Lapuk mobile harus memperbaiki usulan pembaharuan mereka, akhirnya ditutup juga oleh Gamya.
Gamya lebih dahulu keluar dari ruang rapat bersama pak Damar. Mereka meneruskan perbincangan serius.
Cindekia yang hendak menyusul bosnya, ditarik oleh Gina untuk tetap tinggal di ruangan. "Apa Kau dengar tadi?"
"Ya?"
"Kita harus memberikan kemudahan pelanggan melakukan pemesanan produk." kata Gina menirukan gaya bicara Gamya.
"Bagaimana bisa dia tidak puas dengan fitur auto debit pembelian kredit yang kurancang? padahal sudah praktis," geram Gina tidak terima.
"Iya."
"Benar, kan?"
"Ya,"
"Dia tidak memberikan apresiasi dengan peningkatan survei kepuasan pelanggan," keluh Heri, rekan kerja Cindekia yang juga bagian dari tim.
"Iya,"
__ADS_1