Boss Gila

Boss Gila
Bab 11 Selingkuhnya Ketahuan.


__ADS_3

Sudah sepuluh purnama kulewati, hingga musim telah berganti. Cuaca hari ini diperkirakan cerah berawan sepanjang hari. Jangan lupa melihat ramalan cuaca sebelum keluar rumah, terlebih di hari yang spesial. Orang bilang sedia payung sebelum hujan.


Hari ini aku akan pergi kencan dengan Dyan, pria hangat baik hati tidak sombong rajin menabung, eh maaf keterusan. Aku tidak tahu apakah dia rajin menabung atau tidak. Sama seperti halnya apakah lelaki itu menganggap kami sedang pergi kencan atau tidak. Setiap kali kami pergi menikmati pemandangan di hari libur, aku selalu menganggapnya kencan.


Aku meninggalkan rumahku dalam kondisi kamar yang berantakan. Akan kubereskan nanti kekacauan yang kubuat. Aku memiliki alasan yang kuat untuk itu. Rumahku hanya kontrakan biasa. Tidak ada air conditoner di rumahku. Bisa dipastikan aku akan mengalami mandi keringat season kedua jika harus membereskan kamarku.


Tentu hal itu tidak boleh terjadi, bukan?


Setelah menyelesaikan pertemuan dengan Ganeeta, dengan semangat aku menghubungi Dyan agar menjemputku di cafe ayok nongkrong.


Aku tidak tahu tentang rencananya hari ini. Tetapi hari ini Aku ingin makan pempek. Tidak ada kata terserah di kamusku.


Dyan tiba setelah setengah jam aku mengubunginya. Tidak ada yang berubah, dia masih tersenyum hangat setiap kali melihatku.


Aku berjalan kecil menghampirinya di pakiran cafe. "Mau ke mana?" Tanpa aba aba aku langsung duduk di bangku belakang motor besarnya.


"Kia mau makan dulu?"


"Boleh, ke warung pempek." Aku tersenyum, sore hari enaknya makan pempek dengan kuah cuko yang pedas.


"Ok."


Dengan kecepatan sedang, motor besar itu membawa kami ke warung pempek yang Aku rekomendasikan.


"Apa kerjaanmu sudah selesai?" tanyaku ditengah perjalanan.


"Belum sih, tapi gimana ya..., aku mau bertemu denganmu,"


Aku tertawa kecil mendengarnya. Kurasakan kedua pipiku memanas. Apa aku adalah wanita spesial di hatinya?


"Oh ya, pertanyaanku kemaren kau belum jawab loh." Aku memberanikan diri bertanya sekali lagi.


Apakah aku sudah siap mendengarnya menyukai wanita lain?


"Yang mana?"


"Itu wanita yang kau suka." Aku merapatkan kepalaku lebih maju ke depan agar dia dapat mendengar suaraku dengan baik jika aku memperkecil volume suaraku.

__ADS_1


"Oh...Kamu penasaran?" dia membesarkan volume suaranya dan menoleh kebelakang.


Aku memutar kepalanya kembali ke depan agar fokus saja dengan jalan. "Iya!"


"Kalau gitu a ku kenalin hari ini aja deh."


Apa? benaran Ada?


Rasa sesal dari dasar yang paling dasar hatiku menyeruak ke permukaan, dan terus menuju otakku bagian depan. Aku berharap wanita itu adalah Aku. Tetapi, bagaimana jika bukan aku?


Aku masih hanyut dalam pikiranku ketika Dyan memakirkan motor besarnya di depan warung pempek langgananku. Jangan mengira dekat dengan rumah kontakkkanku, tidak. Lokasinya agak jauh.


Masih banyak meja kosong yang tersedia. Para pelanggan tidak akan berlama lama di warung yang tidak memiliki pendingin ruangan.


Spekulasiku tentang wanita yang menghiasi hatinya Dyan, membuatku lupa dengan tujuan utamaku ke warung pempek. Aku malah memesan tekwan, bukan pempek kapal selam jumbo.


"Hoi melamun..." Dyan yang duduk di hadapanku melambaikan tangannya, "ada apa? stress karena bosmu yang baru?"


Aku hanya mengangguk. Aku tidak berbohong. Atasanku yang baru, Pak Gamya memang membuat stress. Aku jadi teringat tentang malam mingguku semalam yang kulewati dengan merekap data yang baru saja di kirim dari beberapa departemen.


Ah mengapa mereka juga ikut membuatku stress? seenaknya saja meng-email kan data kepadaku di penghujung deadline.


"Jangan melawak, kuliah lagi malah bikin tambah stress." Aku menggerutu.


Dyan tersenyum hangat mendengar keluhanku. Tolong jangan lama lama senyumnya, lama lama bisa meledak. Kuakui Dyan tidak setampan pak Gamya. Tetapi tokoh utama dalam hidupku adalah Dyan.


"Pak Dyan." Dua orang wanita yang entah dari mana datangnya tiba tiba sudah berdiri di depan meja kami. Pandanganku hanya terfokus ke arah Dyan, jadi Aku tidak melihat dari mana kedua wanita itu datang.


"Bu Anggie dan Bu Sandra." Dyan tersenyum hangat menyambut kedua wanita asing itu.


"Hallo..., " sapa salah satu dari mereka.


"Hallo." Aku membelas sapaanya.


"Kita boleh gabung?" tanya salah satu dari mereka,


Dyan menggeser kursinya. "Boleh boleh, silahkan."

__ADS_1


Apa? Dengan terpaksa aku memasang senyum mempersilahkan salah satu dari kedua wanita itu duduk di sebelahku.


"Terima kasih, " ucapnya kepadaku.


"Kebetulan ketemu Pak Dyan di sini, ada yang ingin saya tanyakan mengenai kegiatan kita nanti...."


"Oh iya, apa itu Bu?"


Tunggu, coba ini siapa sutradaranya? mengapa adegannya mereka langsung ngobrol akrab? Lah gak ada acara perkenalan? mereka siapa? aku siapa.


Aku tidak begitu mengerti apa yang mereka bicarakan. Kesimpulan yang dapat Aku ambil mereka sedang membicarakan kegiatan dosen dan sangat penting bagi kedua wanita tersebut. Berarti kedua wanita asing ini adalah teman sejawatnya Dyan sesama dosen.


Seorang pelayan datang membawa pesananku. Dyan dan kedua temannya terlalu sibuk berdiskusi. Apa Dyan menyukai salah satu dari mereka? Keduanya cantik dan terlihat terpelajar.


Mungkin saja, apa kini tiba saatnya Aku menjadi teman yang di nomor duakan?


Aku melihat semangkuk tekwan dengan asap yang mengepul telah terhidang di depanku. Membiarkan Dyan dan kedua temannya yang masih berdiskusi, Aku menyantap hidangan yang ku pesan.


Kelembutan bakso ikan yang terbuat dari campuran ikan dan tepung tapioka begitu membekas di lidahku. Rasa kuah kaldu tanpa penyedap buatan membuatku lupa tentang diriku yang terabaikan.


srrupppt...


Dyan menoleh ke arahku. "Duluan ya Dyan," ucapku.


Ucapanku membuat kedua wanita itu juga menoleh ke arahku. "Loh teman Pak Dyan? Kami kira mahasiswa."


****


Ganeeta, wanita cerdas dan mandiri yang haus akan kebebasan setelah lama terkurung dalam istana sebagai tuan putri.


Medengar lakonan yang dibuat Cindekia di cafe ayok nongkrong, tidak lantas membuatnya percaya begitu saja. Cindekia yang menggenakan pakaian harian biasa namun tidak terlihat biasa, menggerai rambut yang biasanya terikat ekor kuda. Ia mengikalkan rambutnya, dengan dandanan yang dibuat senatural mungkin. Ganeeta menebak butuh waktu lama untuk menghasilkan wajah natural dengan make up.


Dia tidak mungkin mempersiapkan penampilannya yang memakan waktu lama, jika hanya untuk menemuiku.


Dan benar saja, dugaannya tidak meleset. Ganeeta masih di pakiran Cafe menunggu Cindekia dari dalam mobilnya. Ia mengikuti Cindekia dan Dyan.


Dengan senyum d bibirnya, Ia merekam apa yang dilihatnya.

__ADS_1


Hari ini mungkin hari keberuntungannya. Ia mendapat bahan baru untuk mengganggu Gamya, saudaranya saudara kembarnya. Meskipun terlahir dari rahim yang sama, nama mereka tidak tertulis di dalam kartu keluarga yang sama.


__ADS_2