Boss Gila

Boss Gila
BAB 49 Stapler yang tak bersalah


__ADS_3

"Apa yang baru saja kulakukan?" gumam Cindekia sedikit bingung, setelah keluar dari ruangan bosnya.


Tidak bisa dipercaya, belaian di kepalanya membuatnya terpedaya dan larut dalam ketidakwarasan dua insan.


Mengapa Aku menggenggam tangannya dan tersenyum genit begitu? batin Cindekia sangat frustrasi atas sikapnya yang di luar nalarnya.


Dia tidak sedang berakting, tidak ada keluarga Gamya di sana. Kalaupun ada, dirinya juga tidak mungkin akan genit begitu.


"Apa karena tidak ada siapa-siapa?" sebuah pertanyaan berisi sindiran pedas terdengar di kepalanya.


Ia kembali fokus membuat teh untuk Sukie. Tetapi tak lama kemudian Ia tetap merutuki nasibnya yang agak sedikit sial.


Bagaimana bisa dirinya kepergok oleh salah satu pewaris perusahaannya saat tengah berbuat nakal kepada Gamya, yang tak lain dan tidak salah lagi adalah bosnya.


duh!


"tok... tok..." terdengar suara pintu diketuk di ruangan Gamya.


Namun, penghuninya seperti tidak terganggu dengan seseorang yang membuka pintu itu, dan masuk tanpa diberi ijin terlebih dahulu.

__ADS_1


"Ha.. ha.. ha.." terdengar suara tawa renyah Gamya menggema di ruangannya. "Benar kah nenek mengatakan itu?" tanya Gamya kepada Sukie.


Di sela tawanya gadis cantik berkulit putih berkilau itu meyakinkan Gamya, "Iya, kak." katanya kemudian.


Kehadiran Cindekia yang mengantarkan teh tampak tidak mengganggu keduanya. Bahkan Gamya tidak sekalipun melirik ke arah Cindekia saat gadis itu meletakan cangkir teh di atas meja.


"Jangan percaya kepadanya, Sukie. Dia mungkin salah mengingat." Suara Gamya terdengar ramah, sekali lagi seperti petugas pemerintah yang mengayomi masyarakat.


Cindekia sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, namun apa daya tugasnya hanya mengantar teh.


Padahal Ia sudah memperlambat gerakannya agar lebih lama tetap berada di ruangan itu. Tetapi keduanya seakan tahu dimana harus menjeda pembicaraannya.


Gadis pengantar minuman yang sangat diharapkan kepergiannya oleh Sukie, akhirnya menutup pintu ruangan dengan pelan setelah keluar dari ruangan Gamya dan kembali duduk di mejanya.


"Lihat lah dia, bagaimana cara dia berbicara ramah dengan nona Sukie, dia tidak seramah itu dengan pak Rudi, apa karena Sukie seorang wanita?oh astaga ternyata dia jelalatan juga," umpat Cindekia.


Semua pria sama saja, Cindekia mengambil kesimpulan.


Tidak, Dyan berbeda, bagian dirinya yang lain tiba-tiba datang menyanggah.

__ADS_1


Gadis itu menggenggam erat stapler-nya, melimpahkan kemarahannya kepada benda yang tidak tahu apa-apa itu.


"Iya sih nona Sukie cantik, tinggi sesampai langsing putih dan menarik. Mengapa mereka tidak pacaran saja?" gumamnya kesal.


Bentar-bentar... mengapa juga Aku sangat marah? Kami kan tidak saling mencintai? hanya pasangan yang menjalin hubungan serius selama dua minggu, dan sekarang sudah kurang dari dua minggu.


Cindekia mengangguk paham, meredakan emosinya dan melepaskan stapler yang tidak bersalah tadi.


Berpikir jernih membuatnya teringat dengan perkataan Gamya yang tidak mempermasalahkannya mencintai pria lain.


Apa hubungangan mereka? timbul tanda tanya dibenak Cindekia.


Tidak ingin berpikir banyak, gadis itu mengambil ponselnya. Ia juga memiliki seseorang yang harus dipikirkannya, siapa lagi kalau bukan suami masa depannya.


"Sedang apa dia ya?" gumam Cindekia membuka layar ponselnya, Ia berniat ingin chitchat dengan Dyan.


Ceklek!


Suara pintu tertutup menyentuh gendang telinga Cindekia membuatnya mengangkat kepalanya melihat ke sumber suara.

__ADS_1


__ADS_2