Boss Gila

Boss Gila
Kami akan Menikah!


__ADS_3

"Katakan padaku, apa Kau menyukaiku?" Gamya menatap lekat Cindekia. Melihat dalam kedua bola mata gadis itu. Seolah mencari jawaban di sana.


Namun, Cindekia terus memandang ke arah lain, menghindari tatapan lembut yang diberikan Gamya. Ia malu dan merasa tidak nyaman. Jika biasanya Ia hanya berdebar-debar, namun kali ini ada sedikit tambahan yang Ia sendiri tidak tahu.


Dengan memberanikan dirinya, Cindekia kembali mendorong Gamya hingga dirinya memiliki ruang membuka pintu untuk kabur.


"Tidak. Bapak lupa, Saya menyukai orang lain," katanya sebelum menghilang di balik pintu.


Kepercayaan diri Gamya kembali meredup dan membuatnya tersenyum tipis memandang bayangan Cindekia yang telah kabur darinya.


"Jadi dia memang lupa dengan berkas yang sudah kutandatangani," gumamnya, tadinya Ia menduga Cindekia langsung kembali mendatanginya karena memiliki perasaan yang sama dengannya.


Sementara Cindekia tidak mengerti mengapa dirinya tiba-tiba menjadi tidak konsekuen. Keteguhan dan kesetian hatinya yang menyukai Dyan mulai terkikis.


Terlalu sering menghabiskan waktu bersama berbahaya juga ternyata, Pikirnya khawatir.


Gadis itu mulai memikirkan untuk menghindari pulang bersama dengan bosnya. Namun Gamya sudah lebih dahulu memerintahkannya pulang dengan Pak Isman.


Tampaknya Pria itu juga tidak nyaman membuat Cindekia tidak nyaman dengannya.

__ADS_1


***


"Mengapa Kau bisa ada di rumahku?" tanya Gamya tidak senang mendapati Rudi telah duduk santai menyeruput teh di sofanya.


Tidak terganggu dengan nada kasar Gamya, Rudi tetap tersenyum santai, "Hallo Abang ipar."


"Kau sudah pulang, ada yang ingin kuberitahukan kepadamu," Tiba-tiba Ganeeta datang dari dapur dengan kue yang baru keluar dari oven di tangannya.


Sejak kapan dia membuat kue?


"Apa Kau ingin alih profesi menjadi chef?" tanya Gamya heran.


Gamya memandang keduanya dan mengangguk mengerti. "Itu adalah kabar baik, selamat untuk kalian berdua," katanya, tak lupa memberikan senyum bahagia mendengar berita bagus.


"Apa?" gumam Ganeeta dan Rudi, tidak percaya Gamya akan menyetujui pernikahan mereka.


"Kau menyetujuinya begitu saja?" tanya Ganeeta memastikan kembali apa yang Ia dengar. Ia sungguh tidak terima. Ini keluar dari jalur rencananya.


"Iya," jawab Gamya yakin, "Kalian berdua harus segera menikah."

__ADS_1


Ia berjalan menuju kamarnya untuk segera mandi menghilangkan penat setelah seharian bekerja mengais rejeki.


"Sekali lagi selamat untuk kalian berdua." Gamya menepuk pundak Rudi dan tersenyum simpul saat melewati temannya itu.


Blam!


Gamya telah menghilang di balik pintu kamarnya, meninggal Ganeeta dan Rudi yang masih dalam keadaan bingung. Rencana mereka gagal total.


Tadinya Ganeeta, akan membuat tawaran baru jika Gamya tidak menyetujui pernikahannya dengan Rudi.


"Ternyata sekarang bad guy sudah menjadi suami idaman banyak orang, tak terkecuali saudaramu," kata Rudi kepada Ganeeta. "Lalu bagaimana? kita tetap menikah saja." Rudi kembali merangkul bahu Ganeeta dengan lebih erat.


"Kau sudah gila? singkirkan tanganmu!" Ganeeta menatap tajam ke arah Rudi, orang yang baru saja Ia kenal. Teman akrab satu-satunya yang dimiliki saudaranya, yang ternyata adalah playboy kelas tinggi.


Tadinya Ia ingin meminta bantuan kepada Rudi, ternyata rencananya tidak berhasil.


"Apa mulutmu telah merusak rencanaku?" selidik Ganeeta.


"Hey.. hey Aku tidak mengatakan apa-apa," Rudi mengambil kue yang masih bertengger di tangan Ganeeta, dan duduk di sofa, "Apa hanya ini bayaranku setelah bekerja untukmu?"

__ADS_1


"Ini gawat, bagaimana jika hubungan mereka benar-benar serius saling mencintai?" Ganeeta tampak mengkhawatirkan nasibnya ke depan.


__ADS_2