Boss Gila

Boss Gila
kebiasaan buruk yang harus dihilangkan


__ADS_3

"Apakah Kau pernah ke ruangan bawah tanah?"


Enam menatap Cindekia heran, "Apa Nona ingin pergi ke sana?"


hah benaran ada?


"Tidak," Cindekia berlari mengejar sisa bayangan Gamya, ada yang lupa Ia tanyakan. Namun begitu keluar dari ruang baca, Ia bingung harus berbelok ke lorong yang mana.


"Ada apa Nona?" tanya Enam yang ikut berlari menyusul Cindekia dengan napasnya yang masih terengah-engah.


"Apa Kamu tahu ke mana Pak Gamya pergi?"


Enam menggeleng, "Tidak, tapi mungkin ke kamarnya."


Cindekia mengambil tangan Enam, "Bisakah Kamu mengantarku?"


Enam tampak ragu, Ia takut tuannya akan marah, "Baik, Nona."


"Tapi nanti Kia, bilang kalau Kau yang memaksaku ya," bisik Enam.


"Ok,"


Setelah yakin mendapat perlindungan dari Cindekia, Enam mengantar gadis itu ke depan kamarnya Gamya.


"Ini?" tanya Cindekia menatap pintu berukuran besar di hadapannya.


"Iya, coba digedor saja," bisik Enam.


"Baik lah," Cindekia bersiap menggedor pintu kamar Gamya dengan kakinya.


Sayangnya pintu terbuka sebelum digedor. Gamya pelaku pembuka pintu berdiri diambang pintu. Ia telah memakai kaos oblong lengan pendek, memperlihatkan dengan jelas bentuk tubuhnya yang bagus.


Melihat pemandangan yang menggoda keimanan, Cindekia langsung mundur dan memalingkan wajahnya. Duh silau,


"Ada apa?" tanya pria bertubuh bagus itu.


"Ini, Saya yang memaksa Enam untuk mengantarku kemari!" ucap Cindekia panik. Ia melihat ke arah di mana Enam berdiri, namun pelayan itu sudah menghilang.


"Ok,"


"Itu, ada satu hal yang lupa Saya tanyakan."


"Kau harus melihat ke arahku saat berbicara kepadaku," Gamya melipat kedua tangannya.


"Itu, apakah Bapak membatalkan kontrak karena perkataan saya malam itu?" Cindekia menoleh sebentar ke arah Gamya yang masih berdiri menatap lurus ke arahnya.

__ADS_1


"Ya, " tegas Gamya


Cindekia kembali menoleh ke arah Gamya, fokus menatap wajahnya. Abaikan badannya. "Saya bersedia menikah dengan Bapak, dan bersedia menanggung resiko di penjara di bawah tanah,"


"Ok," jawab Gamya terdengar tak acuh, padahal hatinya sangat senang mendengar pernyataan Cindekia.


"Tapi Saya punya satu syarat, Bapak harus bersedia menghilangkan kebiasaan buruk bapak!" tegas Cindekia.


Kebiasaan buruk?


Gamya berpikir sejenak tentang kebiasaan buruknya yang mana, Ia punya banyak. Apakah semuanya?


"Tidak mau," Gamya menebak apa yang dimaksud Cindekia adalah apa yang dilakukan tangannya tadi di ruang baca.


Air muka Cindekia berubah muram, Ia menunduk menyembunyikan wajah kecewanya, "Semoga bapak berakhir bahagia, tidak seperti di dalam mimpi Saya kemarin. Lupakan saja apa yang barusan Saya katakan, permisi." Cindekia pamit balik ke kamarnya yang entah dimana letaknya.


Namun langkahnya terhenti karena Gamya menahan lengannya, "Baik, Aku akan berusaha menghilangkan semua kebiasaan burukku, tapi tidak untuk yang satu itu. Kau pasti tahu salah satu alasanku ingin menikahimu."


Cindekia berusaha melepaskan lengannya dari cengkraman Gamya, "Pak, tangan saya."


"Katakan padaku Kau menyukaiku. Jika tidak, untuk apa Kau datang ke negara ini menemuiku."


Cindekia masih berusaha membebaskan lengannya, Iya takut keceplosan bicara dan mengatakan semua yang Ia rasakan. "Pak, lepaskan tangan saya!"


Namun, orang yang menahan lengannya bergeming. Ia tetap bertahan untuk membuat Cindekia mengakui perasaannya.


"Mencium wanita lain?" tanya Gamya mengkerutkan keningnya, "Darimana pemikiran itu berasal? Hanya Kau wanita yang kuinginkan, Kia."


Cindekia menatap Gamya dengan tatapan berapi, "Pemikiran, bapak bilang?! Saya bahkan tidak ingin memikirkannya, tetapi tetap saja bayangan Bapak mencium nona Sukie selalu muncul di kepala saya."


Gamya terkejut dan menegang, "Kau melihatnya?" tanya Gamya penuh dengan kehati-hatian


"Iya! Saya melihatnya!"


Lengan Cindekia kembali dicengkram Gamya, namun kali ini dengan lembut, "Jadi malam itu, Kau marah padaku karena itu?"


Cindekia menunduk dan memalingkan wajahnya yang memerah karena malu , "I..ya"


Gamya mengangkat wajah Cindekia agar gadis itu dapat melihat kedua bola matanya yang akan berbicara jujur, "Baby, Maaf, itu tidak sengaja, sungguh."


"Tidak sengaja apa'an sampa lama begitu nempelnya?!"


Hari ini Cindekia benar-benar menguji kesabaran dan keteguhan iman Gamya. Kemunculannya yang tiba-tiba, sudah membuat pria itu sakit kepala menahan diri.


Sekarang, mendengar omelan kecemburuan Cindekia membuatnya ingin membungkam mulut gadis itu dengan mulutnya. Ia benar-benar harus bertahan hingga akhir.

__ADS_1


Gamya akhirnya memilih untuk tertawa, melepaskan kegundahannya.


"Mengapa Bapak tertawa?!" Cindekia masih menatap Gamya sinis.


"Kau lucu saat cemburu, Aku jadi semakin menyukaimu," kata Gamya di sela tawanya.


Merasa ditertawakan, Cindekia semakin melotot kepada Gamya. Tadi dirinya dipaksa untuk bicara, setelah bicara malah jadi bahan tertawaan. Ia jadi menyesal sudah bicara.


"Saya serius dengan syarat yang saya ajukan, setelah menikah Bapak harus menghilangkan kebiasaan mesum bapak dengan wanita lain."


Tuduhan Cindekia membuat Gamya bingung harus menyangkalnya bagaimana. Ia tidak bisa bilang kalau selama ini Ia memiliki fantasi aneh dengan Cindekia, berpelukan, berciuman, dan bahkan lebih romantis.


Akhirnya Ia hanya bisa menghela napas mencoba menerima tuduhan wanitanya, "Ok Aku akan memenuhi syaratmu itu, ada lagi syarat yang lain?"


"Untuk saat ini, itu saja dulu."


Gamya mengeluarkan sebuah remot dari saku celananya, dan menekan tombol nomor 6. "Enam, akan mengantarmu kembali ke kamar, Sweetie."


"Saya masih ingin membayar hutang," protes Cindekia.


"Apakah Kau ingin menggodaku karena sudah mengetahui arti hutang yang kumaksud?"


Cindekia mengulum senyumnya, "Saya masih ingin bercerita banyak dengan Bapak."


Enam yang dipanggil Gamya, muncul dari pintu lorong yang bersebrangan dengan kamarnya, "Apa Kau mau mendengar kisah seekor kambing dan tiga ekor kerbau?" tanya Gamya kepada Enam.


Mau tidak mau, Enam dan beberapa pelayan yang lain ikut mendengarkan cerita tidak penting antara Cindekia dan Gamya.


Cindekia jatuh tertidur di sofa kamar Gamya, saat masih tengah bercerita.


Gamya yang masih terjaga menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Cindekia yang tertidur pulas di sebelahnya, "Leave us,"


Mendengar perintah tuannya, para pelayan yang sejak tadi menjadi pendengar cerita dengan teratur meninggal kamar tuannya.


Keesokan paginya, Cindekia menggeliat dan mendapati dirinya telah terbaring di atas tempat tidur. Lah ketiduran,


"Nona sudah bangun?" suara Enam menggagetkannya.


"Kamu di sini?" Cindekia mengerut keningnya melihat sekelilingnya, Ia berada di kamar Gamya. Bagaimana bisa aku tertidur di kamar orang?


Ia benar-benar lelah semalam, namun masih ingin melepas rasa rindunya kepada Gamya setelah mengetahui pria itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya.


"Saya akan mengantar Nona kembali ke kamar nona." Enam membantu Cindekia menyingkirkan selimut yang menutupinya.


"Erlin," Cindekia memanggil nama Enam, "Apa yang terjadi setelah Aku tertidur semalam? Kau tidak meninggalkanku berdua saja dengan Pak Gamya kan?"

__ADS_1


Enam diam sejenak mencoba mengingat apa yang terjadi setelah dirinya dan yang lainnya meninggal kamar tuannya. "Tidak Nona, tuan hanya memindahkan Nona ke atas tempat tidur, setelah itu pergi ke kamar tamu," ujar Enam berbohong.


Cindekia tersenyum lega, "Syukurlah Kalau begitu," ucapnya, Ia khawatir dirinya kehilangan kehormatan harga dirinya.


__ADS_2