Boss Gila

Boss Gila
BAB 87 Abang Petugas Hotel


__ADS_3

Cindekia bergegas mencari suaminya setelah memutuskan sambungan telepon ibunya.


Sementara kuah sup kepiting dibiarkan menggelegak di dapur.


Ruangan pertama yang dituju Cindekia adalah kamar mereka.


Salah satu ruas dinding terlihat sedikit terbuka. Cindekia menduga suaminya ada di dalam ruangan yang belum Ia ketahui itu.


Benar saja, Gamya sedang duduk di dalamnya. Ruangan itu adalah ruang kerja Gamya.


Ia sedang melakukan konferensi lewat video.


"Pak!" teriakan Cindekia tiba- tiba mengagetkannya, dengan cepat Ia mematikan mikroponnya dan kameranya.


"Ada Apa, Sayang?" Ia melempar senyumnya kepada Cindekia.


"Bapak sedang apa? apa Saya mengganggu Bapak?" tanyanya tiba- tiba menjadi segan, karena melihat Gamya sedang duduk di kursi meja kerja dengan sebuah laptop.


"Katakan saja, ada apa mencariku, Hun?"


"Itu, mengapa kedua orang tua Saya, Bapak letak di hotel?"


"Agar mereka bisa istirahat terlebih dahulu, nanti sore Aku akan mengantarmu menemui mereka." jelas Gamya. Penjelasannya sama sekali tidak menjawab pertanyaan Cindekia.


"Maksud Saya, mengapa tidak mengantarkan kedua orang tua saya ke sini?" Cindekia mencoba mengganti pertanyaannya.


"Kau bisa meminta Isman menjemput kedua orang tuamu untuk menemuimu di sini."


Apa dia tidak suka mertuanya nginap di rumahnya? Cindekia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal sembari melihat sekeliling.


Dirinya terkejut dan melompat kaget saat berbalik badan, menemukan sebuah tv berukuran 85 inci yang sedang menampilkan beberapa potongan video wajah orang asing yang kebingungan melihat kearahnya.


Apa mereka mendengarkanku sejak tadi?


"Bapak sedang rapat?" bisik Cindekia hati- hati.


"Hmm..." Pertanyaan Cindekia dijawab dengan senyum oleh Gamya.


"Oh, maaf Pak. Silahkan lanjutkan." Cindekia tersenyum kecut takut dimarahi. Ia langsung bergegas keluar.


Begitu keluar dari kamar, harum semerbak soup kepiting menyambut indra penciuman Cindekia.


Ia teringat dengan masakannya yang belum selesai. Niat langsung menemui kedua orang tuanya menjadi tertunda.


Cindekia tidak bisa mengutus orang lain untuk menjemput kedua orang tuanya di saat Ia bisa melakukannya sendiri.


Ia ingat di mana tempat meletakkan kunci mobil suaminya. Cindekia mengambil sembarangan kunci di antara tiga kunci yang tergantung.


"Nona tidak bisa pergi sendiri, nanti Saya bisa dipecat Pak Gamya." Isman mengingatkan sekaligus mencegah Cindekia masuk ke mobil.


"Pak Isman tenang saja, Saya akan bertanggungjawab jawab, oke?" Cindekia tidak memperdulikan Isman.


Ia masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya keluar dari garasi mobil yang bangunannya terpisah dari rumah utama.

__ADS_1


Gerbang otomatis terbuka saat mobil yang dikendarai Cindekia akan melintas. Cindekia mengirim pesan singkat untuk suaminya saat mobilnya berhenti di lampu merah.


Suamiku Sayang, pinjam mobilnya sebentar. Jangan pecat Pak Isman. Atas perhatiannya Saya ucapkan Terimakasih. ttd Istrimu.


Melewati kemacetan dan ketidakteraturan jalan raya, menghadapi kesemrawutan pengguna kendaraan bermotor, bukan hal yang sulit bagi Cindekia. Ia hanya mengalami kesulitan saat memakirkan mobil. Terlebih jika menuju parkiran yang berkelok seperti ular melingkar di pagar pak Umar.


Sesampainya di depan pintu lobi hotel di mana kedua orang tuanya berada, Cindekia langsung memberikan kunci mobil Gamya kepada petugas valet hotel.


Ia tidak ingin mobil pinjaman itu kenapa- kenapa. Jika rusak, mungkin saja suaminya akan memecatnya jadi istri. Begitulah pikir Cindekia.


"Kia!" teriakan Nuraini menggema di lobi hotel saat Cindekia masuk dan berjalan menuju resepsionis.


Nuraini lupa, jika jaraknya dengan Cindekia hanya 6 meter. Karena di kampung telah terbiasa memanggil seseorang dari atas bukit dan bawah lembah.


Bukan hanya Kia yang menoleh, pengunjung yang sedang check-in juga ikut menoleh. Cindekia tersenyum melihat ibunya di ruang tunggu lobi.


"Ibu," Cindekia menyalami Nuraini, "Bapak di mana?"


"Bapak di kamar,"


"Ya sudah, kita ke atas." Cindekia menggandeng Nuraini.


"Bu, kartu kunci kamarnya mana?" tanya Cindekia setelah menekan tombol pintu lift. Mereka tidak bisa naik ke lantai tujuan tanpa kunci kamar.


"Kartu apa? Kamarnya tidak ada kuncinya, Kia," Nuraini memberi penjelasan.


Ini baru pertama kalinya Ia ke hotel. Beruntung putrinya sering membawanya ke mall setiap kali Ia mengunjungi putrinya. Jadi Ia telah terbiasa bagaimana cara menggunakan lift.


Akhirnya mereka, diantar oleh seorang petugas hotel. Begitu pintu lift terbuka, Nuraini yang ingat pintu kamarnya segera menuju kamarnya.


"Pak! buka pintunya!" teriak Nuraini. Dan suaranya kembali menggema di koridor.


"Ceklek!" pintu dibuka oleh Salahuddin.


"Kok dikunci Pak pintunya?" tanya Nuraini sembari berjalan masuk ke kamar.


"Bapak nggak kunci Bu!" jawab Salahuddin bingung.


"Saya permisi Kak. Kalau perlu bantuan lagi bisa panggil Saya lagi Kak. Nama Saya Endra," ucap petugas hotel itu adem seadem wajahnya.


"Iya Bang, terima kasih banyak ya," senyum Cindekia mengalihkan dunia abang petugas hotel.


Cindekia segera masuk ke kamar menyusul ibunya.


"Kia, Bapak kamu itu ngambek mau pulang lagi," bisik Nuraini.


"Pak...." takut - takut Cindekia memanggil ayahnya yang tengah duduk di kursi.


"Kia, Kamu temukan di mana anak seperti suamimu itu?! Kalian tidak suka bapak dan ibu menginap di rumah kalian?"


"Pak, bukan begitu. Kia yang ingin Bapak dan Ibu nginap di hotel. Bukan kah selama ini Kia cuman bisa bawa Bapak dan Ibu liat gedung tinggi dari jalan saja?" bujuk Cindekia.


"Jangan membohongi Bapak Kia!"

__ADS_1


"Kia tidak berbohong, bagaimana kalau kita pergi jalan jalan? Bapak dan Ibu pasti belum makan." Kia memberi penawaran kepada kedua orang tuanya.


"Ayolah Pak, nginap di sini tidak buruk. Kan jadi bisa masuk ke gedung yang selama ini cuman bisa dilihat." bujuk Kia sekali lagi.


"Bapak mau jalan- jalan naik becak motor!"


"Oke, Pak!"


Akhirnya Salahuddin berhasil dibujuk. "Ayo Bu, cepat," Salahuddin sudah berdiri di depan pintu.


Cindekia menutup pintu kamar setelah memastikan kedua orangtuanya sudah berada di luar. Takut ketinggalan.


"Kia, suamimu mana? kok nggak sama kamu?" tanya Nuraini sembari menunggu pintu lift terbuka.


"Kerja Bu,"


"Jangan tanya anak itu Bu, Bapak juga tidak sudi bertemu dengannya, orang tua datang bukan disambut." gerutu Salahuddin.


"Kerja lho Pak, Kalau banyak bolos nanti dipecat, Bapak mau suami Kia nanti pengangguran?"


"Kalau suamimu dipecat, bisa kerja menggarap sawah nanti."


Percakapan antara bapak dan anak itu terus berlangsung hingga tak sadar sudah sampai di lobi hotel.


"Mau pergi keluar ya Bapak dan Ibu?" Endra menyapa mereka dengan tersenyum ramah.


"Iya Dek, jangan khawatir. Kali ini Kami bawa kunci kamar." tawa Nuraini.


"Pergi dulu kami ya Bang," senyum Cindekia kembali mengalihkan dunia abang petugas hotel.


Keluarga itupun melanjutkan perjalanan mereka menuju pintu keluar yang terbuka otomatis.


"Bapak?" Cindekia bertanya heran karena tiba-tiba melihat sosok suaminya begitu keluar dari pintu transparan itu.


Gamya menyalami mertuanya dengan kesopanan dan keramahtamahan.


"Bukannya Kamu sedang bekerja Nak?" tanya Nuraini.


"Kebetulan sedang jam istirahat Bu," Gamya tersenyum seperti bukan dirinya.


Apa dia menganggap Ibu dan Bapak mitra bisnisnya? pikir Cindekia.


Ia bahkan membukakan pintu mobilnya yang terpakir di depan lobi untuk kedua mertuanya.


"Sayang, sampai kapan Kau akan berdiri di sana?" tanya Gamya karena Cindekia tetap berdiri mematung.


"Lho Pak, mobil yang saya Bawa tadi bagaimana? "


"Isman akan mengurusnya,"


Gamya berjalan mendekati Cindekia, "Kau harus mempertanggungjawabkan isi pesanmu, Sweetie," bisik Gamya dan menuntun Cindekia masuk ke mobil.


Gamya sedang memainkan perannya sebagai menantu yang baik.

__ADS_1


__ADS_2