Boss Gila

Boss Gila
private beach


__ADS_3

"Setelah menjemput kedua orang tuamu, kita langsung pergi ke pantai." Gamya tersenyum semringah. Ia berharap Cindekia menyukai idenya yang mengajak Nuraini dan Salahuddin berlibur ke Pantai.


"Pa... pantai?"


"Benar, Aku sudah memesan penginapan. Kalian pasti menyukainya."


Cindekia memaksakan senyumnya, "Ya semoga saja." gumamnya.


Terakhir kali Ia mengajak kedua orang tuanya ke Pantai. Ia harus mendengarkan omelan orang tuanya tentang tidak bermoralnya muda dan mudi di tempat umum.


...π π π...


.


Hamparan air laut yang berbatasan dengan pasir putih tersaji di depan mata. Angin yang berhembus melambai- lambai, ikut membujuk rayu siapa saja yang ada di sana untuk segera berlari memijakan kaki di tapi pantainya.


Suasan lenggang, serasa ketika masa lockdown saja.


Kedua orang tua Cindekia adalah terlebih dahulu diantar ke kamar mereka oleh petugas resort.


"Jika ada yang membuat Bapak dan Ibu tidak nyaman selama di sini katakan saja. Jika memerlukan bantuan atau apapun itu, dia akan melayani Bapak dan Ibu dengan baik," ucap Gamya ramah, melebihi operator pelanggan.


Ia sengaja menyewa dua kamar yang letaknya saling berjauhan.


"hmm...," kedua orang tua Cindekia hanya diam terheran dengan perubahan sikap menantunya yang tiba-tiba bersikap santun. Mungkin dia kesambet ketika melewati suatu tempat.


Orang yang ditunjuk Gamya, salah satu petugas resort tersenyum memperkenalkan dirinya. "Nama Saya Dimas, silahkan, Pak, Ibu," ucap Dimas yang membawa barang bawaan kedua orang tua Cindekia.


Dimas menuntun kedua orang tua itu.


Cindekia pun ikut berjalan mengikuti Dimas. Namun Ia menghentikan langkahnya karena seseorang merangkul lehernya dari belakang.


"Kau mau ke mana, Hun?" tanya Gamya sebagai pelaku.


"Aduh..duh!..Lepas Pak! nggak napas nih!" pekik Cindekia memukuk mukul lengan besar Gamya yang memiting lehernya.


Tangan besar itu melepaskan pitingannya dan beralih menggenggam tangan Cindekia, "Ayo ke kamar kita," Gamya tersenyum menggoda istrinya.


"Langsung ke kamar, nggak seru Pak," Cindekia tersenyum tidak kalah menggoda.

__ADS_1


Niat hati ingin merayu suaminya, keningnya menjadi sasaran. "Aduh! Bapak gi_" Cindekia menghentikan mulutnya. Ingat tidak boleh mengumpat suaminya lagi. Bisa- bisa di gotong seperti membawa karung beras...


"Jangan tersenyum seperti itu kepadaku di tempat umum, Baby," ucap Gamya setelah menyentil kening Cindekia.


"Pak, ini termasuk KDRT loh! Bapak melanggar kontrak !" seru Cindekia sembari mengelus- elus keningnya.


Gamya tersenyum menarik lengan Cindekia membawanya menuju bibir pantai.


"Pak, Kok nggak ada orang ya, Bapak tahu saja ada tempat yang sepi- sepi begini," ucap Cindekia berjalan sembari cekikikan ketika ombak menyapu kakinya.


"Kau suka?"


Cindekia tersenyum senang menatap Gamya yang hanya berdiri mengawasinya bermain air, "Umm.. Suka, sangat suka." kata suka yang Ia tujukan untuk suaminya.


"Baguslah jika Kau suka, kemarilah Sayang!"


Cindekia terdiam. Ia ingat betul, setiap kali mendengarkan kalimat perintah itu Gamya akan menciumnya.


Cindekia menggelengkan kepalanya, "Tidak mau, Bapak pasti mau mencium Saya, kan?"


"Kau benar,"


Cindekia kembali berjalan mengikuti bibir pantai, "Pak, harusnya Bapak bilang tidak agar Saya datang menghampiri Bapak, terus Bapak cium deh Saya." protesnya kemudian.


Mereka berjalan sejajar mengikuti tepi pantai.


"Apakah aturan perijinan sudah dicabut?" Gamya mempertanyakan aturan ijin mencium yang pernah dibuat Cindekia, yang realitanya tidak dijalankan secara konsisten.


"Belum!" teriak Cindekia berlari menghampiri sebuah gazebo pantai yang terbuat dari kayu, dinding nya diberi tirai kain putih yang melambai lambai diterpa angin.


"Gila! bisa tidur- tiduran kalau capek jalan." pekik Cindekia langsung duduk di atas gazebo yang terdapat matras tebal beralaskan kain berwarna putih. "Pak, ini termasuk fasilitas penginapan yang bisa dipakai untuk tidur- tiduran kan?"


"Umm..., Untuk bermesraan juga boleh." Gamya langsung merebahkan badannya di atas matras dan tidak lupa menarik Cindekia ikut rebahan di sebelahnya.


Ucapan terus terang Gamya membuat wajah Cindekia memerah panas. Ia melihat ke sekitar, dan kembali melihat Gamya masih terus memandanginya seperti menunggu sesuatu.


"Pak, tidak boleh bermesraan di depan umum lho! itu adalah sikap tercela yang melawan hukum, perbuatan melanggar kesusilaan." repet Cindekia.


Gamya membelai mesra kepala Cindekia, siapa tahu istrinya itu menjadi jinak setelah dibelai, "Sayang, ini adalah resort dengan private beach, bukan tempat umum."

__ADS_1


Yang dibelai jadi salah tingkah, senang tapi malu.


"Loh mana bisa jadi private, Pak? Pantai itu tempat umum milik negara, nggak boleh dong dimiliki secara pribadi."


"Private beach menjadi daya tarik resort, Baby." bisik Gamya di telinga Cindekia dan memberi gigitan kecil, kemudian mulutnya beralih ke leher istri cerewetnya itu.


"Tapi kan tetap tidak bisa seperti itu, Pak! Kalau kita nginap di sini berarti kita mendukung perbuatan kriminal mereka dong," Cindekia yang tidak disangka berpaham idealis tidak terpengaruh oleh godaan Gamya.


Gamya berhenti menggoda istrinya. Ia mengangkat mulutnya dari tulang selangka Cindekia, kembali menatap bola mata yang sedari tari dipenuhi rasa empati terhadap pelanggaran hukum tempat umum milik negara.


"Jadi Kau mau bagaimana, Hun? kita pergi dari sini, dan mencari penginapan lain?" Gamya memberikan penawaran. Dimana saja terserah yang penting bisa bermesraan.


"Ya nggak. Rugi dong! kan sudah bayar,"


Gamya bangkit dan duduk dengan benar. Ia pergi meninggalkan Cindekia yang masih tergeletak di gazebo. Ia tidak ingin mendengarkan celotehan Cindekia yang sebentar lagi akan mengatakan dirinya melanggar Undang-Undang tindak pidana kekerasan se'ksual.


"Lho Bapak mau ke mana?!" tanya Cindekia setengah berteriak berdiri di depan gazebo.


"Main catur!" seru Gamya tanpa menghentikan langkahnya. Ia berjalan ke arah kamar mereka yang hanya berjarak kurang dari 200 meter.


"Pak, Saya mau masuk laut lho!"


"Masuk saja!"


"Saya nggak bisa berenang! bagaimana kalau nanti tenggelam!"


Cindekia tersenyum senang, melihat Gamya berhenti setelah mendengar kalimat terakhirnya. Pria itu kembali berjalan ke arahnya.


"Yuk Pak, ke sana! main air." Cindekia menunjuk ke laut berombak, berpikir Gamya kembali untuk menemaninya.


Ternyata Gamya melewatinya, Ia menuju gazebo tadi, dan mengambil jaket pelampung yang diletakkan di sana.


Ia berjalan kembali dan memakaikannya ke badan Cindekia. "Sudah, dengan begini Kau tidak akan tenggelam." ucapnya setelah selesai mengancingkan ikatan jaket pelampung.


Cindekia menarik tangan Gamya yang hendak pergi meninggalkannya. Ia memberanikan diri mengecup bibir suaminya. Jantungnya berdebar- debar menahan malu. "Suamiku sayang marah kah?" lirihnya.


Yang dikecup kembali tersenyum bersemangat. Secepat kilat Ia membuka jaket pelampung Cindekia dan melemparkan ke sembarangan arah. Dibopongnya Cindekia seperti karung beras menuju kamar mereka.


"Lho Pak, kita mau ke mana?!. Saya mau snorkeling lihat nemo!" seru Cindekia panik. Sepertinya Ia merayu suaminya dengan cara yang salah.

__ADS_1


__ADS_2