Boss Gila

Boss Gila
Lupa tujuan


__ADS_3

Ucapan Gamya yang terdengar jelas di telinganya membuat Cindekia memerintahkan pikiran yang masih melayang- layang berkumpul. Matanya melotot kaget mencerna perkataan suaminya.


Ia berputar menghadap ke arah Gamya, "Maksud suami apa?!"


Gamya yang masih ingin bermesraan dengan istrinya memeluk kembali Cindekia, dikecupnya bahu polos istrinya. "Sebelum janin di rahimmu bernyawa, dia harus sudah pergi dari sini, Sayang." tunjuk Gamya mengusap bawah pusar istrinya.


"Mengapa?!" Cindekia menjauhkan tangan Gamya yang menyentuhnya.


Gamya bangkit dan keluar dari selimut, Ia tampak tidak peduli dengan tubuh polosnya. Melihat istrinya yang dalam mode marah, Ia yakin keinginannya untuk kembali bermesraan tidak akan bisa dilaksanakan. Lebih baik memakai celananya.


"Yang kuinginkan hanya Kau, Sweetie. Bagiku menikah agar Aku bisa bebas menyentuhmu, bukan untuk membina sebuah keluarga bersamamu."


"Apa?" desis Cindekia tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut suaminya.


Gamya kembali mendekati Cindekia yang telah duduk memasang wajah menuntut jawaban. Dirapikannya lembut rambut Cindekia yang terlihat berantakan, "Jangan khawatir, Love. Kau akan mendapatkan cinta yang tidak akan pernah habis dariku."


Cindekia menolak dan membuang muka, saat Gamya hendak mengecup pipinya. Ia ingin mengumpat tapi tidak berani, karena merasa aura suaminya yang menjadi dingin.


Gamya hanya menyunggingkan senyum melihat Cindekia yang tidak ingin disentu olehnya. Saat ini Kau mungkin sangat marah.


"Ceklek!" terdengar suara pintu ditutup.


Cindekia kembali menoleh ke arah suaminya yang telah menghilang di balik dinding kamar mandi.

__ADS_1


"Apa dia bercanda?" gumamnya, Ia berharap Gamya hanya bergurau.


Tidak, dia memang iblis gila. Batin Cindekia.


Ia tidak tahu harus bagaimana, menyesal? tidak, dia sangat mencintai pria yang telah menjadi suaminya.


Cindekia meraba perut ratanya di balik selimut, "Apa yang bisa dilakukannya jika Aku sudah mengandung bayi?" gumam Cindekia.


Maaf, Aku tidak akan mematuhi kontrak, menuruti keinginanmu. Digugurkan? yang benar saja! itu perbuatan tercela. Batin Cindekia bertekad.


Cindekia menunggu Gamya dengan senyum terbaiknya di depan pintu kamar mandi. Meski hatinya masih sakit disayat- sayat oleh pernyataan menohok Gamya tentang tujuannya menikah hanya untuk bisa menidurinya.


"Sayang?" ucap Gamya heran melihat Cindekia telah berdiri di depannya, begitu membuka pintu kamar mandi. Gamya masih belum bisa mendeteksi suasan hati istrinya.


"Jika Kau ingin bermain sekali lagi, Aku bersedia untuk mandi lagi, Sweetie."


hah? gila, bukan begini.


"Tidak, bukan begitu!" Cindekia segera melepaskan pelukannya.


"Suami! Memangnya mengapa jika kita memiliki anak? Kita tidak mungkin kan hanya hidup berdua saja selamanya? harus ada anak!" Cindekia mendongak menatap wajah suaminya yang jauh lebih tinggi darinya.


Ia mencemberutkan mulutnya, jika gamya menciumnya. Ia tidak akan keberatan. Tetapi Gamya tidak menciumnya.

__ADS_1


"Jangan khawatir, Aku tidak akan membiarkanmu bosan hidup berdua denganku."


"Bagaimana tua nanti jika Kau pergi meninggalkanku? Aku akan sendiri,"


Deg! Gamya terdiam mematung mendengar pertamanya Cindekia.


"Anak yang Kau miliki juga tidak akan selamanya menemani masa tuamu, Sayang," katanya kemudian.


Gamya mengangkat Cindekia yang menghalangi jalan, agar Ia bisa keluar dari kamar mandi. "Mandilah, Sweetheart. Aku akan menyiapkan makan malam untukmu."


"Tidak! jangan!" pekik Cindekia. Ia harus menjadi istri yang sempurna agar bisa menjadi seorang ibu.


"Bapak, eh..." Cindekia menggeleng mencoba merubah secara permanen panggilannya untuk Gamya.


"Sayang duduk saja baca buku, atau apa gitu. Biarkan Saya yang menyiapkan makan malam, Sayangku tenang saja, mulai sekarang Saya akan suka memasak jadi rasa masakan saya pasti enak. Saya akan menjadi istri yang baik untuk Bap.. Bang Gamya." katanya kemudian sembari menunjukkan senyum manisnya.


Gamya terdiam sesaat menyikapi Cindekia yang tiba-tiba mencoba berhenti memanggilnya dengan sebutan bapak .


Apakah dia mengira, Aku mengatakan tidak ingin memiliki anak karena dia berpikir dirinya belum bisa menjadi istri baik? Pikir Gamya.


Maaf, Kia. Meskipun Kau berusaha menjadi istri dan ibu yang baik, tidak akan ada yang berubah.


"Baiklah, Aku akan menanti masakanmu." katanya menanggapi permintaan Cindekia dengan sikap biasa saja.

__ADS_1


Cup! sebuah kecupan mendarat di puncak kepala Cindekia, sebelum Gamya menghilang di balik pintu ke walk in closet miliknya.


__ADS_2