Boss Gila

Boss Gila
41 Mohon bersabar, ini ujian


__ADS_3

"Pak? Bapak bisa memberikan kotak itu kepada Saya," ucap Cindekia sekali lagi setelah pintu lift tertutup.


"Jangan melakukan hal ini lagi," kata Gamya dengan dingin kepada Cindekia. Tatapannya tetap lurus ke depan menatap dinding berwarna silver. Ia seperti anak kecil yang lagi merajuk nggak dikasih makan permen. Tetapi di mata Cindekia, Ia adalah bos yang sedang mengamuk.


"Maaf Pak, Saya tidak tahu kalau Bapak akan datang lebih cepat dari biasanya," ungkap Cindekia, Ia merasa Gamya marah karena dirinya tidak berada di tempat.


"Nona Kia, tidak. Baby," Gamya meralat panggilannya. Kebiasaannya suka merevisi juga berimbas kepada dirinya sendiri.


Sudah ganti lagi? kemarin babe, sekarang baby, mengapa setiap kali mendengarnya Aku merasa seperti jadi anak balita ya?


Cindekia sebenarnya merasa risih dengan panggilan yang dialamatkan untuknya itu. Namun demi menjalin hubungan baik antara bos dan bawahan, Ia membiarkan saja Gamya memanggilnya sesuka hati.


"Jangan biarkan pria lain untuk membantumu," Gamya melanjutkan perkataannya.


Terdengar seperti orang tua super disiplin yang mendidik anaknya untuk mandiri. Meskipun Gamya terlahir dengan sendok perak di mulut, Ia tidak dibesarkan dengan sendok perak. Berpisah dari kedua orangtuanya sejak dilahirkan, Ia mampu bersaing dalam kehidupan yang keras.


"Ah, Maaf Pak," Cindekia tidak mengerti apa maksud bosnya, tetapi disaat seperti ini kata maaf adalah yang terbaik untuk dikeluarkan. Ia mengamati setiap centimeter perubahan air muka bosnya yang masih enggan melihat ke arahnya.


"Hanya Aku. Hanya Aku yang boleh Kau gunakan untuk membantumu. Apa Kau mengerti?" ungkap Gamya. Kali ini ada tercium bau-bau cemburu.


"Oh...," Cindekia tidak tahu harus berkata apa, haruskan terharu? Dia bahkan tidak tahu ucapan Gamya serius atau tidak.


"Ada apa dengan 'Oh' mu itu?" Akhirnya Gamya menoleh ke arah Cindekia yang berdiri di sebelahnya.


"Tidak, sepertinya menjadi pacar Bapak banyak sekali aturannya, ha.. ha.. ha.." tawa Cindekia untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Dia...benar-benar membuatku kesal. Ah Aku ingin menciumnya, tetapi tidak bisa. Sabar- sabar..., Gamya sangat frustrasi menahan gejolak yang menyesakkan dengan indra pengecapnya.


Menikahinya juga tidak bisa, dia menolak dengan tegas sebelum Aku meminta.

__ADS_1


"Pak, ngomong-ngomong Kok sepertinya lift-nya nggak gerak-gerak?" tanya Cindekia setelah menghentikan tawanya. Seketika rasa khawatir tentang kerusakan lift menyerangnya.


"Karena Kau belum menekan tombolnya," kata Gamya yang sebenarnya sudah tahu sejak masuk lift mereka belum menekan tombol.


"hah! maafkan Saya Pak," Cindekia segera menekan tombol nomor 7.


"Pak, Apa Saya juga bisa menggunakan Bapak untuk mengurus diri Bapak sendiri? Saya sudah sangat pusing mempelajari tentang perekonomian, perdagangan, perpajakan dan banyak lagi, belum lagi kerjaan yang lain," keluh Cindekia. Mungkin beban hidupnya bisa dikurangi.


"Apakah Kau ingin berhenti dari pekerjaanmu?"


Aku lebih suka Kau bekerja menjadi istriku.


"Ah tidak Pak, tidak. Lupakan saja apa yang Saya katakan."


Bos tetaplah bos, mengeluh sama dengan dipecat.


Ting, akhirnya mereka sampai di lantai tujuan. Keduanya beriringan jalan.


"Tidak ada Pak," tegas Cindekia.


"Aku sudah membantumu," Gamya melirik kotak yang menjadi objek pembicaraan. Ia menunggu Cindekia mengucapkan terima kasih dan tersenyum kepadanya.


"Ah," Cindekia memaksakan senyumnya, "terima kasih, Pak."


"Kau mengucapkannya dengan tidak Ikhlas kepada seseorang yang membantumu dengan ikhlas," ucap Gamya dengan tampangnya yang datar dan pergi masuk ke ruangannya. Harapannya tidak sesuai ekspektasi.


Cindekia duduk di kursinya dan terbengong menatap Gamya yang telah menghilang di balik pintu ruangannya.


Apa ada orang ikhlas meminta ucapan terimakasih? seharusnya dia membiarkan Rendi membawanya. Ada apa dengannya?

__ADS_1


Hmm, apa dia rajin olahraga? ia terlihat keren saat membawa barang yang berat dan seksi,.. seksi?! oh astaga! Cindekia segera menghapus pikiran mesumnya.


Dasar bodoh, lama-lama Aku jadi tidak waras.


Cindekia segera menghidupkan komputernya dan melanjutkan pekerjaannya. "Lebih baik membaca dan mempelajari hal penting daripada berpikir yang tidak penting," Gumamnya kemudian.


Ditengah pekerjaannya, Cindekia mendapat pesan dari pihak perusahaan calon mitra. Pesan yang berisikan persetujuan isi MoU yang Ia kirim beberapa hari yang lalu.


Cindekia segera menghubungi bosnya. Namun Gamya tidak mengangkat penggilannya. Dengan terpaksa Ia menemui Gamya di ruangannya.


"Mengapa Bapak tidak menjawab telepon Saya?" tanya Cindekia setelah masuk di ruangan bosnya.


"Jika ada yang ingin disampaikan, Kau langsung saja menemuiku," kata Gamya yang sengaja tidak mengangkat telpon agar Cindekia datang menemuinya.


"Pak, yang langsung itu lewat telepon, lebih cepat," protes Cindekia yang berpikir bosnya sangat tidak efisien dalam menjalai hidup.


Gamya tidak mengubrisnya, "ada apa?"


"MoU dengan PT malas mikir sudah beres, Pak."


"Semakin cepat semakin baik, jadwalkan saja penandatangananya Besok."


Besok? yang benar saja. Ingin protes dilanjutkan, ingat aturan bos yang tidak boleh menunda pekerjaan.


"Baik, Pak."


"Dan..." Gamya mengantung kalimatnya, Ia berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk pergi ke luar kota. Karena artinya, dirinya akan berpisah dengan Cindekia sehari. Dia juga tidak bisa membawa Cindekia ikut dengannya.


Sehari tidak apa-apa, pikir Gamya meyakinkan dirinya yang tidak ingin berpisah dari Cindekia walau hanya sehari.

__ADS_1


"Sampaikan kepada mereka tentang kunjunganku," katanya kemudian setelah membuat keputusan.


__ADS_2