
Cucian piring yang sebenarnya tidak banyak, memakan waktu lama selesainya karena mengalami gangguan.
Dering ponsel di saku celana Cindekia membuatnya berani menyingkirkan Gamya yang memeluknya dari belakang. Ia membuka sarung tangan karetnya sebelum mengambil ponselnya.
"Hallo Bu," Cindekia menjawab panggilan ibunya.
"Kia, ini Ibu, temannya suami kamu sudah datang menjemput ibu dan bapak." terdengar suara Nuraini dari ponsel Cindekia.
"Iya, Bu. Semoga perjalanannya lancar. Ibu sama Bapak sehat- sehat."
"Kia, sampaikan terimakasih sama suamimu sudah repot- repot menjemput Ibu dan bapak. Kamu sudah buatkan sarapan belum untuk suamimu?" Suara Nuraini bernada perintah, namun bertanya.
Cindekia melihat Gamya yang masih berdiri di depannya, "Sudah dong Bu, Ibu jangan khawatir."
"Ya sudah, Ibu tutup teleponnya,"
Cindekia menyimpan ponselnya, "Pak, Ibu bilang terima kasih."
"Aku tidak menerima ucapan terimakasih, Hun." balas Gamya berharap Cindekia menciumnya sebagai tanda terima kasih.
"Tenang saja Pak, ibu saya bawa oleh- oleh untuk Bapak."
"Aku sangat tidak sabar menunggu kedatangan orang tuamu," tawa Gamya.
"Saya mau masak, nanti ibu saya marah- marah kalau tidak ada lauk pauk yang saya masak. Jadi bapak jangan menganggu." tegas Cindekia.
"Hmm.. itu sangat menakutkan sepertinya, kalau begitu Aku tidak akan menggangumu. Tapi sebelum pergi, Aku bisa menciummu?" Gamya Ia tidak lupa harus ijin dulu sebelum mencium istrinya, syarat yang konyol.
Cindekia menangguk canggung. Ia malah jadi canggung kalau tahu akan dicium.
Gamya tertawa melihat Cindekia yang mengerutkan keningnya dan mengatup rapat mulutnya.
"Cup!" Gamya hanya mengecup ubun-ubun Cindekia.
"Jangan terlalu banyak menguras tenagamu, Hun. Sebentar lagi akan ada dua asisten rumah tangga yang datang. Jika bahan untuk memasak yang Kau perlukan tidak ada di sini, Kau bisa meminta salah satu dari mereka untuk membelinya. Sekarang Kau adalah nyonya rumah ini, Kau bebas memerintahkan mereka atau mengganti mereka jika tidak suka. Mengerti?" jelas Gamya.
Cindekia menggulum bibirnya, seperti kecewa. Lain dipersiapkan, lain yang dicium.
"Mengerti, Pak."
"Ingat, Kau harus menyimpan tenagamu untuk nanti malam." goda Gamya mengusap kepala Cindekia sebelum pergi meninggalkannya.
Ia pergi menuju ruang kerjanya. Ada banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya demi mengais rejeki untuk perekonomian keluarga.
Selepas kepergian Gamya, Cindekia langsung mengambil ponselnya. Apalagi kalau bukan bercerita panjang lebar dengan Lindri, teman baiknya.
__ADS_1
Ia pergi membuka pintu kaca dapur yang terhubung dengan halaman belakang. Setelah keluar, Cindekia menutup pintunya kembali.
Berbicara di tengah halaman adalah tempat yang aman dari pendengaran orang lain.
Dari kemarin Gamya terus menempel kepadanya, Ia jadi tidak bisa leluasa menghubungi teman yang telah mengarungi bahtera rumah tangga selama empat tahun, dan telah dikaruniai seorang anak berusia dua tahun.
Niat awalnya Cindekia hanya ingin bertanya bagaimana cara mengambil hati ibu mertua, tetapi ternyata ada banyak hal yang mereka bicarakan hingga tidak sadar telah berbicara selama satu jam.
"Lin, sebentar. Sepertinya ada penyusup." ucap Cindekia menatap curiga ke arah rumah suaminya. Dinding yang terbuat dari kaca, membuat Cindekia dapat melihat isi dalam rumah. Dapur, ruang tengah, dan ruang tamu.
"Penyusup?" terdengar suara Lindri kaget.
"Nanti Aku hubungi lagi." Cindekia memutuskan sambungan teleponnya dan berjalan masuk ke rumah,
"Apa yang sedang Kamu lakukan?" tanya Cindekia bernada curiga kepada seseorang yang tengah memeriksa isi kulkas.
Wanita yang dipergoki Cindekia terlihat kaget dan segera berbalik menghadap Cindekia. Ditutupnya kembali pintu kulkas.
Wanita itu tidak bicara, Ia hanya diam mengamati Cindekia. Wanita yang menjadi istri baru tuannya.
"Siapa Kamu?" tanya Cindekia sekali lagi.
Cindekia menaksir usia wanita itu masih belasan tahun. Delapan belas atau sembilan belas mungkin.
Ia ingat suaminya mengatakan akan ada asisten rumah tangga yang datang, tetapi wanita di depannya tidak seperti asisten rumah tangga.
Dengan bagian badan yang agak sempit, pasti sipemakainya agak sedikit kesulitan bernapas.
"Siapa Kamu?" ulang Cindekia yang mengenakan kaos oblong panjang yang menutupi separuh lebih dirinya, Ia mengenakan celana selutut. Ia mengulang kembali karena tidak juga mendapat jawaban.
"Dia adalah keponakan saya," suara lain menjawab pertanyaan Cindekia.
Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun menghampiri Cindekia. "Nama saya Ida, Anda pasti Istri tuan Gamya."
"Apa ibu ini asisten rumah tangga Pak Gamya?"
"Benar, "
"Mengapa Ibu membawa keponakan ibu?" Cindekia menunjuk gadis yang masih enggan bicara tadi.
Memangnya orang tuanya kemana?
"Keponakan Saya juga berkerja di sini."
"Kerja?" Dahi Cindekia berkerut heran. Di rumah ini?
__ADS_1
Seketika jiwa keistrian Cindekia menggelora. Dengan pakaian seperti itu?
Ia mulai membayangkan selama ini suaminya disuguhkan pemandangan menarik setiap hari di rumah. Jelalatan parah, harus segera disembuhkan.
"Tina, perkenalkan dirimu!" Ida menegur keponakannya.
"Selamat pagi, Nyah." ucap Tina bernada rendah, namun pancaran ketidaksukaan kepada Cindekia terlihat sangat jelas di wajahnya.
Apakah karena wajahnya memang seperti itu, entahlah.
"Apakah tugasmu berbelanja kebutuhan dapur? karena itu Kamu memeriksa kulkas?"
"Tidak, Nyah."
"Aku anggap begitu," Cindekia mengambil secarik kertas dan menuliskan daftar bahan kebutuhan pokok yang harus dibeli Tina.
Dengan patuh dan hati yang dongkol, Tina mengambil catatan daftar yang harus Ia beli di supermarket.
"Pak Isman akan mengantarmu," ucap Cindekia tersenyum ramah, meski Ia tahu Tina tidak menyukai keberadaannya.
Tetapi, sebentar. Tidakkah ini terbalik? Siapa yang menjadi majikan? Mengapa majikan kalah jutek dari asistennya.
Begitu lulus SMA Tina ikut kerja dengan bibi nya. Karena informasi yang Ia dapat dari bibinya, bahwa majikan bibinya adalah pemuda matang yang belum menikah. Tetapi siapa sangka, sekalipun Ia belum pernah bertemu dengan Gamya.
Ia malah bertemu dengan dua wanita cerewet, yang suka memerintahnya. Yang pertama saudari tuannya, dan yang kedua istri tuannya.
Sebelum pergi, Tina sekali lagi melihat Cindekia yang menurutnya biasa saja. Dirinya jauh lebih muda dan lebih bohay. Hanya saja tidak memiliki kesempatan untuk dilihat oleh tuannya. Begitulah pikir Tina.
...π π π...
Tina mengarahkan mesih penyedot debu pada setiap suduh rumah, sesekali Ia melihat kearah Cindekia yang bekerja di dapur. Ia menilai istri tuannya tidak bisa memasak.
Dirinya telah belajar memasak sejak kecil. Semua keluarganya memuji masakannya. Sayangnya tuannya tidak memiliki kesempatan untuk mencoba masakannya. Begitulah pikir Tina.
Cindekia memperhatikan tutorial memasak di Youtube dengan serius. Wajahnya memperlihatkan Ia telah menguasainya dengan baik.
Dicicipnya kuah cumi-cumi asam manis yang tengah menggelegak di atas kompor. Setelah dirasa pas, Ia mematikan kompornya dan melanjutkan mengupas wortel yang sudah dikuliti sebagian.
Dering ponsel Cindekia kembali membuatnya menunda mengupas wortelnya.
"Iya Bu?" Cindekia menjawab panggilan ibunya.
"Kia sekarang Ibu dan bapak sudah di hotel," terdengar suara Nuraini dari ponselnya memberikan laporan.
"Hotel? Ibu dan bapak sudah sampai di mana?"
__ADS_1
"Kami sudah sampai, Kami dijemput naik helikopter. Kamu kapan bisa jemput ibu ke mari?"
"Helikopter? hotel?" Cindekia mengerutkan dahinya tidak mengerti. "Kia akan segera jemput ibu dan bapak."