
Rudi tampak tidak peduli dengan kekhawatiran Ganeeta, Ia lebih fokus menghabiskan bayarannya yang rasanya sangat enak. "Apakah calon suamimu lebih buruk dariku?" tanyanya kepada Ganeeta yang duduk di depannya, masih dengan wajah khawatirnya.
"Dia pria yang baik dan sempurna."
Rudi kembali dibuat bingung, "Pria brengsek salah, pria baik juga salah. Memangnya Kau ingin menikah dengan pria yang bagaimana?"
"Pastinya bukan Kau," ketus Ganeeta.
Rudi hanya tertawa mendengar kejujuran adik sahabatnya. Ia bersedia membantu Ganeeta karena sudah menganggap Gamya sebagai saudaranya sendiri, jadi Ganeeta adalah adiknya juga.
Ia tidak membantu Ganeeta untuk memisahkan Cindekia dengan Gamya, karena Ia tahu sahabatnya sangat mencintai gadis itu.
"Baiklah, hubungi Aku jika Kau butuh bantuanku lagi. Tapi Aku ingin Kau membayarku lebih dari ini." Rudi menunjuk potongan kue buatan Ganeeta yang masih tersisa.
Ganeeta memberikan dua buku yang sudah dilengkapi tandatangannya kepada Rudi, "Ini bonus tambahan, meski kerjamu tidak becus."
"Hahaha, apa ini? Aku tidak suka membaca novel, terlebih novel roman_" kalimat Rudi terhenti karena Ganeeta menatap dingin ke arahnya.
"Itu tulisanku, sini kembalikan!" Ganeeta merampas kembali bukunya. Namun Rudi cepat menjauhkan buku itu dari Ganeeta.
__ADS_1
"Yang sudah diberi tidak boleh diminta kembali."
"Kalian tampak sangat akrab," Gamya telah selesai mandi, rambutnya masih dibiarkan sedikit basah. "Sebaiknya Kalian harus cepat kembali ke Slovenia dan menikah." Gamya tersenyum mengejek, karena Ia sudah mengetahui ternyata Rudi bukanlah pria yang akan jodohkan dengan Ganeeta.
"Adikku sayang, jangan khawatir, kami pasti akan menikah. Tapi sebelum itu, Kau yang lebih dulu kembali pulang. Waktumu tinggal seminggu lagi," ujar Ganeeta tidak mau kalah.
Gamya tersenyum yakin akan berhasil membuat Ganeeta mengaku kalah. Meskipun Cindekia tidak mencintainya, asalkan gadis itu memainkan perannya dengan baik, tidak akan menjadi masalah.
"Maaf mengganggu malam keakraban kalian berdua, Aku hanya ingin bilang, Aku mau pulang, tidak ada yang mau mengantarkan kepulanganku?" celah Rudi.
"Kau pulang saja sendiri sana!" serentak kedua kakak beradik itu tidak memandang Rudi.
Jauh dari kediaman Gamya, ada Cindekia yang dilanda kegalauan.
Dyan adalah teman kuliahnya yang selalu ada bersamanya. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama, kelompok yang sama, mengerjakan tugas bersama, saling berbagi cerita hingga tidak ada rahasia diantara mereka. Ia menjadi telah terbiasa dengan sosok Dyan.
Meskipun beberapa tahun belakangan hubungan mereka mulai renggang, Ia berpikir seharusnya Ia tidak boleh mencari tambatan hati yang lain.
Saat- saat seperti ini, orang yang bisa membantunya memecahkan masalah adalah Lindri.
__ADS_1
"Aku lebih suka dengan bosmu, ternyata dia tidak seburuk yang kukira," kata Lindri setelah mendengar cerita Cindekia lewat sambung telepon.
"Itu bukan solusi yang keinginkan, Lindri," tegas Cindekia.
Terdengar Lindri menghela napas, "Kau merasa bahagia dan berdebar dengan bosmu, itu membuktikan Kau juga menyukainya. Dan cintamu kepada Dyan belum terlalu dalam," katanya kemudian.
"Ndri, bukan begitu. Bagaimana dengan Dyan? dia ingin menikah denganku,"
"Mengapa Kau memperdulikannya? lupakan saja orang yang selalu mengabaikanmu," saran Lindri, tidak mengerti juga apakah ini saran yang menyesatkan atau yang bagaimana.
"Dia tidak mengabaikanku, dia itu memang sibuk. Buktinya dia melamarku, dan minggu depan Aku akan menemui orang tuanya," Cindekia masih tetap dengan keyakinannya.
"Apa Kau yakin perasaanmu kepada orang itu masih sama?" tanya Lindri.
"Aku..." Cindekia mengantung kalimatnya.
Pertanyaan Lindri membuatnya berpikir ulang, selama seminggu terakhir Ia tidak lagi menunggu pesan masuk dari Dyan. Ia justru menunggu pesan basa-basi selamat pagi dan selamat malam yang sebenarnya tidak penting dari bosnya.
"Honey..." terdengar suara seorang pria di sambung telepon Cindekia, "Kia, my love, sudah dulu ya, ada tugas negara ini," ucap Lindri dan mematikan sambungan teleponnya, karena suaminya memanggil.
__ADS_1