
"Apakah tidurmu nyenyak setelah mensabotase kamarku, Sweetie?" sapa Gamya menyambut hangat kedatangan Cindekia di dapurnya.
Yang ditanya hanya tertawa kecil, "Bapak memasak sendiri sarapan bapak?"
"Hmm..., Aku tidak suka orang lain mengurus kebutuhanku."
"Oh begitu, Bapak ingin buat apa? biar Saya bantu," Cindekia berdiri di sebalah Gamya untuk mencoba mengambil alih pekerjaan Gamya
"Baby, Kau berani datang melamarku karena sudah meningkatkan kemampuan memasakmu?" Gamya tersenyum bangga mengingatkan Cindekia yang melamarnya duluan.
"Saya bisa memasak lho Pak. Kemarin karena kehabisan garam saja." Cindekia melakukan pembelaan, namun Gamya tetap menatapnya tidak percaya.
"Kena deh, sekali lancung ke ujian seumur hidup orang tidak percaya," gerutunya kemudian.
"Maksudmu nira setitik rusak susu sebelanga?" koreksi Gamya.
Sayangnya niat baik Gamya mengkoreksi pribahasa yang digunakan Cindekia dibalas dengan tatapan tajam.
"Maaf, maaf, My Sweetheart." Guru yang meminta maaf kepada murid. Tidak baik memulai pertengkaran di pagi hari.
"Hmm Bapak buat telur dadar?" tebak Cindekia karena Gamya memasukan telur ke dalam adonan yang dibuatnya.
"Ya, bisa disebut begitu." Gamya jadi takut mengkoreksi lagi,
"Telur dadar model baru ya Pak?"
"Iya," Gamya memasukan adonan yang dibuatnya ke dalam oven, susah kalau wanitanya sudah menjadi perempuan yang selalu benar.
"Babe, sampai kapan Kau terus memanggilku bapak? Aku bukan lagi atasanmu."
"Jadi kalau bukan bapak, Saya harus panggil apa Pak?" tanya Cindekia bingung.
"Kau bisa panggil namaku,"
"Tidak bisa, Bapak jauh lebih tua daripada Saya."
tu.. tua dia bilang?
"Baiklah, terserah Kau saja, Hun."
Meskipun Ia kesal karena Cindekia masih ingin bertahan memanggilnya bapak, melihat Cindekia yang tampak serius memelototi adonan telur yang tengah terpanggang di dalam oven, membuatnya tersenyum. Hatinya tergelitik.
*
Niat Cindekia menginap semalam hanya untuk mengacaukan pernikahan Gamya yang ternyata bohongan, tidak terlaksana dengan baik.
Cindekia malah menginap hingga tiga malam. Karena Gamya harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum pergi ke Indonesia, Ia tidak bisa membiarkan wanitanya kembali pulang seorang diri.
Gamya benar-benar mengurungnya. Seharian ditinggal kerja oleh Gamya, tak membuat Cindekia bosan. Karena Ia dengan senang hati mengacaukan dapurnya Gamya, niatnya sih ingin mengasah kemampuan memasaknya.
Ia tidak terima dibilang tidak memiliki kemampuan memasak hanya karena garam.
Jadilah Gamya dan Cindekia kembali pulang ke Indonesia.
Cindekia sedikit heran melihat Gamya memegang paspor dengan warna yang berbeda saat melewati pemeriksaan imigrasi bandara. Ia ingin bertanya, namun takut dugaannya benar. Jadi memilih untuk pura-pura tidak tahu saja.
Salama Gamya menggenggam tangannya, semuanya akan baik-baik saja. Cindekia berpikir demikian.
Tanpa melepaskan genggaman tangan Cindekia, Gamya terlihat fokus dengan layar ponsel yang ada ditangan kanannya. Sesekali Ia tersenyum melirik Cindekia yang tidak protes tangannya dipegang.
__ADS_1
Gamya baru mematikan ponselnya saat pesawat yang mereka tumpangi akan lepas landas.
"Tidurlah, jika Kau lelah, Sweetie." bisik Gamya.
Cindekia menggeleng, Ia ingin tetap terjaga. "Pak, apakah bapak akan selamanya bekerja di sini, kapan Bapak akan kembali kerja di Indonesia?"
"Entahlah, Aku belum memikirkannya." Gamya memang belum memikirkannya. "Love, jika Aku resign, apakah Kau masih mau menikah dengan seorang pengangguran?"
Cindekia mengangguk yakin, baginya tidak masalah karena rejeki bisa dicari dari mana saja, "Bapak nanti jualan bakso keliling saja, pasti laris karena yang jualnya kan ganteng."
"Jadi menurutmu Aku ganteng?" Akhirnya Gamya mendengar pujian Cindekia.
"Iya," Cindekia menjawab tanpa ragu.
"Apakah karena itu, Kau suka melihatku tanpa berkedip?" goda Gamya.
Cindekia tersenyum malu dengan pipinya yang mulai memerah.
"Jangan tersenyum kepadaku!"
"Bapak melarang Saya senyum?" Cindekia berhenti tersenyum karena mood senyumnya hilang digantikan mood terdiam seribu bahasa.
"Jangan melihatku dengan wajah yang seperti itu!
"Wajah Saya kenapa? sudah bawaan lahir begini,"
Gamya segera memutar kepala Cindekia membelakanginya, "Baby, Kau harus melihat pemandangan bagus di luar jendela"
"Apa yang bisa dilihat? putih semua, mending lihat muka ganteng bapak saja," Cindekia kembali memutar kepalanya.
Namun, Gamya sudah menghilang dari kursinya.
"Apa dia sak boker?" Gumam Cindekia heran melihat Gamya yang meninggalkan kursinya dengan tergesa.
Ia harus bertahan hingga Cindekia resmi menjadi miliknya. Setelah gadis itu setuju menikah dengannya, Ia langsung menyuruh orangnya agar mengurus administrasi pernikahannya dengan Cindekia.
*
🐱 🐱
*
Pak Isman memberhentikan mobilnya di depan salah satu pintu keluar bandara, dengan cekatan Ia membuka pintu penumpang bagian belakang dan mengambil alih koper yang diseret Cindekia untuk dimasukan ke dalam bagasi.
Cindekia mengitari mobil dan membuka pintu penumpang di sebelah kemudi. Ia memilih duduk di kursi depan.
Gamya menutup kembali pintu yang dibuka pak Isman. Ia memilih duduk dikursi kemudi. Dan menjalankan mobilnya begitu pak Isman menutup pintu bagasi.
pak Isman yang tidak mengerti apa-apa jadi bingung dirinya ditinggal sendiri di bandara.
"Baby, Maaf, Ok?"
Cindekia segera menoleh ke arah supir karena mendengar suara Gamya, "Loh Bapak? pak Ismannya mana?"
"Jangan memikirkan pria lain saat berbicara denganku, Babe."
"Pak Isman kan bukan pria lain, dia supir bapak. Kenapa Bapak tinggal?"
"Aku senang Kau sudah kembali berbicara kepadaku,"
Cindekia kembali berpaling, dan melihat ke kaca jendela disebelahnya. Ia lupa kalau sedang merajuk. Dirinya ditinggal duduk selama penerbangan dan menjadi kekepo-an penumpang di sebelahnya. Dikira diputusin di atas pesawat.
__ADS_1
Gamya mengantar Cindekia ke rumah kontrakkannya, "Lusa Aku akan menjemputmu, mengerti?" Gamya mengeluarkan koper Cindekia dari bagasi.
"Apa tidak apa-apa Saya cuti berhari-hari? nanti kalau Saya dipecat bagaimana?" tanya Cindekia cemas. Ia takut kehilangan pekerjaannya.
Gamya tersenyum membawakan koper Cindekia menuju rumah gadis itu, "Tenang saja, ketidakhadiranmu tidak begitu berpengaruh terhadap perusahaan."
"Hah? Pak, itu pujian atau hinaan? Saya masih merajuk lho ini."
"Kau ingin Aku merayumu bagaimana?" Gamya menatap Cindekia dalam, mereka telah tiba di depan pintu rumah.
"Saya nggak jadi merajuk, Bapak pulang saja."
Alih-alih pergi, Gamya memilih duduk di kursi teras rumah. Mau duduk di dalam rumah, pintunya belum dibuka oleh Cindekia.
"Aku sedang menunggu pak Isman. Sweetheart," ujar Gamya yang terlihat lelah.
"Tadi pak Isman-nya Bapak tinggal, sekarang ditunggui. Bapak merumitkan hidup." Cindekia memasukan sidik jarinya di kunci pintu rumahnya.
"Baby, Aku tidak mau Kau duduk di samping pria lain."
"Pak, di dalam angkot Saya dikelilingi oleh banyak pria lho." Cindekia tersenyum menggoda Gamya.
Gamya segera membuka lebar pintu rumah dan mendorong Cindekia berserta kopornya masuk ke dalam rumah, "Ingat, besok istirahatlah seharian penuh di rumah, karena lusa kita akan mengunjungi kedua orang tuamu, Sweetie," katanya kemudian, dan segera menutup pintu rumah Cindekia dari luar.
Keesokan harinya Cindekia menelepon ibunya dan memberitahukan tentang kedatangannya lusa.
"Hallo," tidak menunggu waktu lama, panggilannya dijawab.
"Bu, lusa Kia akan pulang,"
"Semua baik-baik saja kan Kia? "
"Baik Bu,"
"Mengenai teman kamu itu gimana?"
"Sudah aman Bu, Ibu tenang saja. Lusa ada seseorang yang ingin bertemu dengan Ibu dan Bapak."
"Siapa Nak?"
"Orang yang penting bagi Kia, jadi Kia harap Bapak dan Ibu nanti dapat menerimanya, memaklumi sikapnya yang tidak seramah teman Kia yang kemarin."
Terdengar helaan napas panjang ibunya, "Nak, Kamu baru saja putus tunang, belum ada sebulan. Apa nanti kata orang-orang? Apakah orang ini yang membuatmu memutuskan pertunanganmu? sudah berapa lama Kamu mengenalnya? kenal di mana?"
"Dia bos Kia, Bu."
"Bo.. bos?" di sebarang sana ibunya Cindekia mengurut dada, yang Ia tahu bos putrinya adalah Damar, pria berusia 47 tahun yang telah menikah dan memiliki empat orang anak.
"Kia, Apa tidak kamu pikirkan lagi? Ibu nggak sanggup kalau nanti harus mendengar cibiran orang-orang." bujuk Ibunya. Nuraini tidak sanggup membayangkan putrinya membawa seorang pria yang usianya hampir separuh usia putrinya. Dan statusnya juga belum diketahui apakah duda atau masih suami orang.
"Bu, Kia sudah sangat menyukai orang itu."
"Ibu yakin Bapakmu juga tidak akan terima, sebaiknya Kamu tidak usah pulang membawa orang itu. Ibu tidak mau Kamu mempermalukan keluarga kita. Kita sudah cukup malu dengan Kamu tidak jadi menikah."
"Bu... "
"Ibu tetap tidak akan terima."
"Bu ingat, tidak boleh menolak tamu yang datang ke rumah."
"Terserah Kamu, kalau kamu tetap bersikeras mau membawanya pulang, jangan salahkan Ibu kalau bos kamu diusir oleh bapakmu."
__ADS_1
"Iya Bu," Nuraini memutuskan sambungan teleponnya.