Boss Gila

Boss Gila
BAB 29 Tugas Malam Bos, pas mau bobo


__ADS_3

"Jika bukan karena menjadi simpanan, menurutmu apa yang membuatnya tiba-tiba mengenakan barang-barang bermerk? dia bahkan belum menerima gaji sebagai sekertaris." Ketiga gadis itu masih melanjutkan ceritanya. Sepertinya mereka memiliki waktu senggang saat jam kerja.


Sementara Cindekia hanya mendengar dengan khidmat, Ia masih belum yakin siapa gerangan yang menjadi objek pembicaraan ketiga gadis yang tengah berada diruangan yang sama dengannya.


Ketiganya sepertinya tidak menyadari ada sosok anak manusia yang tengah tiduran di pojokan.


"Apa kalian sudah dengar? alasan sekertarisnya tidak ada yang bertahan lama bekerja dengannya," salah satu wanita berbicara dengan suara pelan. Namun dengan pendengaran Cindekia yang tajam, Ia masih bisa mendengarnya.


"Itu karena..... ," Cindekia tak bisa mendengar kalimat selanjutnya 'harus melayani itunya'


"Ya ampun, ternyata di balik sikap dinginnya, pak Gamya orang yang seperti itu ya,"


Wanita terduga bernama Linda meletakan gelas kopinya yang setangah kosong, "Kalau Aku sih nggak bakal nolak, ganteng gila kan?" ujarnya dengan senyum nakal.


"Hahaha, apa kau yakin tidak akan menolaknya?" tiba-tiba Cindekia sudah berdiri dengan lantang di hadapan ketiga gadis itu.


Ketiganya terkejut, melihat objek yang mereka bicarakan ternyata ada di ruang istirahat. Apa dia mendengarnya?


"Ngomong-ngomong kau tadi bilang apa? ada apa dengan pak Gamya? Aku nggak dengar," kata Cindekia kemudian, berharap wanita di depannya sudi kiranya mengulang kembali perkataannya tentang bosnya.


Ketiganya tidak ada yang sudi mengulang kembali apa yang mereka tuduhkan tentang bos mereka.


"...."


"Sepertinya bukan hal yang baik, hingga kalian tidak mau mengatakannya," tebak Cindekia. Ia merapikan rambutnya dan mengikatnya ekor kuda. "Kalian boleh membicarakan yang tidak-tidak tentangku, tetapi Kalian tidak diijinkan membicarakan hal yang tidak tentang pak Gamya," tegasnya kemudian.


Cindekia menghidupkan layar ponselnya dan memotret ketiga wanita itu.


"Apa yang kau lakukan?" salah seorang di antara mereka tidak terima Cindekia mengambil foto mereka. "Apa kau ingin melaporkan kami?" tanyanya kemudian dan tersenyum meremehkan,


"Apa kalian ingin aku melaporkannya?" Cindekia balik tersenyum.


"Cih, baru menjadi sekertaris saja sudah sombong dan berbicara tidak sopan. Berapa usiamu?"


Sekali lagi karena wajahnya, Ia disangka masih anak kemarin sore. Namun kali ini ada tambahan, Ia disangka wanita penggoda. Rumor yang sama sekali tidak mendasar, entah siapa pencetus rumor tersebut.


Menggoda Dyan saja nggak berani, menggoda pak bos? yang benar saja!


"Maafkan saya yang telah berbicara tidak sopan kepada kakak-kakak senior sekalian, saya hanya ingin mengatakan bahwa tidak baik membicarakan pak Gamya demi kelangsungan hidup kita bersama, dan saya bukan wanita penggoda apalagi simpanan. Saya sudah memiliki calon suami," kata Cindekia dengan intonasi yang dibuat sesopan mungkin. Jangan lupa dirinya adalah artis berbakat.


Ketiga wanita itu merasa sedikit bangga kepada diri mereka karena berhasil mendidik anak yang tidak sopan menjadi lebih sopan kepada mereka.

__ADS_1


"Ehem...kami dengar sekertaris sebelumnya berhenti karena tidak ingin melayani itunya pak Gamya,"


"Itunya?" tanya Cindekia bingung, Ia mencoba untuk menghubungkan pikirannya dengan pikiran ketiga wanita di depannya.


"Iya," ketiga wanita itu tampak serius.


"Biasanya aku membawa pacarku ke hotel," ucapan Gamya kembali berputar di pikiran Cindekia.


"Ah.. itu," Cindekia sudah terkoneksi, "Hahaha itu rumor dari mana kak? sungguh lucu, pak bos bukan seperti itu. Selama bekerja dengan Pak Gamya saya tidak tahu apakah sedang bekerja atau sedang makan," katanya mencoba menghilangkan rumor nyeleneh tentang bosnya. Selama masih berstatus sekertaris Gamya, Ia harus loyal terhadap atasannya. Karena sudah merupakan tugasnya.


"Saya sudah mengambil cuti, dan sudah pergi liburan. Namun tiba-tiba cutinya dibatalkan. Dan jadilah saya di sini sekarang, tetap bekerja," ujarnya kemudian, dan kali ini Ia mengatakan yang sebenarnya.


"Jadi seperti itu..." mereka terkesima dengan penuturan Cindekia.


"Benar kak," Cindekia kembali meyakinkan ketiganya, "Dan sepertinya saya harus kembali, sebelum pak bos ngamuk nyuruh Saya makan beling."


Ketiga karyawan wanita itu menatap kepergian Cindekia dengan prihatin, hilang sudah tatapan sinis mereka.


Tadinya mereka mengira Gamya pergi berdua dengan sekertarisnya, karena melihat postingan Cindekia. Melihat Gamya yang sudah masuk kerja pagi ini, dugaan mereka salah. Dan sekarang mereka malah mendapat fakta baru, Gamya adalah bos yang gila kerja hingga sekertarisnya tidak diperkenankan mengambil cuti.


***


Cindekia segera menunduk, Ia mengenal wanita itu bernama Sukie Duncan adalah salah satu cucu dari pemilik Haniun Group, yang menaungi PT Lapuk Jayatrading. Perusahaan yang dipimpin Gamya saat ini.


"Kau, ayo ikut!" Gamya memberi perintah kepada Cindekia tiba-tiba.


"Kak Gamya, tidak perlu mengajak sekertaris kakak, kita hanya makan siang dan membicarakan hal pribadi," Sukie tersenyum manis menatap Gamya.


Tak ada bantahan yang keluar dari mulut Gamya. Cindekia bernapas lega, karena artinya Ia tidak jadi ikut bersama mereka.


Gamya melirik sekilas ke arah Cindekia, sebelum memutuskan pergi bersama Sukie menuju ke arah Lift.


Cindekia berdecak setelah kedua bos nya menghilang dari pandangannya, "dia punya hal pribadi.." guman Cindekia tertawa kecil.


Ia berharap bosnya memiliki banyak masalah pribadi yang akan dibicarakan, sehingga tidak perlu cepat-cepat kembali ke kantor.


Tidak ingin membuang waktu, Cindekia segera menyelesaikan pekerjaannya sehingga bisa kabur lagi.


Sore harinya Cindekia pulang dengan selamat sampai di rumahnya. Seharian Ia sukses tidak perlu berhadapan dengan Gamya. Meskipun ganteng, tetapi kalau suka main perempuan, beruk terlihat lebih ganteng.


Saat hendak memejamkan mata, tiba-tiba ponsel Cindekia berdering. Ia berniat ingin tidur awal malam ini, tetapi siapakah gerangan yang menghubunginya malam-malam?

__ADS_1


Ia berharap Dyan yang menghubunginya. Namun raut wajahnya menjadi semrawut begitu melihat nama pak boss di layar ponselnya.


"Ya Pak?" tanyanya malas menjawab panggilan Gamya.


"Ada hal penting yang harus Kamu lakukan sekarang," suara Gamya terdengar serius, seperti Cindekia telah melakukan kesalahan besar.


"Hah? ini jam 8 malam Pak,"


"Ya aku tahu, keluar lah sekarang!" titah Gamya.


Mau tidak mau, Cindekia mengganti pakaiannya dan keluar menemui bosnya.


Matanya menangkap sebuah mobil yang biasanya dikendarai Gamya terpakir di luar pagar kontrakannya.


Cindekia menghampiri mobil tersebut, dan mengetuk kaca jendelanya.


Tok.. tok!


"Masuklah!" seru Gamya setelah menurunkan sedikit kaca jendelanya.


Dengan patuh Cindekia masuk, Ia memilih duduk di kursi belakang.


"Apakah kau menghindariku?" pertanyaan yang ingin dipertanyakan Gamya sejak tadi pagi, "dengar, aku hanya bercanda dengan apa yang kukatakan semalam, ok? Aku juga memiliki prinsip."


"Ok," Cindekia tampak percaya begitu saja dengan penjelasan Gamya.


"Sekarang pindah lah ke depan!"


"Kita mau ke mana Pak?"


"Ada yang harus kau lakukan sekarang."


"Malam-malam begini? apa ada hubungannya dengan pekerjaan?"


"Tentu saja, apa kau pikir aku akan memerintahkan bawahan melakukan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan job desc?"


Cindekia menggeleng, bos selalu benar, tidak ada gunanya membantah.


blam!


Cindekia telah berpindah duduk di kursi penumpang depan dan memasang sabuk pengamannya.

__ADS_1


__ADS_2