
Dua minggu lebih tiga hari telah berlalu, Adi merawat Lily dengan sangat baik. Ia bahkan rela sofa kesayangannya harus terluka hingga busanya menyembul keluar di mana- mana.
Pagi ini, Cindekia bertopang dagu menatap suaminya yang sedang menyantap sarapan buatannya. Kemampuan memasaknya mengalami peningkatan dengan baik sejak berhenti belajar dari chef abal- abal yang diberikan mertuanya.
Ia tersenyum manis menunggu Gamya melihat ke arahnya. Namun suaminya itu menyantap bubur ayamnya tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya.
Hingga selesai makan, Gamya tak jua menoleh ke arah Cindekia. Pria itu meletakkan sendoknya dan lanjut memainkan ponselnya.
"Sayang!" panggil Cindekia menyerah berharap suaminya akan meliriknya.
Gamya bergeming, "Uhmm...?"
"Cintaku, acuhkanlah istrimu walau hanya sebentar...," rengek Cindekia karena Gamya masih tak melirik ke arahnya.
Gamya menyimpan ponselnya dan berdiri dari duduknya, Ia mengecup dahi istrinya yang duduk di sisi meja makan sebelah kirinya.
"Terima Kasih atas sarapannya, Honey," bisiknya dan bergegas pergi.
Lho!
"Sayang, itu mengenai...," Cindekia yang menyusul Gamya menghentikan kalimatnya karena Gamya berhenti berjalan dan berbalik melihatnya.
__ADS_1
"Jangan khawatir, Adi sudah mengantar kucing itu ke Ganeeta. Itu kan yang ingin Kau tanyakan?"
"Ah iya itu."
Gamya tersenyum tipis kembali berjalan menuju pintu keluar. Cindekia kembali mengikutinya.
"Aku pergi." Gamya mengecup bibir istrinya sebelum menutup pintu.
Ada apa dengannya? Cindekia kembali membuka pintu dan bergegas menyusul Gamya hingga ikut masuk ke dalam lift.
"Sweetheart?" Gamya menatap heran Cindekia yang tiba-tiba ikut berdiri di dalam lift bersamanya.
Secara spontan Cindekia menekan tombol buka pintu lift. Namun niat baiknya berubah menjadi penyesalan karena wanita itu adalah Norah.
Mengapa dia ada di sini? Batin Cindekia pura- pura tidak kenal.
Ia segera berdiri di sebelah Gamya dan merangkul mesra lengan suaminya itu seperti anak kecil yang takut mainannya dipegang temannya. Namun yang dirangkul tetap diam menatap lurus ke depan dan dingin seperti sebelumnya.
"Hallo, apa kabar? kebetulan sekali ternyata kita adalah tetangga," sapa Norah ramah kepada Cindekia.
"Ya? Anda berbicara dengan Saya?" Cindekia masih berpura-pura tidak kenal.
__ADS_1
Norah tersenyum bersahabat. "Nona Kia, Kamu tidak mengenalku? kita pernah bertemu di..."
"Hallo, Ah iya Aku ingat. Apa kabar?" potong Cindekia.
"Sangat baik," jawab Norah sembari sedikit melirik ke arah Gamya yang diam seperti batang kayu yang hanyut di sungai. Ia tetap berdiri kaku menatap lurus ke depan, meskipun Cindekia merangkul lengannya mesra.
Yang dikatakan tante Wening benar, Batin Norah mempercayai kedua pasangan itu hanya berpura-pura romantis di depan Wening.
Ting!
Begitu pintu lift terbuka, Norah segera beranjak keluar. "Sampai ketemu lagi, bye bye," ucapnya.
Cindekia segera melepas lengan Gamya begitu pintu lift kembali tertutup. Dia pasti sengaja ikut tinggal di sini kan? Apakah dia serius mau...
Gejolak batin Cindekia terhenti karena Gamya menarik pinggangnya hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Babe, ada apa Kau menyusulku?" Gamya menatap lekat wajah Cindekia. Perasaannya sedang bercampur aduk. Dia sedang marah, tapi tingkah spontan istrinya barusan membuatnya tertawa geli dalam hati.
Apa ini? mengapa dia merangkulku sekarang? Cindekia membebaskan dirinya dari dekapan Gamya bersamaan dengan pintu lift yang terbuka di lantai basement.
"Saya akan menjawab itu nanti. Ada yang lebih penting, harusnya saat Saya merangkul lengan kamu, Kamu harusnya memegang tangan saya seperti ini." Cindekia mengambil tangan Gamya untuk digenggam sebagai contoh, dan berjalan keluar dari lift.
__ADS_1