
"Umm, Aku memang ingin memecatmu."
"Bapak ingin pecat Saya karena ingin memperistri Saya ya?" tebak Cindekia tersenyum narsis. Ia tidak menyangka sejak dulu bosnya sudah memiliki perhatian terhadapnya.
"Bukan," tangkis Gamya mematahkan imajinasi Cindekia. "Itu karena Kau memang pantas dipecat, Sweetie," jujurnya kemudian.
Cindekia menghentikan tangan yang memijat kaki suaminya. Orang ini?
"Sudahlah Pak, sebaiknya tidak usah membicarakan masa lalu. Bikin kesal saja," gerutunya kemudian sembari membetulkan selimut yang menutupi tubuhnya dan duduk merenggut menatap suami yang tengah asyik bermain dengan iPadnya dengan serius.
"Jika hal itu membuatmu kesal, maka jangan membicarakannya," tutur Gamya tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar iPadnya.
"Suamiku," panggil Cindekia dengan suara yang dilembutkan. Ia sengaja ingin menggoda Gamya, setelah itu akan mematahkan semangat tempur suaminya. Untuk membayar rasa kesalnya, Apa? memang pantas dipecat katanya?
Panggilan manja Cindekia mendapatkan perhatian suaminya. Pria itu menyingkirkan iPadnya dan bangkit dari sandarannya.
Ia bergeser mendekati istri yang tersenyum menggodanya.
Aku suka dengan kemajuanmu merayuku sejak menjadi istriku, tapi malam ini mengapa Kau sangat memprovokasiku? Batin Gamya.
"Suamiku sayang," goda Cindekia sekali lagi menatap wajah tampan suami yang juga menatap kepadanya.
Gamya menarik selimut yang dikenakan Cindekia, dan membungkus istrinya dengan lebih rapat. "Nanti Kau masuk angin, Sayang."
hah?
Gamya memeluk Cindekia dan menidurkannya, "Selamat tidur, sudah malam." ucap Gamya memejamkan matanya. Kedua tangannya masih memeluk istrinya.
hah? Dia benaran tidur? tidak bisa!
Cindekia menarik garis lurus di dada bidang Gamya yang berada di depan matanya dengan jari telunjuknya.
Melihat suami yang masih bergeming, Cindekia meneruskan lukisan abstraknya membuat lingkaran di sekitar dada suaminya dan lanjut menggambar garis zigzag dari atas hingga mencapai pusar. Ia hanya berpikir untuk menggangu suaminya agar tidak tidur.
"Tidur, dan berhentilah menggodaku Sweetheart! atau Aku akan membuatmu tidak bisa duduk besok pagi," ancam Gamya tanpa membuka matanya, saat tangan nakal istrinya melewati pusarnya.
"Bapak mau KDRT?" cicit Cindekia,
__ADS_1
Mendengar pertanyaan polos istrinya, Gamya mempererat pelukannya. "Umm, bukan kah diperbolehkan memukul istri yang tidak patuh?" gurau Gamya melanjutkan kesalahan pengertian Cindekia.
Dia gila? untung saja sudah membuat kontrak tidak boleh KDRT.
"Aku sudah tertarik kepadamu sejak awal karena kehadiranmu membuatku tertawa, Kia. Meskipun Aku menampiknya, Kau selalu muncul dipikiranku. Aku sudah berusaha untuk menyingkirkanmu dan Kau memilih untuk tetap berada di dekatku, jadi bukan salahku jika akhirnya Aku memutuskan untuk mencintaimu," tutur Gamya sembari mengusap- usap puncak kepala Cindekia agar lekas terlelap.
Cindekia mendorong Gamya, meskipun pelukan suaminya tidak mengendor sama sekali. "Bapak pernah ingin menyingkirkan Saya?"
"Umm benar. Apa itu sudah menjawab pertanyaanmu?" Gamya mengendurkan rangkulan tangannya agar dapat melihat wajah istri yang berada dalam dekapannya.
"Tapi Pak," Cindekia mencoba mengingatkan kembali kejadian yang sebenarnya, "Saya memilih untuk menyetujui kontrak bekerja sama dengan Bapak, bukannya karena Bapak memeras saya untuk membayar ganti rugi mobil bapak?"
"Aku tidak memerasmu, Sayang. Kau lupa? Kau sendiri yang menginginkanku untuk bertanggung jawab," tawa Gamya.
Cindekia menghela napas bosan, kapan ku pernah menang darinya?
Ditatapnya pria yang penuh dengan akal bulus. Akal bulus yang membuatnya jatuh cinta. Semakin mencintai maka akan semakin takut kehilangan.
Cindekia bergeser mendekat dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya. "Yang penting sekarang Bapak sudah jadi milik Saya, dan Saya milik bapak." katanya dengan tangan yang bergerilya di tubuh suaminya.
"Karena saling memiliki, maka harus memiliki anak," lirih Cindekia.
Gamya menangkap tangan nakal istrinya yang semakin nakal dan tidak bisa dibiarkan karena khawatir akan membangunkan si bambang, "Kita tidak harus memiliki anak Sayang," ucap Gamya mencoba mulai mendoktrin Cindekia.
"Bapak jangan coba- coba jual anak," gumam Cindekia yang mulai ngelantur.
Gamya mengerutkan dahinya, "Jual anak?" tanyanya bingung. "Sayang, apa yang Kau bicarakan?"
"hmm..." terdengar hembusan napas teratur Cindekia.
"Kau sudah tertidur," gumam Gamya geli. Ia membenarkan posisi tidur istrinya, dan menyelimutinya dengan benar.
Jempolnya mengusap bibir lembut yang sejak tadi ingin Ia cicip, "Maaf, Aku tidak bisa menuruti keinginanmu untuk memiliki anak," gumamnya, dan mendaratkan bibirnya pada bibir yang berwarna muda itu.
Ia menghirup dalam aroma tubuh istrinya, salah satu kegemarannya yang mendorongnya ingin selalu dekat dengan Cindekia.
...π π π...
__ADS_1
Keesokan paginya, Cindekia mendapati suaminya tengah menatapnya begitu Ia membuka mata. Meski hanya diterangi lampu temaram, Ia masih dapat mengenali wajah tampan suaminya yang berbaring bertopang dagu menghadap ke arahnya.
"Selamat pagi, Sweetie" sambutan lembut Gamya terdengar di telinga Cindekia. Pria itu lebih dahulu bangun dari istrinya, tidak seperti biasanya.
Cindekia tersenyum manis mengira Ia masih berada di dalam mimpi. Seperti preman yang ingin memalak minta uang keamanan, ditariknya kerah kaos Gamya agar mendekat ke arahnya. Ia terlalu malas untuk bangkit dari tidurnya.
Tanpa ragu dan malu Ia mencium suaminya, meski masih belum mahir dengan ciuman ekstrakurikuler yang diajarkan suaminya. Kedua tangannya menangkup wajah Gamya.
Gamya yang agak terkejut dengan kepandaian istrinya yang meningkat secara drastis, membiarkan Cindekia mendominasi morning kiss pertama mereka.
Setelah sadar karena seluruh nyawanya sudah berkumpul, Cindekia menghentikan kegilaannya. Dijatuhkannya wajah Gamya yang masih berada dalam tangkupannya.
Matanya membulat dan berkedip, memastikan kembali Ia tidak sedang bermimpi.
"Ada apa Sayang?" Gamya menyapu bibir berair istrinya dengan jarinya, Ia masih belum ingin mengakhiri kemesraan pagi mereka.
Plak!!
"Auch!!" pekik Gamya karena tamparan Cindekia dipipi kanannya.
"Suami, ternyata Saya sudah bangun." ungkap Cindekia tanpa rasa bersalah setelah melakukan KDRT kepada suaminya. Wajahnya memerah karena menahan malu.
Bergegas Ia beringsut melarikan diri dari hadapan Gamya. "Sudah pagi, Saya mandi dulu Pak!" teriaknya sembari berlari ke kamar mandi.
Tinggallah Gamya yang mengelus sebelah pipinya yang memerah akibat kekerasan yang baru saja dialaminya. Dia yang menciumku, dia yang menampar.
"Ternyata dibalik tubuh kecilmu menyimpan kekuatan besar," Gumam Gamya berdiri di depan cermin kamar, melihat sudut bibirnya yang sedikit memar akibat tamparan keras istrinya.
Sementara di kamar mandi, Cindekia merutuki dirinya. Ia juga melihat pantulan dirinya di depan cermin.
Ada apa denganmu Cindekia? tanyanya pada diri sendiri. Jantungnya masih berdebar- debar. Tidak menyangka dirinya bersikap agresif duluan.
Ia menyentuh bibirnya, sumber penyebab dirinya menjadi selalu terbuai dengan sentuhan Gamya hingga terbawa sampai ke alam mimpi. Otaknya menjadi bahagia setiap kali berciuman lembut mesra dengan pria itu. Otaknya adalah penanggungjawab sekujur tubuhnya yang menjadi ketagihan.
"Apa jadinya jika membiarkannya menyentuhku sebelum menikah?" gumam Cindekia bergidik ngeri. Bisa jadi ikutan gila karena terbuai melakukan perbuatan terlarang.
Benar- benar bahaya.
__ADS_1