Boss Gila

Boss Gila
Negosiasi dengan calon bapak mertua


__ADS_3

Gamya yang berdiri di samping mobilnya, tersenyum senang melihat Cindekia yang juga tersenyum berjalan mendekat ke arahnya.


Mereka akan pergi menemui kedua orangtua Cindekia. Gamya membukakan pintu penumpang bagian belakang dan mempersilahkan Cindekia masuk.


Pak Isman menjalankan mobil setelah tuannya duduk dengan nyaman di sebelah Cindekia.


"Pak, nanti bapak saya akan marah-marah karena Saya belum lama putus tunangan malah sudah membawa pria lain lagi." Cindekia terlihat khawatir.


"Tenanglah Baby, Kau bisa bersandar kepadaku." kata Gamya menenangkan Cindekia yang dilanda kekhawatiran.


Cindekia menyandarkan kepalanya ke bahu Gamya, "Ok Pak,"


"Sweetie, maksudku bukan menyandar seperti ini."


Cindekia segera mengangkat kembali kepalanya dan menjauhkan badannya, "Oh maaf Pak."


Gamya tersenyum lembut melihat Cindekia yang tak lama lagi akan menjadi miliknya, "Maksudku_"


Tiba-tiba Ia teringat aturan no 1, wanitanya tidak bisa disalahkan atas kesalahan pemahaman makna kata.


"Kau harus duduk lebih dekat lagi dan bersandar dibahuku." Gamya menyambung kalimatnya yang sempat terputus. Ia tidak jadi meralat kesalahan pemahaman kata Cindekia.


Cindekia tertawa kecil mendengar penuturan Gamya, "Perjalanan masih jauh Pak, nanti saja kalau Saya sudah ngantuk." Ia menyandarkan sisi kiri badannya ke sandaran kursi mencari posisi nyaman untuk melihat pria yang membuatnya ingin mahir dalam dunia masak memasak.


Gamya ikut menyandarkan sisi kanan badannya ke sandaran kursi mencari posisi nyaman untuk melihat Cindekia.


Sementara pak Isman hanya bisa menyandarkan punggungnya, Ia harus menatap jalan dengan nyaman.


"Pak, Kalau seandainya orang tua saya tidak menerima Bapak, apa yang akan Bapak lakukan?"


"Aku tidak akan melakukan apa-apa."


Cindekia bangkit dari sandarannya, "Bapak akan menyerah begitu saja? Pak, bapak serius nggak sih suka sama Saya?"


"Babe, Kedua orangtuamu tidak memiliki alasan untuk tidak menerimaku."


"Hah?"


Ya sudahlah terserah Bapak saja.


Setelah enam jam perjalanan akhirnya mobil yang membawa mereka memasuki desa di mana rumah kedua orang tua Cindekia berada.


Mobil Gamya yang terlihat mencolok menjadi pusat perhatian penduduk desa. Pemilik mobil mewah itu keluarganya siapa?


Mobil itu berjalan masuk ke pekarangan rumah kedua orangtua Cindekia, dan berhenti.


Kedua orangtua Cindekia sudah menduga mobil itu adalah kepunyaan bosnya Cindekia.


Pak Isman turun dari mobil bersamaan dengan Cindekia. Ibunya Cindekia segera menarik pak Isman masuk ke dalam rumah mereka karena tidak ingin membuat keributan yang memancing para tetangga untuk kepo.

__ADS_1


"Bu.." omongan Cindekia terputus karena pak Isman sudah dibawa masuk.


"Ibumu sangat bersemangat, Babe," ucap Gamya yang sudah turun dari mobilnya.


Di dalam rumah, pak Isman didudukan dan disidang oleh bapaknya Cindekia.


"Anda sudah apakan anak saya sampai bersedia menikah dengan Anda?!"


"Saya Pak?" pak Isman terang saja bingung.


"Pak, Bapak salah orang. Beliau adalah supirnya bos Kia." Cindekia telah berdiri di ambang pintu rumahnya.


"Supir?"


"Benar, Pak. Saya ini supir."


"Bos Kia, bapak yang ini," Cindekia memperkenalkan Gamya yang berdiri di sebelahnya.


Gamya segera masuk dan berniat untuk menyalami calon mertuanya.


Kedua orangtua Cindekia terpesona sesaat melihat karisma dan ketampanan Gamya, mereka pun menerima salam dari Gamya.


Melihat kedua orangtua Cindekia yang diam, membuat Gamya merasa Ia diterima dengan baik. Ia pun tersenyum bangga.


Namun senyumnya hanya berlangsung sebentar, tak lama kemudian Ibunya Cindekia mengambil sapu dan memukulkannya kepada Gamya. "Kamu pikir Saya akan menerima pria yang sudah berkeluarga seperti kamu menikahi anak saya!"


"Bu, Ibu, jangan dipukul!" Cindekia menahan sapu yang akan dilayangkan kembali kepada Gamya. "Pak Gamya belum punya istri,"


"Itu benar, Pak Gamya belum menikah." pak Isman mencoba melindungi tuannya yang akan di hajar oleh pak Salahuddin.


Sementara Gamya hanya bisa mengusap pilipisnya atas kesalahan pahaman yang terjadi kepadanya.


"Tadi Anda sebut apa?" tanya pak Salahuddin, "Namanya bukan Damar?"


"Nama Saya Gamya, bisa dibilang Saya adalah bos dari bos Kia," Gamya memperkenalkan dirinya secara resmi.


"Pak, Bapak tidak apa-apa?" Cindekia memeriksa pundak Gamya yang tadi kena hantam sapu.


"Tidak apa-apa, Sweetie." Gamya tersenyum menenangkan.


"Oh maafkan Ibu Nak Gamya, ayo silahkan duduk."


"Tidak apa-apa Bu."


Gamya pun duduk di atas kursi bambu yang ada di ruang tamu.


"Jadi Kamu mau menikahi anak saya?"


"Itu Benar Pak,"

__ADS_1


"Jika Kamu serius dengan putri kami, Kamu bisa bawa keluarga kamu ke sini."


"Maaf Pak, kedua orangtua saya berhalangan untuk datang saat ini. Saya mewakili diri saya sendiri untuk melamar Putri Cindekia binti Salahuddin." terang Gamya dengan tenang.


Namun Salahuddin berang mendengar keterangan Gamya, urat lehernya mulai menegang. "Kalau begitu Maaf, kami tidak bisa menerima Kamu. Kia adalah putri kami satu-satunya yang paling berharga."


"Pak, yang serius ingin menikah dengan Kia adalah Pak Gamya, bukan keluarganya." Cindekia mencoba membujuk pak Salahuddin.


Perkataan Cindekia malah membuat Salahuddin dan Gamya kaget, karena pemilihan katanya yang salah.


"Apa?! Jadi kedua orangtuanya tidak merestui kamu?" berang Salahuddin. Ia tidak terima putrinya yang berharga ini dipandang sebelah mata oleh orang lain.


Gamya menghembus napas panjang, ternyata Ayah dan putrinya sama-sama sulit.


"Saya tahu Kia adalah putri yang sangat berharga bagi Bapak dan Ibu, jadi Saya sangat menjaganya dengan baik, dan ingin terus menjaganya sepanjang hidup saya," jelas Gamya.


Nuraini mengusap bahu Salahuddin, memintanya untuk tenang mendengar penjelasan Gamya.


"Hmm.. "


"Kedua orangtua saya sedang dalam perjalanan, mereka sudah bertemu dan mengenal Kia." Gamya melirik pak Isman untuk menyerahkan berkas yang ada ditangannya.


"Saya sangat serius ingin melamar putri bapak dan ibu, semoga bapak dan ibu menyukai buah tangan yang Saya bawa."


Salahuddin dan Nuraini membuka map yang diserahkan pak Isman. Isinya adalah beberapa sertipikat tanah.


"Saya membeli 5 hektar sawah dan 2 hektar tanah di desa ini."


"Nak, ini semuanya sudah atas nama kami berdua?" tanya Nuraini heran melihat semua sertipikat tanah yang namanya tertulis di sana.


Cindekia juga ikut heran, kapan dia membelinya?


Gamya menjawab keheranan Cindekia dengan senyum pongah. Berharap kedua orangtua Cindekia dengan senang menerima pemberiannya.


"Apakah Kamu mau membeli putri Kami?!" Salahuddin kembali marah dan tidak terima.


Gamya menghirup oksigen dengan tarikan panjang, dan mencoba cara yang berikutnya.


"Saya ingin bertanggung jawab karena telah merenggut kesucian putri bapak, Saya sudah menodai Kia dua kali. Dan kami sudah tinggal bersama selama empat hari."


Pak Isman terbatuk-batuk mendengar penuturan tuannya. Cindekia tersentak malu karena Gamya mengatakan kepada ayahnya tentang dirinya yang sudah dicium dua kali.


"Cindekia!" Salahuddin melotot marah kepada putrinya yang tidak bisa menjaga kehormatan diri, "Jadi Kau sudah sejauh itu?!"


"Ah itu... iya, maafkan Kia, Pak." rengek Cindekia dan menatap ibunya untuk meminta perlindungan dari amukan ayahnya.


Namun sang Ibu hanya bisa mengurut dada mendengar sesuatu yang mengguncang jiwanya, Ia telah gagal mendidik putrinya. Ia tak sanggup membayangkan apa kata orang-orang jika nanti putrinya hamil di luar nikah.


"Kamu harus segera menikahi putri kami!" seru Salahuddin.

__ADS_1


Gamya tersenyum puas, "Kami akan menikah besok."


__ADS_2