
Selepas kepergian Wening, Cindekia teringat akan video yang pernah dikirimkan kepadanya waktu itu.
Tidak Mami, Kau salah. Putramu akan tertawa palsu seperti itu setiap kali bertemu mitra bisnisnya. Pikir Cindekia meralat pemikiran ibu mertuanya.
"Tapi, Apa benar dia tidak bahagia bersamaku? Aku tidak pernah memikirkannya," gumam Cindekia.
Tok! Tok!
seorang pelayan datang satu set cemilan sore ke kamar Cindekia.
Meskipun dirinya menjadi istri terlantar, Cindekia tidak kekurangan makanan karena seorang pelayan wanita hampir setiap saat membawakan makanan yang lezat untuknya.
Dia benar-benar ingin membuatku kelebihan berat badan? Batinnya. Ia meneguk air liur menahan diri dari godaan aroma aneka pastry yang terhidang di atas meja santai kamarnya.
"I want to talk to your boss!" ucap Cindekia kepada pelayan wanita itu.
Wanita itu menoleh ke arah Cindekia dan tersenyum menunduk, dan beranjak pergi.
ada apa dengan mereka semua? apakah mereka tidak diijinkan untuk berbicara denganku?
"Tunggu! Wait!" Cindekia pergi membuka pintu balkon kamarnya, seketika udara dingin menerpa wajahnya.
"See! Aku akan melompat!" pekik Cindekia menarik perhatian wanita itu.
Wanita itu terdiam melihat ke arah Cindekia, ia tidak mengerti apa yang sedang istri majikannya coba lakukan.
Eh? mengapa dia diam saja? batin Cindekia, dan menoleh ke arah pagar pembatas,
__ADS_1
apa harus menaikan sebelah kaki? tapi ini berbahaya, bagaimana kalau benaran jatuh? menolog Cindekia.
Dia menatap ngeri ke arah bawah, Bahaya juga kalau jatuh benaran, sebaiknya cari cara lain saja.
"Apa yang sedang Kau lakukan di sana?" suara Gamya mengagetkan Cindekia. ia segera menoleh ke dalam kamarnya.
Gamya telah duduk di kursi meja santai sedang menuangkan teh panas dari teko ke dalam cangkir.
Sejak kapan dia duduk di sana?
"Masuklah, jika Kau tidak ingin terkena flu lagi."
"Baik," dengan patuh Cindekia masuk dan menutup pintu balkonnya.
Gamya tersenyum lembut menatap Cindekia. "Duduklah Sayang, dan minum teh mu,"
Jantungnya bergetar melihat suaminya yang masih tetap sama. Ia ingin memeluk pria itu, merasakan kehangatan dari suaminya seperti dulu. Melihat suaminya membuatnya lupa akan harumnya pastry di depannya.
"Aku mendengar teriakanmu,"
"Mendengar? memangnya kamu ada di mana?"
"Kamar sebelah," jawab Gamya enteng.
Cindekia mengangguk mengerti, "Oh,"
tunggu, apa artinya selama ini dia ada di rumah ini?
__ADS_1
"Jadi apa yang ingin Kau katakan kepadaku?" tanya Gamya. Ia terlihat senang melihat istrinya sudah terlihat banyak bicara seperti dulu.
Mereka selama ini tinggal di rumah yang sama. Cindekia yang tidak pernah keluar dari kamarnya tidak tahu akan hal itu.
Cindekia yang tiba-tiba melihat suaminya menjadi lupa tentang kalimat yang sudah dirangkainya. "Apakah Kamu masih menyukaiku?"
Gamya terdiam sesaat mendengar pertanyaan istrinya, pandangannya menatap datar ke istrinya. "Sepertinya masih,"
sepertinya? Apakah selama ini dia mencoba untuk berhenti untuk menyukaiku?
Cindekia menatap tangan Gamya yang diletakan di atas meja, ia ingin mengenggam tangan itu. Atau tangan itu menariknya. Setelah berpikir dengan jernih, ia yakin pria di depannya tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk kepada Erlin.
dia sudah melupakan semuanya, dan ingin mengulangnya dari awal.
"Maaf karena sudah menentang keinginanmu. Sampai saat ini Aku tidak bisa mengerti mengapa Kamu tidak ingin memiliki keluarga. Kamu akan bahagia jika tangis dan tawa anak kecil ada di rumah ini,"
"Kia, Aku hanya butuh seorang wanita untuk menjadi teman hidupku. Dan sampai kapan pun Aku tidak akan membuat pengecualian," tegas Gamya sekali lagi.
"Apakah Kamu bahagia dengan hal itu?"
"Ya Aku bahagia. Apakah Kau tidak bahagia bersamaku?" Gamya balik bertanya.
"Bagaimana jika Aku tidak cukup hanya dengan memilikimu?"
"Artinya Kau tidak bahagia,"
Gamya tersenyum, ia mentertawakan dirinya sendiri. Selama ini ia selalu berusaha membuat Cindekia bahagia, tetapi tetap itu tidak membuat wanita itu bahagia.
__ADS_1