Boss Gila

Boss Gila
BAB 38 Skinship


__ADS_3

Gamya hanya menatap bingung, Cindekia telah tiba di rumahnya. Ia tidak menyangka gadis itu akan datang dan membawa sebuah melon.


"Kau datang?" tanyanya dengan suara lemah dan beringsut duduk di sofa.


Jarinya yang sakit, kenapa sekarang menjalar ke suaranya. Pikir Ganeeta tak mengerti.


Cindekia segera menghampiri Gamya dengan khawatir, "Bapak tidak apa-apa?" Ia menghela napas tidak percaya bosnya bisa jatuh sakit.


"Dia belum sarapan," ujar Ganeeta menambahkan informasi bohong, padahal Gamya sudah menghabis setengah mangkuk buburnya.


Cindekia melirik ke arah dapur, terlihat peralatan makan mereka tadi masih ada di sana. Rumah Gamya tidak memiliki dinding pembatas dan sangat terbuka.


"Oh itu, bekas makanku." Ganeeta menjawab kecurigaan Cindekia dan berjalan ke arah dapur membereskan sisa makan mereka. Ia menjadi cukup rajin setelah sebulan lebih tinggal di rumah Gamya. Daripada kena usir tuan rumah.


"Mengapa Bapak belum sarapan? apa yang ingin Bapak makan?" tegas Cindekia. Bosnya tidak boleh sakit.


"Babe, Apa Kau sangat mencemaskanku?"


Panggilan Gamya untuknya membuatnya tersadar akan tugasnya. Ia harus mengubah intonasi suaranya, "Bagaimana Saya bisa bernapas dengan tenang jika mendengar kondisi bapak seperti ini? saya lupa bagaimana caranya bernapas," isaknya.


Geneeta yang mendengar drama mereka hampir memecahkan piring yang tengah dibasuhnya.

__ADS_1


"Maaf Babe, seharusnya Aku tidak memberitahumu." Gamya mengelus kepala Cindekia yang duduk di sebelahnya.


Sontak Cindekia langsung berdiri, "Saya akan membuatkan sarapan untuk Bapak." Ia segera bergegas ke dapur membawa melonnya. Sentuhan Gamya membuatnya berdebar sekaligus takut.


"Kau akan memasak?" seringai Ganeeta. Rencananya membuat Cindekia memasak berhasil. "Bagaimana kalau untuk makan siang juga? sepertinya Gamya sangat sakit," katanya memprovokasi.


"Siap Kak, Saya akan merawat Pak Gamya seharian ini," jawab Cindekia penuh semangat sebagai penebus kesalahannya.


"Itu bagus, panggil Aku kalau sudah waktunya makan siang," ujar Ganeeta dan pergi ke tempat favoritnya mencari ilham dengan senang hati, dimana lagi kalau bukan halaman belakang. Ia terbebas dari masak.


Cindekia tanpa ragu dan sungkan membuka kulkas Gamya, melihat apa yang bisa dimasaknya.


Sementara Gamya melihatnya bingung. Ia tidak mengerti apa yang ada di dalam kepala kecil Cindekia. Jika Cindekia tidak menyukainya, mengapa gadis itu begitu mengkhawatikannya.


Gamya segera menghubungi bagian personalia perusahaannya, dan meminta data karyawan pria. Ia harus memperhatikan kesehatan karyawan, tidak boleh ada yang sakit.


Cindekia dengan telaten menyuapi Gamya yang mengaku tangannya mengalami cidera parah.


Setelahnya Cindekia melanjutkan pekerjaannya di rumah Gamya.


Gamya tidak pernah bosan melihat Cindekia yang tengah serius dengan laptop. Sementara Ia tengah tiduran santai di sofa malasnya.

__ADS_1


"Kau tidak ingin belajar bahasa asing?" tanyanya kemudian.


"Ya?" Cindekia berhenti menatap layar laptopnya dan melihat ke arah bosnya.


Gamya tersenyum menyadari dirinya adalah bos yang sangat baik hati, "Aku tidak yakin, selain diriku ada yang menerimamu sebagai sekretarisnya karena tidak bisa berbahasa asing."


Cindekia mendengus kesal mendengar penuturan Gamya, "Saya juga tidak yakin, selain saya ada yang mau jadi sekertaris Bapak."


Gamya berdiri berjalan mendekati Cindekia. Membuat gadis itu menjadi salah tingkah.


Apa, apa dia marah karena ucapanku?


Gamya mengusap kepala Cindekia sembari berjalan melewatinya, "Aku akan istirahat di kamarku, Kau tetap bekerja di sini," titahnya kemudian.


Blam!


Wajah Cindekia memerah setelah Gamya masuk ke kamarnya. Apakah mengusap kepalaku tidak termasuk skinship*?


(* skin + relationship, slang korea/jepang, sentuhan kulit ke kulit)


Cindekia mengusap kembali bekas usapan Gamya. Benar juga, tidak ada kulit yang di sentuh.

__ADS_1


Ia tersenyum senang dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Entah apa yang membuatnya senang, Ia sendiripun tidak tahu, dirinya yang berdebar atau Gamya yang menepati janjinya untuk tidak lagi menyentuhnya sembarangan.


__ADS_2