
"Bagaimana rencanamu tentang memiliki produk sendiri?"
Gamya tersenyum menyeringai, "sudah 20 jenis produk yang kami keluarkan dua bulan terakhir. Apakah Kau terbebani karena tidak mengeluarkan satu produk pun setahun terakhir ini?"
"Ha.ha.ha..sindiran yang bagus, teruslah membuat trobosan di divisi distribusi. Kudengar keponakanku menemuimu kemarin, kupikir Kau menolak jadi abang iparku karena ingin menjadi keponakanku.. ha.. ha..,"
"Aku juga tidak ingin Kau jadi pamanku."
"Seharusnya Kau menghiburku yang patah hati ini, bagaimana bisa kalian berdua menolakku" rengek Rudi.
Kedua sahabat yang sedang berbicara tak tentu arah itu tampak tak membuat Cindekia terganggu.
Gadis itu hanya diam dengan air liur yang hampir menetes mengamati panci yang berisikan kuah sup yang menggelegak. Ia tidak peduli dengan pembicaraan Gamya dan Rudi.
Ia memilih menunggu dagingnya matang. Jika terlewat matang, rasanya akan menjadi kurang enak. Di depannya hanya ada sepiring daging yang hampir kosong dan semangkok nasi.
Berbeda dengan Gamya dan Rudi, mereka lebih asyik mengobrol. Sehingga piring mereka masih komplit, seafood, sayuran, jamur, bihun.
Sesekali mereka berdua memakan daging yang sudah terlewat matang di panci sup mereka.
"Kau begitu menyukai daging? Kau boleh ambil punyaku." Tiba-tiba Rudi meletakkan piring dagingnya ke dekat Cindekia.
Gamya segera mengeser kembali piring daging sapi Rudi, "tidak perlu."
__ADS_1
Tak lama kemudian datang seorang pelayan membawa dua piring daging sapi, dan meletakkannya di hadapan Cindekia.
Gamya tersenyum bangga karena dia adalah seseorang yang sangat pengertian dengan kebutuhan Cindekia yang porsi makannya tiga kali lebih banyak.
Sementara Cindekia ingin marah karena kesal, namun tidak bisa. Ia hanya tertawa kaku menatap dua piring daging di depannya.
Dasar bos gila! Kau ingin menjatuhkan imageku di depan pak Rudi ini? malah pesan yang porsi besar lagi.
Akhirnya Cindekia bisa menghabiskan daging tambahannya, tentunya dibantu oleh Gamya. Rudi ingin ikut membantu, tetapi Gamya melarangnya.
Sesuai kebiasaan sebagai sekertaris rangkap asistennya Gamya, Cindekia segera berdiri untuk melakukan pembayaran ke kasir.
"Apa Kau masih sekretarisnya?" tanya Rudi heran.
Rudi memberikan senyum terbaiknya kepada Cindekia, "Biarkan Aku saja yang melakukannya." Rudi dengan bangga menunjukkan sikap gentle
Kali ini Gamya membiarkan Rudi pergi ke kasir. Ia tidak perlu bersaing.
"Ayo kita pergi!" Gamya mengajak Cindekia untuk meninggalkan Rudi.
***
"Apa tidak apa-apa meninggalkan teman bapak?" tanya Cindekia sembari memasang sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu mengkhawatirkannya." Gamya segera menjalankan mobilnya meninggalkan restoran hot pot.
"Ok,"
"Apakah Kau selalu mengiyakan setiap ada pria yang mengajakmu makan?" tanya Gamya ingin tahu, tetapi kok kesal.
"Iya," jawab Cindekia mantap.
"Apa Kau tahu, pria yang mengajak makan itu memiliki tujuan tertentu."
Cindekia tertawa kecil mendengar Gamya berpikir dirinya adalah anak kemarin sore, "tentu saja, Saya bukan anak kecil, Pak."
Mereka butuh teman makan bersama, aku bisa makan gratis. pikir Cindekia sederhana.
Gamya tersenyum tak percaya, "Berapa banyak mantan yang Kau miliki? Aku menebak Kau tidak bisa menghitungnya."
"Satu waktu SMA." jawab Cindekia dengan cepat.
"Lalu setelahnya Kau memiliki cinta sebelah dengan orang itu?"
"Cinta Saya tidak bertepuk sebelah tangan, catat Pak. Setelah kontrak kerjasama kita selesai, Saya akan langsung menerima lamarannya," jawab Cindekia yakin.
"Begitu."
__ADS_1