
Cindekia mengambil satu set tanpa memilah. Karena semuanya bagus, jadi tidak perlu menguras pikiran untuk memilih. "Aku mau yang ini saja. Tidak perlu mencoba semuanya." tegas Cindekia.
Siapa yang mau pakai, dia yang milih, batin Cindekia.
"Maaf Nona, nyonya Wening yang akan memutuskannya, setelah Anda mencoba semuanya. Kami akan mengambil foto Anda dan mengirimnya kepada nyonya Wening," ujar Tyas tersenyum lembut, Ia juga dibuat repot dengan permintaan kliennya. Tetapi harus tetap melayani dengan baik.
"Apa? yang benar saja!" Pekik Cindekia histeris mendengar Tyas berulang kali menyebut nama ibu mertuanya.
"Dia hanya akan mencoba apa yang disentuhnya." Suara Gamya tiba-tiba terdengar dari arah pintu masuk ruangan.
Cindekia hendak menoleh kebelakang, tetapi Gamya keburu sudah berada di sebelahnya, dan merangkul mesra dirinya.
"Tidurmu nyenyak tadi malam, Babe?" bisik Gamya di telinga Cindekia sekalian memberi kecupan, mumpung bibirnya sudah berada disitu kian.
"Sayang, Kau sudah datang," Cindekia balas merangkul Gamya. Ia berpikir merayu suaminya untuk meringankan beban hidup tentang persoalan memilih baju pengantin yang mudah tetapi dibuat repot.
"Tetapi.. "
"Kami akan pergi jika istriku merasa tidak nyaman." Gamya memotong perkataan Tyas.
"Kenyamanan klien nomor satu," Tyas tersenyum menyetujui permintaan Gamya. "Mari silahkan Nona," ajaknya kepada Cindekia, menuju ruang ganti pakaian.
...π π π...
.
Cindekia duduk dengan bosan di depan meja rias. Mertuanya memberikan jadwal yang padat kepadanya, ikut kelas belajar kepribadian, kursus memasak, melakukan perawatan pre wedding selama 7 hari.
Sesekali Cindekia melirik Gamya yang sedang duduk tak jauh darinya. Pria itu tampak serius membaca layar iPad nya. Sepertinya dia sedang bekerja,
Aina, MUA yang bertanggung jawab terhadap riasan Cindekia saat resepsi nanti, sedang merias wajah Cindekia dengan serius. Ia mendengar jika klien mereka melebihi kritikus.
Aina tidak sendiri, seseorang lagi, spesialis pakaian adat bertugas memasang sunting di kepala Cindekia.
Mengapa semua orang tampak serius? Pikir Cindekia bosan.
Pemikirannya semakin berat seiring dengan semakin bertambah beratnya beban yang ada di kepalanya.
"Pengantin wanita sudah hampir selesai, jika tidak keberatan Anda bisa mencoba memakai pakaian pengantin pria." Suara Tyas menganggu konsentrasi Gamya pada pekerjaanya.
Ia menghela napas, menutup layar iPadnya, "Ok."
Gamya menahan tawa melihat Cindekia yang tidak bisa melepas kedua tangannya dari kepalanya. Ia takut kepalanya lepas.
__ADS_1
Sang fotografer harus menahan kesabarannya karena Baik Cindekia dan Gamya, keduanya tidak mengikuti arahan darinya.
Cindekia masih enggan bersentuhan tangan dengan suaminya karena tidak perlu lagi merayu suaminya. Ia masih dalam mode merajuk efek samping dari karung beras.
Sementara Gamya selalu mengulum mulutnya menahan tawa. Entah mengapa baik dalam mode genit ataupun marah tetap membuat wanitanya selalu tampak lucu di matanya.
Jadilah foto- foto prewedding yang dihasilkan adalah berkonsep candid camera.
π π π
"Kau tidak membersihkan riasan wajahmu, Sayang?" tanya Gamya saat bersiap menjalankan mobilnya. Ia lebih suka melihat wajah polos istrinya.
"Kenapa?" ketus Cindekia, Ia tidak memperdulikan komentar Gamya. Mengambil foto selfie lebih penting.
"Kau masih marah padaku, Hun?"
"Karung beras yang dilempar ke tempat tidur tidak berhak marah." sindir Cindekia tanpa melihat lawan bicaranya.
"Maafkan Aku, Apa Aku menyakitimu? pergelangan tanganmu terasa sakit?" tanya Gamya bernada khawatir.
Cindekia terdiam sejanak mengingat apakah dirinya mengalami cidera atau tidak semalam, "hmm.. " Ia menggelengkan kepalanya.
"Syukurlah," Gamya mengelus kepala Cindekia yang duduk di sebelahnya dengan tangan kirinya.
"Sayang, jika Ibuku menyulitkan, Kau bisa mengatakannya kepadaku." Gamya menyingkirkan tangannya dari kepala Cindekia, dan kembali fokus mengemudi.
"hmm..."
"hmm..." Cindekia tidak peduli kemana Gamya akan membawa mobilnya.
Gamya berusaha untuk bersikap tenang menghadapi wanitanya yang sedang marah, "Baik, di mana mereka?"
Cindekia mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi google map untuk menunjukkan di mana kedua orang tuanya berada kepada Gamya.
"Ambil arah barat di jalan Patimura menuju jalan Imam Bonjol," terdengar suara navigasi dari ponsel Cindekia.
Gamya pun memutar kemudi mobilnya mengikuti arahan google map, "Kau masih tidak ingin berbicara kepadaku? katakan, apa yang harus Aku lakukan agar Kau memaafkanku dan tak lagi marah kepadaku, Love."
Cindekia memalingkan wajahnya melihat keluar jendela di sebelahnya, "Saya tidak marah kepada Bapak, Saya hanya takut jika saya membuka mulut, Bapak akan berperilaku kasar kepada Saya."
"Sweetheart..." lirih Gamya.
"Saya sadar, saya belum bisa menjadi istri yang baik untuk Bapak. Saya minta maaf." ucapnya seperti siswa yang habis dihukum berdiri dua jam dengan satu kaki. Tidak berdaya.
__ADS_1
Cindekia menoleh ke arah Gamya yang masih mengemudi di tengah kemacetan jalan raya. Tidak berbicara semalaman sebenarnya membuatnya merindukan suaminya, tetapi Ia juga ingin menunjukkan kalau dirinya bukan karung beras.
"Sayang, Kau istri yang sempurna untukku, jangan mengatakan dirimu adalah karung beras." Gamya memijak pedal rem, karena mobil di depannya berhenti, karena mobil di depan, depannya lagi juga berhenti. Macet.
Waktu yang pas bagi Gamya untuk melihat ke arah Cindekia yang juga tengah menatapnya, Ia mengecup singkat bibir istrinya. Ia senang istrinya sudah kembali berbicara kepadanya,
Cindekia terdiam dan membulatkan matanya, Ia bingung harus memperlihatkan wajah senang atau marah karena kecupan suaminya. "Pak, jalan Pak! Sudah gerak tuh mobil di depan," pekiknya memperlihatkan wajah panik.
Gamya tersenyum kembali mengemudikan mobilnya. Ia tidak ahli dalam membujuk wanita, Ia hanya beruntung memiliki istrinya yang begitu mudah melupakan kemarahannya.
"Suamiku sayang," tawa Gamya,
"Aku suka Kau memanggilku seperti itu saat marah. Apakah Kau tahu Babe, Aku mengartikan panggilan itu sebagai sinyal Kau menginginkanku." lanjutnya di sela tawanya.
"Ah itu...," Telinga Cindekia memerah panas karena Gamya mengingatkannya tentang kejadian pekara pertama mereka. Ia memanggil Gamya dengan sebutan itu.
"Maaf...," Gamya menjedah kalimatnya. Kata maaf yang terlalu sering diucapkan terdengar seperti tidak bersungguh-sungguh.
"Karena Aku tidak nyaman dengan keberadaan orang tuamu. Karenanya, tanpa membicarakannya denganmu Aku mengantar kedua orangtuamu ke hotel. Tetapi Aku sudah memikirkannya, Aku akan berusaha untuk menjadi menantu yang baik," ungkap Gamya dengan pandangan yang fokus melihat jalan.
Sebenarnya kedua orang tua Cindekia tidak bisa percaya begitu saja melepaskan putrinya kepada pria asing yang baru saja mereka kenal. Bagaimana jika putrinya hilang tiba-tiba setelah menikah?
Dia berkata jujur dengan mudahnya? tanya Cindekia dalam hati.
"Mendorong Saya, lalu mencium saya seperti semalam juga hasil dari pemikiran bapak? Saya pikir Bapak melakukannya karena marah."
"Pikiranmu benar. Aku memang marah kepadamu, Sweetie."
"Bapak marah karena Saya pergi membawa mobil bapak? takut rusak, begitu?" tebak Cindekia.
Gamya tertawa tidak terima dengan tuduhan istrinya. Bagaimana Cindekia berpikir dirinya marah hanya karena mobil. Sekalipun Cindekia membakar rumah dan semua mobilnya, Ia tidak akan marah. Paling mungkin mereka akan tinggal di rumah kontrakkan.
"Tidak, Aku marah karena cem.. mas." Gamya meralat alasan yang belum sempat terlontar. Cemburu melihatmu tersenyum kepada pria lain. Senyummu hanya untukku.
"Aku cemas karena Kau marah padaku." katanya menerangkan.
Lah istri marah, dia jadi ikutan marah karena cemas, maksudnya gimana ini?
Cindekia menatap bosan suaminya, "Kalau Saya marah, bujuknya jangan begitu dong. Saya sampai terkejut batin, tiba- tiba Bapak bersikap kasar seperti itu."
"Sayang, Aku sudah memikirkannya...," Gamya kembali menjeda kalimatnya.
Membuat si pendengar tidak sabar.
__ADS_1
"Apa, Pak?"
Apa lagi yang dipikirkannya? semoga hal baik. batin Cindekia