Boss Gila

Boss Gila
BAB 32 Yah gagal lihat Bola masuk gawang


__ADS_3

"Sekertaris bapak memutuskan untuk resign karena hal itu, rumor seperti itu sangat tidak baik untuk Bapak dan saya."


Gamya hanya tertawa kecil mendengar penuturan Cindekia, baginya rumor seperti itu tidak akan mempengaruhi kualitas kinerjanya.


"Itu aku, yang memecat mereka karena tidak bisa bekerja di bawah tekanan. Dan hanya kau yang kuterima kembali setelah dipecat."


"Ooh...begitu...," Cindekia mencemooh jawaban bosnya. Ia masih belum percaya.


Gamya memijak pedal rem, karena mereka telah sampai di depan kontrakan Cindekia.


"Nona Kia, dengarkan aku...," Gamya menghentikan Cindekia yang hendak membuka pintu.


Ini adalah kesalahannya yang sebelumnya suka berkelakar dengan Cindekia yang ternyata menganggap serius semua yang dikatakannya. Jadilah dirinya adalah pria hidung belang terpatri di pikiran Cindekia.


Gamya menarik napas dalam, "lupakan semua yang telah aku katakan, ok? aku hanya bercanda, bercanda!" katanya kemudian memberi tekanan pada kata terakhirnya.


Gamya mengamati perubahan ekspresi Cindekia. Apa dia akan percaya?


"Karena sekarang kau adalah pacarku, maka_"


"Pacar bohongan?" potong Cindekia.

__ADS_1


"Iya bohongan, aku pikir...perlu untuk mengatakan hal pribadi kepadamu walaupun kau pacar bohongan," Gamya menerima dengan lapang dada koreksian Cindekia. "Aku tidak pernah melakukan hal gila seperti itu, Aku masih perjaka," katanya kemudian.


"Oo...," Cindekia membulatkan mulutnya, terlihat Ia seperti meragukan pengakuan bosnya.


"Ada apa dengan 'O' mu itu? Kau tidak percaya kepadaku?"


"Tidak, bukan begitu. Bapak jadi terlihat ganteng di mata saya."


Gamya terlihat tidak peduli dengan pujian Cindekia, "Setelah memujiku, sebagai pacar bohongan kau seharusnya tidak memanggilku seperti itu," katanya dengan wajah datarnya, meskipun hatinya sangat senang mendengar pujian Cindekia.


"Benar juga...," Cindekia berpikir sejenak, sebagai pasangan bukankah seharusnya memiliki panggilan. Ia bahkan memanggil 'bapak' di depan Ibunya Gamya. "Sob?"


"Sobat," Cindekia membuka pintu mobil, bergegas keluar dan mengambil belanjaannya di bangku belakang.


"Terima Kasih belanjaannya Sob," ucap gadis itu kepada Gamya. Ia melangkah masuk dengan senang mengangkut barang belanjaannya.


Sementara Gamya berwajah masam mendengar Cindekia memanggilnya sobat.


***


Ganeeta tengah duduk di sofa ruang tamu sembari menonton acara televisi begitu Gamya masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"Apa kau bersenang-senang dengan pacarmu?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi saat Gamya telah tiba di ruang tamu.


Gamya tersenyum mengejek, "tentu, Kami saling mencintai."


"Če se imata dva človeka rada, ne more biti srečnega konca," gumam Ganeeta, Ia berpikir Gamya tidak bisa berbicara bahasa negaranya.


(*jika dua orang saling mencintai, tidak ada akhir yang bahagia)


Gamya merebut remote tv dan duduk di sebelah Ganeeta. Kualifikasi Piala Asia sedang berlangsung saat ini, tanpa ragu Ia menukar saluran tv yang tengah ditonton Ganeeta.


"Aku hanya peduli dengan waktu sekarang," ucapnya membalas gumanan Ganeeta, Ia sedikit mengerti apa yang dikatakan saudarinya meskipun tidak bisa berbahasa Slovene.


Senyum Gamya mengembang melihat layar televisi. Berbeda dengan Ganeeta yang tidak mengerti bola, Ia hanya bisa memasang muka masam melihat saluran televisi telah dimonopoli oleh Gamya.


Tampak di layar televisi Indonesia melawan Kuwait dengan skor 0-1. Wajah Gamya menegang menyaksikan salah satu pemain Indonesia tengah bersiap melakukan tendangan pinalti.


Blzzt..


Tiba-tiba layar televisi berubah warna menjadi hitam pekat, Ganeeta mencabut aliran listrik televisi.


"Ha ha ha," Ia tertawa bahagia menyaksikan ekspresi kesal Gamya dan segera berlari masuk ke kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2